Ratna's posts with tag: mencandu sekolah

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag mencandu sekolah
Blog EntryIs It A Second Chance?Jul 31, '08 7:31 AM
for everyone
Baruuuuuuu saja aku nulis ini, eh, pas cek e-mail ada forward-an e-mail dari Trimus Kontjret Djambrong tentang kesempatan PhD di Leiden tentang.. apalagi kalau bukan EXOPLANET!!!
------------------------------------------------------------------------------------
PhD position at Leiden Observatory on extrasolar planets
--------------------------------------------------------------

A 4-year PhD position is available at Leiden Observatory in the
field of extrasolar planets. The student will search for and
characterise planets transiting cool red dwarf stars. Planet
transits have proven to give unique and extraordinary insights
into the physical and atmospheric properties of hot, gaseous
giant planets. Transits of much smaller, potentially rocky
planets (such as the Earth) can be studied towards red dwarf
stars. This is possible due to the significantly smaller size of
these cool dwarfs compared to stars of solar type. Several
planets have recently been discovered around red dwarfs,
including a Super-Earth (possibly within the star's habitable
zone), and one transiting hot Neptune.  Now is the time to
specifically target red dwarfs for transits, and utilise the
full potential of the transit method. The student will mainly
be working on analysis and follow-up of the WFCAM M-dwarf
Transit Survey, which has been awarded 200 nights of observing
time on the 4m UKIRT telescope to our international team.

For this project we seek excellent and enthusiastic candidates,
who are highly interested in observational astronomy.The
astronomy department at Leiden is internationally oriented and
hosts about 40 graduate students of several nationalities.
Further information about the department can be found at
www.strw.leidenuniv.nl.

Applicants should contact Dr. Snellen at the address below
for further information. Applicants should have, or soon obtain,
a masters degree in astronomy or in physics with a strong
astronomy component. Complete applications, including curriculum
vitae (with a list of courses and grades), two letters of
reference, and a letter explaining your interest
in the project, should be sent by the 8st of September 2008 to:

Dr. Ignas Snellen,
Sterrewacht Leiden, PO Box 9512, 2300 RA Leiden, The Netherlands
email: snellen@strw.leidenuniv.nl;
tel: +31 71 527 5838;
fax: +31 71 527 5819
http://www.strw.leidenuniv.nl/~snellen
----------------------------------------------------------------------------------------------------

Tahun lalu, juga ada kesempatan yang sama. Sama-sama dari Dr. Snellen dan sama-sama tentang transit exoplanet. Hanya saja waktu itu untuk proyek yang berbeda. Since I've been longing for such chance I applied for the position. And.. tet tot! I was failed. Then another opportunity came from IMPRS for Astronomy and Cosmic Astrophysics at the University of Heidelberg. I was failed, too. Thinking of my dreams, I can't help thinking that it is a second chance - ups, even the third one - given to me. Don't you think so?

EventSuper VOSS 2009Jul 8, '08 2:21 AM
for everyone
Start:     Jun 21, '09
End:     Jun 26, '09
Location:     Instituto il Carmelo, Sassone, Rome, Italy
Super VOSS is an international symposium with the participation of alumni and faculty of the Vatican Observatory Summer Schools (VOSS). This Super VOSS will be the third after the same event held in 1998 and 2002.
~~~~~
Sebagai alumni VOSS pengen deh hadir di Super VOSS (ke Italia lagi gitu loh! dan pastinya ketemu astronom-astronom keren), tapi... perhaps next Super VOSS deh :) Amien.

Blog EntrySenangnya....Jan 23, '08 3:37 AM
for everyone
Lagi asik-asiknya nangkring di labkom S1 dan berbalas e-mail, seseorang mencolek bahu saya dari belakang. Otomatis saya menoleh. Ouh, ternyata Komet (nama sebenarnya dengan ejaan yang salah :p), adik kelas di astronomi. Semester ini dia menjadi mahasiswa bimbingan Mr T, pembimbing tesis saya dulu.

Komet (K): Disuruh Mr T nanya ke Mbak Ratna soal analisis kurva cahaya.
Saya (S) : Wuits, hmm... sebenarnya belum pernah nyoba sih, tapi aku punya paper tentang itu.
K : Ada code-nya?
S : Ada... ada... Btw, mau ngamat transit exoplanet?
K : Iya.
S : Wah, mau dong ikutan....
K : Kata Mr T sekitar Juni-Juli
S : Asiiik... Kalau mau, aku punya paper-paper tentang transit. Lengkap deh pokoknya. Soalnya dulu pas kuliah topik observasi aku ngamat transit. Ntar aku bawain. Udah ada petunjuk-petunjuk cara ngamatnya juga. Bla bla bla... (pokoknya antusias banget) ... Dulu aku pengen tesisku ngamat transit aja soalnya kerjaan waktu topik observasi belum beres. Data yang didapat masih sedikit.

Duh, leganya. Ada orang yang mau meneruskan pekerjaan saya untuk Tugas Akhir. Saya sempat menyangka bahwa saya generasi terakhir (di program studi astronomi) yang menggeluti dunia exoplanet karena saya lihat tak satupun yang mengerjakan Tugas Akhir mengenai topik yang perkembangannya pesat ini. Sempet ada satu mahasiswi yang berminat dengan exoplanet untuk Tugas Akhirnya. Namun, di tengah jalan ia beralih menekuni asteroid. Dan sejak saat itu belum ada lagi yang naga-naganya akan bekerja di bidang ini.

Dengan hadirnya Komet (ssssaaaaaaaaaaaaaaah! swit2!), sangkaan saya salah. Senangnya.... Sepertinya apa yang sudah saya kerjakan nggak sia-sia *terharu*.
~~~~~
Catatan: Gambar diambil dari empowerwomannow.

EventWisudaOct 3, '07 3:51 AM
for everyone
Start:     Oct 27, '07 08:00a
Location:     Sasana Budaya Ganesha, ITB
Heheh, pakai toga berlengan setengah (dulu kan kutung dan isis). Nggak yakin bakal ikut sih. Hoream. Tapi, udah bilang ke Bu Hesti sih agar Johan diijinkan menjadi PW-ku (PW = pendamping wisuda) hehehehehehehehehehe :D

Blog EntrySetelah 3 Hari Perjuangan dan 1 Jam PertempuranSep 27, '07 4:08 AM
for everyone
Setelah mati-matian menyelesaikan draft tesis selama 3 malam, perjuangan belum berhenti. Ada sesuatu yang harus dikerjakan lagi dengan tabel-tabel dan grafik-grafik. Analisis lagi. Ditemani seekor kucing pemalas yang haus dibelai (dasar kucing sombong tapi manja!).

Belum lagi berjuang melawan kemalasan. Baru pertama kali ini menghadapi deadline dengan kemalasan. Opo tumon? Saya sendiri juga heran. Waktu terus melaju dan tahu-tahu hari Rabu menjelang. Hiyeeeeeeee, sehari menjelang sidang. Deg-degan. Ketika latihan sidang banyak yang terlupakan. Siapa suruh nggak belajar kan?

Kamis, jam 9. Ruang seminar 2 masih lengang. Hanya segelintir orang. Beberapa yang telah menghadiri sidang pagi tadi jam 8. 

Dengan slide berlatar belakang hijau, pekerjaan saya paparkan. Argumen demi argumen. Bagai memutar pita rekaman. Pun masih belepotan. Satu jam berlalu kemudian. Juri keluar ruangan. Tak berapa lama mereka datang. Boleh lulus saya dinyatakan. Lho, sebenarnya tidak boleh kah? :p Ya sudahlah, pokoknya sudah selesai. Jenjang S2 sudah terlampaui. Lalu entah apalagi nanti. Dengan demikian, saya sudah bisa nonton dengan khusyuk Hanazakari no Kimitachi e malam nanti <LOL>
~~~~~
Kenapa gambarnya Mark Twain? Ya biarin :p

EventSidang TesisSep 21, '07 12:41 AM
for everyone
Start:     Sep 27, '07 09:00a
Location:     Ruang Seminar 2 Prodi Astronomi ITB
Sudah jelas.

Judul Tesis : Habitable Zone di Sekitar Bintang yang Dideteksi Memiliki Planet
Pembimbing I : Dr. Taufiq Hidayat
Pembimbing II : Dr. Budi Dermawan
Penguji I : Dr. Iratius Radiman
Penguji I I: Dr. Suhardja D. Wiramihardja

EventHari Terakhir Mengumpulkan Draft TesisSep 12, '07 12:15 AM
for everyone
Start:     Sep 17, '07 3:00p
Location:     TU Prodi Astronomi
Gyabooo!

Nulis tesis sekarang wajib pake LaTex euy. Aku belum mulai pula. Masih di MS Word. Mukiiiii.... Yah, demi lah... demi bisa ikut wisuda Oktober 2007... Ganbatte!

Blog EntrySenangnya Dapat Hadiah dari Didier QuelozJul 5, '07 9:07 AM
for everyone
Besok hari terakhir sekolah dan Sabtu siang saya terbang pulang ke Indonesia. Ihik. Sedihnya mulai terasa. Ku tak rela, tak rela... ini berakhir. Kenapa justru di saat mulai terbiasa - terbiasa dengan makanan, terbiasa dengan bahasa, terbiasa gembira dan stres bersama teman-teman - kok malah saatnya pulang tiba.

Tadi ngobrol sama Dante. Alaaah, ngobrol. Dianya yang nanya atau cerita. Aku kan pendiam dan pemalu cenderung autis, jadi cuma jawab pertanyaan dia atau dengerin ceritanya aja :p Dante bilang dulu waktu dia jadi murid VOSS, setelah sekolah selesai, dia dan temannya dari India jalan-jalan sekeliling Italia. Tanpa uang. Ke Venesia pun tanpa menginap. Duh, kenapa saya dulu iya-iya aja dengan jadwal penerbangan yang mepet begitu. Huhuhuhu. Ah, tapi kalau tinggal lebih lama pasti lebih berat lagi untuk berpisah. Ya tak, ya tak? *berusaha memanipulasi penyesalan*

Well, anyway, hari ini tetap senang dong. Bisa kuliah pagi tanpa ketiduran di kelas. Horeee! Morning lecture I masih diisi oleh Didier Queloz. Di menit 20 akhir dia memberi kuis. Beneran kuis loh: ada pertanyaan dan hadiah untuk yang bisa jawab. Secara acak dia menunjuk siapa saja murid yang "beruntung" itu. Biar ketauan siapa yang ketiduran di kelas dan melewatkan pelajaran ceunah. Hahahaha. Mampus gue! Saya kan suka ketiduran di kelas. Dodol banget memang. Justru di saat yang memberi kuliah itu idola saya, kok saya malah ketiduran. Kepagian sih kuliahnya.... *ngeles* Lho, bener, soalnya morning lecture II saya jarang ngantuk. Apalagi evening lecture. Mata terbuka lebaaaaaar hekhekhek. Jam biologisnya berubah nih kayaknya. Pernah ketauan juga sama idola. Pas break kuliah, saya sandaran ke kursi di depan saya. Rasanya capek banget. Trus ditanya sama idola, "Are you tired?". "Pretty," jawab saya dengan suara lemah. Tau-tau teman di sebelah saya ke-GR-an ditanya nyeletuk, "I stayed late until 4, but I'm not tired now." Hah! Betapa kontrasnya dengan saya. Jadi nggak enak hati....

Kembali ke kuis. Dalam hati kecil saya juga pengen dong bisa jawab pertanyaan. Dapat hadiah dari idola siapa sih yang nggak seneng. Tapi, pertanyaan pertama yang diterima Michele sangat teknis sekali dan saya agak-agak lupa mengenai hal itu. Grogi deh. Pertanyaan ke-2 hingga ke-4 gampang sebenarnya tapi bagaimana menjelaskannya ya. Kalau grogi bahasa Inggris saya jadi kacau. Akhirnya tinggal satu pertanyaan terakhir. Idola berkeliling mencari dan ,"a-ha! kamu sepertinya ingin menyembunyikan diri." Hah! Gue! No! Maksud saya, saya tidak bermaksud bersembunyi. Cuma melingkupi tangan saya yang kedinginan karena AC dengan sweater. Ya suds. Tidak ada gunanya mengelak tuduhan. Toh saya harus menjawab pertanyaan yang diajukan. Pertanyaannya adalah kenapa susah ngamat transit planet Neptunian dari Bumi dan bintang seperti apa yang sebaiknya kita amati untuk melihat transit tadi. Alhamdulillah, nggak susah-susah amat sih. Kata dia, "jadi kamu menangkap pelajaran dengan sempurna." Hihihhihi, ah, Didier, jadi pengen malu... kalau nggak bisa jawab lebih malu lagi soalnya kan riset saya kan nggak jauh-jauh dari situ... Dan, horeee! Dapat hadiah deh! Akhir yang sempurna. Bukankah begitu? ;)

Pas coffee break Didier dan Dante ngobrol. Salah satunya membahas kuis tadi. Kata Didier it's good to summary the lecture.... I think they were sleepy and tired tapi ternyata tetap siaga. Hahahaha. Ah, jadi malu....


Blog EntryPerlukah Kita Belajar di Luar Negeri?Apr 27, '07 3:08 AM
for everyone

Sebuah pertanyaan terlontar di kelas Filsafat Sains: perlukah kita belajar di luar negeri? Dan diskusi berkembang dari situ. Itu cerita rekan saya. Saya nggak ikut kuliahnya, jadi saya tuangkan di sini saja jawaban saya hehehe. Perlu – tepatnya, saya pengen belajar di luar negeri hehehe.

Pertama, satu hal yang tidak kita dapatkan kalau belajar di negeri sendiri adalah merasakan budaya lain, budaya yang berbeda dari negeri tempat seumur hidup dibesarkan. Ya budaya belajar, ya budaya masyarakat setempat. Ini satu kesempatan untuk memperluas persepsi tentang manusia-manusia dan interaksinya, melahirkan satu pemahaman akan tepa selira, menghargai perbedaan, dst. tidak menjadi katak dalam tempurung.

Kedua, negara tertentu menguasai bidang keilmuan tertentu. Misalnya, yang menyangkut disiplin ilmu yang saya tekuni: dalam penguasaan ilmu keplanetan Amerika nomor satu. Di Eropa Perancis merajai dalam bidang yang sama. Nah, kalau mau serius mendalami suatu ilmu kan sudah di jalan yang benar kalau langsung berguru pada ahlinya. Bukan begitu bukan? Sebagai astronomer-wannabe, akses ke teleskop-teleskop besar dunia dan super komputer masih menjadi impian saya. Nah, tentunya harapan saya kalau bisa belajar di luar negeri, tentunya bukan sembarang luar negeri, melainkan negeri yang mumpuni di bidang yang saya tekuni tadi, bisa mengakses mereka. Alam semesta dalam genggaman rasanya *halah*

Ketiga, banyak scholarship/fellowship yang ditawarkan oleh negara-negara maju untuk negara-negara berkembang. Jadi, kenapa nggak dicoba.

Keempat, yang paling kelihatan deh: sekalian bisa jalan-jalan ke luar negeri. Bagi orang yang cita-citanya keliling dunia seperti saya itu menjadi salah satu jalan hehehe. Enak kan, jalan-jalan dibayari pula (kalau dapat beasiswa untuk sekolah...) hehehehe.

~~~~~
Catatan:
Gambar menampilkan gedung Fakultas Sains University of Geneva (http://www.unige.ch/sciences/), salah satu universitas impian saya. Baru aja sih. Soalnya yang punya Geneva Observatory, afiliasi Michel Mayor dan Didier Queloz hehehe. Teuteup. Lama-lama terobsesi neh :p


Blog EntryBimbinganMar 27, '07 3:29 AM
for everyone
Akhirnya terlewati juga bimbingan (mental dan intelektual) yang dijadwalkan hari ini. Sebenarnya jadwal kuliah pilihan, tapi berhubung antara materi kuliah dan tesis bersinggungan, sejauh ini jam kuliah dimanfaatkan juga untuk bimbingan. Saya sih nggak masalah. Praktis saya nggak perlu mengalokasikan waktu untuk bimbingan dan kuliah sendiri-sendiri. Ibaratnya shampoo 2 in 1 lah, shampoo sekaligus conditioner *halah*

Bimbingan yang... oh, saya tidak tahu bagaimana mengekspresikannya. Begini, semalam, sekitar jam 7, saya baru menyelesaikan laporan hasil uji kesensitifan StarGen. Itu juga dengan tergesa karena saya benar-benar tidak ingin besok menghadap pembimbing dengan tangan hampa. Sementara itu, hari sudah lewat senja. Lab akan ditutup segera. Sebenarnya agak-agak menyeramkan juga sih malam-malam sendirian di lab hehe. Sepi. Lorong gedung program studi juga senyap. Dinding yang berwarna gelap membuat perasaan seperti terperangkap. Pencahayaan di sana, entah bagaimana, membuat ujung seberang lorong tampak gelap tak berujung. Oh, lebih baik saya berhenti mendramatisasi keadaan hehe.

Hmm, running program nggak ada masalah. Paling lama menunggu sampai run selesai 5 menit. Segitu lama karena keterbatasan memori komputer jua :( Yang lebih krusial adalah bagaimana kita - uhm, saya deng- bisa mengekstrak informasi dari hasil-hasil tesebut. Di sini nih tantangannya. Berjam-jam memelototi hasil, membolak-balik data keluaran. Malahan sebelumnya saya menghabiskan Sabtu malam dengan memplot spacing objek-objek yang terbentuk (Duh, harus bisa bikin plot yang elegan dan nggak time-consuming nih!). Saya bekerja dengan perasaan gamang. Pertanyan semacam apakah yang saya kerjakan ini sudah di rel yang benar, apakah akan berguna, menghantui saya.

Nah, sesungguhnya saya tidak percaya diri dengan laporan yang saya susun ini. Saya tidak yakin apakah analisa saya mencukupi. Saya juga tidak memasukkan perkiraan atau ekspektasi yang mungkin terjadi. Saya hanya menulis poin-poin yang bisa saya lihat, hal-hal yang sederhana. Istilahnya: begitu mencolok mata. Mata saya, mungkin berbeda di mata orang lain hehe. Spacing saya tampilkan tanpa penjelasan detil. Mungkin sedikit bisa lebih banyak bicara pada profil statistik planet yang terbentuk di dalam zona layak-huni. When I say "sedikit", I mean it :) Begitu selesai, saya kirim laporan saya via e-mail dengan harapan pagi sebelum bimbingan pembimbing saya sudah membaca laporan saya sehingga saya tidak perlu menjelaskan secara lisan. Sedikit curang memang.

Sejak pagi perasaan sudah tidak nyaman. Seperti ada sesuatu yang bergeliat di pusat jantung. Tak tahu apa. Pergilah saya lebih awal dari jam yang sudah disepakati untuk kuliah/bimbingan. Harapannya saya bisa menambah sesuatu untuk dilaporkan. Tapi, o la la, pas cek e-mail ternyata jadwal bimbingan dimajukan satu jam!!! Makin deg-degan deh. Ah, pikir saya, makin cepat makin baik deh. Daaaan, it was not bad. Sama sekali nggak buruk. Pembimbing cukup terkesan dan saya diberi petunjuk untuk melangkah ke tahap selanjutnya. Saya juga ditulari wawasan mengenai detail yang bisa dikerjakan lebih lanjut. Tentang meninjau ulang definisi, tentang atmosfer planet, tentang objek-objek di Sabuk Kuiper.... Pekerjaan yang besar, katanya.

Wuaaah, rasanya beban di pundak lepas begitu saja. Lega. Meskipun pekerjaan berikutnya menunggu, demi melihat apa yang tampaknya sia-sia, nggak berarti di mata sendiri, malah dihargai orang lain membuat saya bersemangat lagi. Saya belajar:

whenever you don't know how or what to do just do what the simplest thing(s) you can do, even when you feel that it will be fruitless merely.

Akhirnya toh ada sesuatu yang bisa diambil dari situ untuk kemudian dikembangkan. Itu kan yang namanya riset (dan juga belajar)?

Blog EntryLabkom, March 26, 3:50 PMMar 27, '07 12:01 AM
for everyone
While trying to extract information from the results of StarGen runs - aimed to check the code's sensitivity - I end up with this quote:

susahnya mendapatkan planet terestrial yang layak huni... ibarat mencari sebatang jarum dalam segunung jerami.

I put it on my YM status hehe <--- siapa yang nanya???


Dari 25 kali run Stargen, saya hanya menemukan 2 sistem keplanetan yang punya planet serupa Bumi. Itu juga di luar zona layak huni*, jauh dari bintang yang diedarinya. Padahal saya men-set bintangnya sama persis kayak Matahari (massa dan banyaknya energi yang dipancarkan per detik ke segala arah). Bhuh, beneran deh, Tuhan nggak ada di samping untuk ditanya. Jadi, bagaimana Bumi ini bisa ada di tempat yang sangat nyaman, tidak terlalu panas seperti Venus, tapi tidak juga terlalu dingin seperti Mars? Sedang-sedang saja kata Vety Vera. Atau Goldilocks** Phenomenon/Principle bahasa kerennya.

Gyaaaa, besok bimbingan, besok bimbingan, besok bimbingan... *trembling*

(Labkom, March 26, 3:50 PM)
~~~~~
Catatan:
Gambar menunjukkan hasil run ke-13. Berturut-turut adalah tipe planet Venusian, Venusian, Jovian, Venusian, Jovian, Terrestrial, Subjovian, Jovian, Subjovian, Rock, Rock, Rock.

* zona di sekitar bintang yang memungkinkan planet di dalamnya mengandung air dalam fasa cair pada permukaannya.
** istilah diadopsi dari kisah Goldilocks and the Three Bears.

Blog EntryRun StarGen* RunMar 22, '07 2:19 AM
for everyone
di antara yang acak,
di antara yang berserak,
bisakah dihimpun harmoni
untuk sebuah konklusi

~~~~~

Catatan:
* ada hubungannya dengan sesuatu di sini hehe

Photo courtesy of... hmm... kayaknya saya motret sendiri (setelah ditata sedemikian rupa) tapi pake kamera palm-nya Mas Sungging atas permintaan yang bersangkutan.

Blog EntryBimbinganFeb 20, '07 10:52 PM
for everyone
Seorang mahasiswa tingkat akhir menghadiri kuliah yang disampaikan oleh dosen yang sekaligus menjadi dosen pembimbing tugas akhirnya. (Malangnya) Mahasiswa yang mengambil mata kuliah itu hanya dia dan saat itu dia sedang mengalami "krisis tugas akhir" (penyakit malas, denial, dan lain sebagainya). Sebelum kuliah dimulai....

Dosen : Tugas akhirnya sudah sampai mana? [senyum-senyum]

Mahasiswa : [Mirroring, senyum-senyum juga untuk menutupi grogi] Eeee.... masih mempelajari alur code.... [padahal bego plus males aja, berkali-kali baca tapi nggak ngerti juga]

Dosen : Hmm, apa sudah di-break down mana yang mempengaruhi bagian ABCD, kalau yang EFGH sih nggak perlu dipikirin.

Mahasiswa : [Gluk! Dalam hati: kepikiran sih, tapi yaa itu tadi bego plus males] Saya masih bingung kalau definisi yang diajukan XYZ dimasukkan [curhat]. Ada paper baru yang definisinya lebih straight [biar kelihatan ada effort].

Dosen : [Menerima paper yang diajukan mahasiswa] Bedanya dengan XYZ apa?

Mahasiswa : [Berdoa dalam hati, menggali memori] Eeee, kalau XYZ itu model banget, kalau paper yang baru ini memanfaatkan a*****ers****ar properties.

Dosen : [Membuka-buka halaman paper] Oooh, lebih pada o****al-nya ya?

Mahasiswa : [Lega] Iya, Pak.

Dosen : E******ment-nya bagaimana?

Mahasiswa : [Gubrag! Lupa!] O, iya, ya.... Kalau dari XYZ.... eeee, karena XYZ ini model a*****er banget, terus terang saja saya susah memahami isi papernya [curhat sekaligus menghindar].

Dosen : Nah, ini ada n**t dan **xt maksudnya apa?

Mahasiswa : [Dalam hati: Thank God, tadi sebelum kuliah sudah baca bagian itu, tapi... gimana ya?] Eee, kan di sini ada istilah c*****al d*****ce, ini untuk inner, yang ini untuk outer. Kalau di paper lain sih langsung diambil nilainya sama dengan 3. Ada kelemahannya sih, Pak, tapi saya lupa apa [biar kelihatan ada effort lagi].

Dosen : Ini disebutkan program m*****y. Bisa diakses nggak?

Mahasiswa : [Dalam hati: Thank God, gue sempet baca bagian akhir paper yang nyebutin link-nya!] Bisa sih, Pak. Saya sudah download papernya dan ada disebut-sebut link untuk mengaksesnya. Tapi belum sempat saya coba. Papernya juga belum saya baca sih [maunya terlihat ada effort tapi malah bunuh diri].

Dosen : [Tertawa] Nanti kamu coba ya. Kumpulin saja source-source semacam itu. Siapa tahu berguna.

Mahasiswa : Iya, Pak.

Dosen : [Membaca-baca lagi paper tadi] Wah, bagus nih papernya. Boleh juga.

Mahasiswa : [Lega karena akhirnya effort-nya kelihatan tidak sia-sia]

Dosen : Hmm, begini saja, yaah, seminggu ini deh, saya baca-baca lagi paper XYZ ini. Dulu saya belum sempat baca benar-benar sih.

Mahasiswa : [Superlega, rasanya beban memahami isi XYZ terangkat]

Dosen : .... ada yang suka download paper macam-macam. Yaaah, kalau saya sih nggak apa-apa.

Mahasiswa : [Gluk! Dalam hati: kena deeeh... download paper sih lumayan, bacanya entah kapan]

Dosen : Kalau kerangka tugas akhirnya bagaimana?

Mahasiswa : [Pura-pura amnesia] Kerangka? Yang saya ajukan pada presentasi sebelumnya?

Dosen : [Beranjak ke papan tulis dan mulai menulis kerangka yang dibayangkan sambil menjelaskan di sana-sini]

Mahasiswa : [Ultralega karena cecaran pertanyaan berakhir]
~~~~~
Have you been there? I have! Dan berakhir dengan saya di-push secara halus untuk segera menyelesaikan tugas akhir saya dengan kata-kata "kalau perlu presentasi, bilang saja" dan sebelumnya saya diminta menulis tiga bab awal *keluh*.

Blog EntryBerita yang Menggembirakan ItuFeb 5, '07 11:41 PM
for everyone
My application was selected. Alhamdulillah. Aplikasi untuk menjadi peserta Vatican Observatory Summer School yang akan dimulai bukan Juni nanti di Castel Gandolfo, Roma, Italia. E-mail pemberitahuannya tiba hari Jumat lalu. Jangan tanya bagaimana rasanya. Senaaaaaang sekali, sampai-sampai ingin melompat setinggi-tingginya dan menari-nari. Satu langkah lebih dekat menuju impian bisa keliling dunia haha.


Intensitas kegembiraan sudah menurun sekarang.
Get real! Saya masih punya utang tesis. Saya masih ingin ikut wisuda Juli 2007. Itu artinya sebelum berangkat saya sudah harus menyelesaikan tesis dan sidang. Segila apa mahasiswa S2 seperti saya menyelesaikan tesis dalam waktu kurang dari empat bulan diselingi kuliah pilihan 2 SKS dan mengurus dokumen-dokumen serta mungkin mencari uang saku. Fyuuuh.



Saya mengerti apa yang kita inginkan tak selalu kita dapatkan, apa yang kita dapatkan tak selalu apa yang kita harapkan. Kali ini saya merasa… apa ya… ajaib bukan kata yang tepat, tapi anggaplah begitu. Saya punya teman yang gila bola, terutama Liga Italia, dan bercita-cita pergi ke Italia. Dia malah mendapat beasiswa S2 ke Jepang. Saya, penggila komik Jepang sampai bercita-cita ingin pergi ke Jepang, mendapat kesempatan mengikuti summer school di Italia. Haha. Kami sih saling mendukung saja.


Ouh, saya mulai membayangkan yang aneh-aneh. Saya belum pernah naik pesawat (bahkan untuk penerbangan domestik), belum pernah ke luar negeri, dan nanti saya pergi sendiri ke negara yang bahasanya tidak saya mengerti kecuali grazie –terima kasih. Gimana nanti kalau dikejar-kejar mafia? Haha, norak dan berlebihan deh. Aduuh, nggak sabar menunggu bulan Juni, ketemu Didier Queloz, berkenalan dengan 26 orang dari 21 negara lainnya, daaaan tentu saja naik gondola haha. Ya wes, mohon doa restunya ya.

~~~~~

Gambar di kanan atas itu Castel Gandolfo, diambil dari sini.


Blog EntryGampangnya Daftar Ulang Semester BaruJan 30, '07 4:45 AM
for everyone
Yosh! Semester baru sudah tiba. Perkuliahan akan dimulai tanggal 5 Februari. Sekarang lagi musimnya pendaftaran ulang. Tidak seperti semester-semester sebelumnya, semester ini (dan mungkin seterusnya) pendaftaran ulang mahasiswa dari semua program studi yang ada di ITB dilakukan secara online. Artinya, pengisian rencana studi oleh mahasiswa yang bersangkutan dan persetujuan oleh wali akademik dilakukan tanpa tatap muka, tinggal mengakses aplikasi pendaftaran online. User-ID dan password telah dibagi tanggal 15 Januari yang lalu ke e-mail masing-masing mahasiswa. Sayang, tidak semua mahasiswa menerima e-mail tersebut. Salah nulis alamat e-mail sendiri waktu diminta mengumpulkan alamat e-mail ke Tata Usaha Program Studi? Mosok se? Tulisan tidak terbaca barangkali (tidak bermaksud menyindir mereka yang tulisannya seperti tulisan sakti dokter hehehe). Atau bisa juga si pengirim yang salah tulis. Saya nggak tahu karena user-ID dan password saya terkirim dengan selamat hehehe.

Enak juga pendaftaran ulang model begini.
Pertama, hemat kertas. Yuhuuu, botaknya hutan-hutan semakin parah neh. Pendaftaran ulang model lama (yang masih manual) minimal butuh dua lembar kertas. Satu lembar berupa formulir perwalian (FP) berisi daftar mata kuliah yang akan diambil pada semester yang bersangkutan. Lembar yang ini dibagi dua, untuk arsip dosen wali dan untuk mahasiswa. Lembar yang satunya lagi berupa formulir rencana studi (FRS) berisi mata-mata kuliah yang sama dengan yang ada di FP. Formulir ini nantinya akan dipindai pada saat pendaftaran ulang di Gedung Annex di Jl. Tamansari.
Nah, coba aja hitung satu mahasiswa butuh minimal 2 lembar kertas. Satu angkatan minimal 2000 mahasiswa. Berapa lembar kertas yang dibutuhkan? Berapa batang kayu yang dikorbankan?

Kedua, hemat waktu dan lebih "suka-suka". Sebenarnya ini relatif. Secara keseluruhan sih iya. Dulu, jadwal perwalian biasanya ditentukan oleh dosen yang bersangkutan. Lha, kalau di Prodi Astronomi sih relatif lebih gampang karena dosen hampir selalu bisa ditemui kapan saja. Kalau di Prodi yang dosen banyak mroyeknya? Itu baru perwalian. Pas pendaftaran ulang ngantrinya..... kayak ular. Walaupun sudah dibagi-bagi per beberapa fakultas dalam satu hari teuteup saja paaaaaanjang dan laaaaaaaaama ngantrinya. Belum kalau ternyata salah cetak. Alamaaaak. ABCDEFG deeeh, Aduh Bo Capek Deh Eik, Fusing, Gila! Pernah juga saya salah ngantri karena papan petunjuk antrian nggak jelas *sigh*. Mestinya masuk antrian pengecekan kelengkapan pendaftaran ulang, eeeh dengan PD-nya saya langsung ikut ngantri di bagian penyerahan FRS.
Nah, sekarang, jauh lebih cepat. Dosen wali bisa menyetujui kapan saja selama masih dalam rentang waktu yang sudah ditetapkan oleh ITB (yang berkuasa akan pengaturan pendaftaran ulang meureun). Pas daftar ulang juga nggak pakai ngantri lama. Menyerahkan KSM (Kartu Rencana Studi) semester sebelumnya lalu duduk menunggu namanya dipanggil untuk menandatangi KSM semester sekarang. Nggak nyampai setengah jam kayaknya. Nggak ngitung sih hehehe, konsentrasi dengerin kalau-kalau nama saya dipanggil. Maklum, pikiran teh suka ngilang-ngilang heheh.

Di lain pihak, sistem ini kali ini masih ada kekurangannya. Seperti pepatah tak ada gading yang tak retak gitu deh. Saya nggak tahu sosialisasi metode ini sudah seberapa jauh. Tidak hanya pada mahasiswa tapi juga dosen wali. Mudah-mudahan di semester yang akan datang nggak perlu mahasiswa sampai ngingetin dosen walinya untuk menyetujui rencana studinya. FYI, dosen ini nggak tahu kalau dia harus melakukan itu *sigh*. Kasus seperti ini baru satu sih yang saya tahu. Yang krusial menurut saya adalah: kok nggak bisa diakses dari luar kampus? Teman saya yang pulang ke Tasikmalaya demi istri tercinta *ciciwprikitiw* mengira bakal bisa ngisi FRS dari sana ternyata nggak bisa. Lho, gimana tho? Katanya online, kok online cuma dari kampus. Lha jaman sekarang kan mahasiswa-mahasiswa itu barangkali banyak juga yang bisa mengakses internet dari rumah masing-masing. Atau yang lagi liburan atau pulang kampung ke Yogyakarta atau Sragen atau Mojokerto atau mana aja deh, bisa mampir ke warnet khusus untuk ngisi FRS tanpa memotong jadwal liburan. Masih untung kan ingat kalau perlu daftar ulang.

Ada juga lho dosen yang menyayangkan sistem ini. Beliau kuatir mahasiswa jadi nggak kenal sama dosen walinya. Hmmm?? Tapi, menurut saya, itu sih mahasiswanya yang keterlaluan. Mosok nggak kenal sama dosen wali sendiri. Ah, jadi ingat masa lalu, saat ujian semester kuliah dari jurusan Fisika (dulu namanya memang Jurusan dan bukan Departemen sebelum akhirnya menjadi Program Studi :p). Di kepala lembar jawaban halaman pertama dicetak kolom-kolom untuk isian identitas mahasiswa, tanggal ujian, nama dan kode mata kuliah, nilai, serta nama dosen untuk mata kuliah dan kelas yang bersangkutan. Tiba-tiba ada yang mendesis, "Nama dosennya siapa?" Gubrag deh! Kemana aja, Jeng, Mas?

Ngomong-ngomong, sudah daftar ulang belum? ;)


Blog EntryDan Tuhan Tidak Ada di Samping untuk DitanyaJan 22, '07 9:47 PM
for everyone
Mestinya, di depan komputer ini, saya mulai mempelajari code ACRETE/StarGen untuk kemudian dimodifikasi pada beberapa aspek fisis demi tesis (sasaran jangka pendek dan kongkrit). Kenapa? Karena saya sudah berjanji dalam proposal tesis yang saya ajukan 10 Januari lalu bahwa bulan ini saya akan melakukan studi literatur dan mulai “mengakrabkan diri” dengan model untuk mengestimasi zona layak-huni (apa itu zona layak-huni nanti deh saya tulis terpisah; mudah-mudahan saya sempat jadi nggak JJTJ – Janji-Janji Tinggal Janji). Tapi, aduuuh, kok maleeees…. Hawanya masih hawa libur semester meskipun dengung semester baru mulai terdengar riuhnya dari kegiatan registrasi ulang semester II – 2006/2007.

So, here I am, nulis nggak jelas, memenuhi kuliah non-SKS bikinan saya: blogging hehehe. OK, dalam waktu kira-kira dua minggu terakhir ini ada “catatan pinggir” yang saya buat selama mengikuti pra-sidang hingga sidang tesis madu saya, Vivi (FYI: Tesis Vivi berbicara tentang pemodelan pembentukan sistem keplanetan dengan “engine” yang sama dengan yang akan saya pakai nanti; dia menambahkan aspek dinamika dan mengevaluasi bentangan daerah cikal-bakal sistem).

 
Pertama, saat latihan sidang pertama. Vivi menyampaikan bagaimana dia melakukan ratusan kali running program. Salah seorang dosen pembimbingnya menyela, “…. dan Tuhan tidak ada si samping untuk ditanya ya.” Saat itu sepertinya ada sesuatu yang memukul kepala saya. Benar, yang Vivi (dan saya nanti) kerjakan itu seperti mendekati pemikiran Tuhan sewaktu Dia menciptakan Tata Surya (dan sistem keplanetan lainnya sejumlah lebih dari 160 sepanjang yang ditemukan hingga kini; itu baru yang di Bima Sakti). Dahsyat! Dan kami – saya ding – cuma manusia biasa. Saya bukan Musa yang bisa berdialog langsung dengan Tuhan. Sungguh saya tidak bisa bertanya langsung pada Dia apakah hasil run program ini mendekati pemikiran Dia? Bagaimana kami bisa tahu? Kesesuaian dengan hasil observasi? Mudah-mudahan kami tak salah interpretasi.

Program ini memasukkan ke-random-an pada inputnya. Rasanya seperti bermain dadu. Banyak peluang, banyak kemungkinan. Apakah akan menjadi sistem A, B, atau C, dan seterusnya. Sungguh-sungguh buta, saat memasukkan angka jumlah seed, akan jadi seperti apa sistem yang terbentuk: berapa banyak planet, berapa jauhnya dari bintang yang diedarinya, seberapa besar, apakah ada yang serupa Bumi, dan masih banyak pertanyaan lagi. Sama sekali tidak ada bayangan sebelum running program berhenti dan menampilkan sistem keplanetan. Tapi, sungguh Tuhan tidak bermain dadu kan? Itulah, dan ketika saya, atau kami, me-run program, Tuhan tidak ada di samping kami untuk ditanya (secara harfiah): Tuhan, apakah begini caranya Engkau menipta Tata Surya, apakah acak, tidak bermaksud pada satu tujuan yang sudah pasti, adanya Bumi dan penghuninya karena suatu peluang atau pilihan?

 
Kedua, saat sidang. Saya mencatat pelajaran ekonomi pembentukan sistem keplanetan yang disampaikan sekilas oleh dosen pembimbing utama. Disampaikan (kurang lebih) bahwa dengan modal prosesor masa kini untuk satu unit personal computer dan waktu running maksimal dua hari untuk satu sistem keplanetan maka cost untuk membentuk sistem keplanetan adalah 3 cent dollar per menit. Hmmm…. Saya belum mencoba mengkalkulasi ulang sih. Ada yang bersedia? Hehehe. Saya masih mencari-cari makna “3 cent dollar per menit”.  Menurutmu?


Note:
  1. Istilah JJTJ pertama kali saya dengar dari Maria.
  2. Mengenai istilah "mendekati pemikiran Tuhan" saya kutip dari Mas Aria, rekan satu angkatan di S2. Mas Aria nggak nge-blog sih, jadi weh nggak bisa di-link hehehe.

Blog EntryEuforia Pasca-UASDec 20, '06 5:53 AM
for everyone
Ujian Akhir Semester (UAS) sudah berakhir.... buat saya. Buat yang masih dan akan UAS lagi setelah libur Natal dan Tahun Baru,

Selamat berjuang menghadapi UAS!
You'll survive!

Senang, UAS sudah berakhir. Ya iya, cuma ngambil satu mata kuliah pilihan gitu loh. Semester ini saya cuma kuliah Fisika Benda Kecil Tata Surya. UAS-nya tadi pagi. Sifatnya terbuka (open book). Itu artinya saya boleh mengerjakan di mana saja saya suka (labkom tentunya!) dengan membuka referensi apa saja yang terkait. Bertanya pada rekan tidak termasuk yaaa. Rekan yang mana wong saya satu-satunya peserta kuliah ini :p Hikhik, saya jadi nggak enak bodi nih dengan teman-teman S1 yang mengambil mata kuliah sejenis dengan dosen yang sama. UAS mereka bersifat tertutup (close book). Tenang saja kawan, ingat kata dosen yang bersangkutan:

nilai itu nggak penting, cuma formalitas, yang penting kalian ngerti.

Iya, benar lho. Terasa kan belajarnya? Mengenal hal-hal baru? We got something! Lulus lah, insya Allah.... dengan nilai yang memuaskan. Amiin.

Setiap akhir semester di kampus saya (saya nggak tahu bagaimana di kampus lain) mahasiswa diberi kuesioner mengenai mata kuliah-mata kuliah yang diambil. Salah satu pertanyaan dalam kuesioner adalah: apakah tingkat kehadiran anda tinggi dalam mata kuliah ini. Dengan bangga saya menghitamkan bagian yang menyatakan saya setuju dengan pernyataan ini. Bagaimana tidak, saya nggak pernah membolos. Bagaimana saya nggak pernah membolos, wong saya satu-satunya peserta. Saya rasa akan rumit jadinya kalau bikin alasan membolos dan pasti lebih banyak nggak enak hati kalau sampai nyari-nyari alasan untuk nggak masuk hehe. Jadi, menurut saya, biar terpicu untuk rajin kuliah (minimal rajin datangnya, kalau rajin mengerjakan tugas mah yaa kumaha masing-masing lah hehe) ambillah kuliah-kuliah yang kemungkinan besar kamu satu-satunya mahasiswa. Atau cuma berdua. Kalau di Prodi Astronomi memang banyak peluang untuk kuliah sendiri. Serasa les privat dengan dosen hehe.

Nggak banget ya? Saya terlalu gembira dengan selesainya UAS ini sih. Soal cuma dua. Isinya penjelasan semua, tidak ada perhitungan. Alhamdulillah, di saat-saat terakhir menemukan paper yang konteksnya persis dengan pertanyaan yang diajukan. So, I guess I need no worry about this course. Yeah! Amiin. OK, sekali lagi, selamat UAS, selamat libur, dan selamat UAS lagi hehe. Ups, proposal thesis menanti! Allright, i'll do it, i'll do it, i'll do it....

Blog EntryAkhirnya Saya Memilih TiramisuDec 18, '06 11:06 PM
for everyone




Sudah diputuskan bahwa saya akan menceburkan diri dalam habitable zone (zona layak huni, sementara ini saya terjemahkan demikian) untuk tesis saya. Keputusan ini resmi diambil kemarin, Senin (18/12), saat saya dan Vivi melaporkan diri pada yang berwajib eh pada dosen pembimbing kami: Mr. T. Keputusan yang sama sekali tidak mengejutkan. Bahkan saya sendiri cenderung memilih itu kalau misalnya diajukan pilihan lain. Keputusan lain yang membuat saya senang adalah riset tentang transit tetap boleh dilanjutkan, di luar tesis tentu saja, dan pasca tesis ada "permainan" lain yang sudah menanti: SPH - Smoothed Particle Hydrodinamic. Keputusan yang sama sekali tidak mengecewakan. I love u, Mr T. Hahahaha.

Mau tidak mau saya akan menjalani "karma" programming lagi. Saat ini saya tidak mau memikirkan susahnya, mengingat kemampuan programming saya yang memble, tapi yang saya ingat adalah saya ingin bekerja seoptimal mungkin dengan tesis ini (dan riset-riset selanjutnya, amiiin), lalu ikut wisuda Juli 2007. Doakan saya, teman-teman.... Kok, buru-buru pengen lulus? Sekolah terus itu menyenangkan (ujiannya yang nggak :p), tapi bagaimana lagi, sekolah kan nggak gratis. Beasiswa cuma berlaku untuk 4 semester. That means semester depan (idealnya) adalah semester terakhir program beasiswa saya. Saya nggak mau bayar kuliah sendiri dong, aaaah.

Baiklah, keputusan sudah diambil. Pelaksanaannya? Saya akan berjuang! *dengan gaya a la peserta Takeshi Castle*. Doakan ya teman-teman


P.S: Antara judul dan isi nggak nyambung ya hehehe. Baca postingan saya sebelumnya deh biar nyambung hikhik. Foto-foto diambil dari sini, sini, sini, dan sini.

Blog EntryWhat A Day!Dec 7, '06 2:08 AM
for everyone
Kejadian kemarin…

What a day! BT karena terbangun jam setengah dua pagi dan nggak bisa tidur lagi sampai benar-benar pagi. Sudah begini terus beberapa hari ini. Kepalaku rasanya mau pecah, mataku rasanya enggan membuka. Tapi, kemauanku mengatakan aku harus melakukan ini itu sementara kepala dan mataku, dua “senjata” selain tanganku, untuk mengerjakan ini itu tadi sedang tidak dalam kondisi ready to fight.

  • Membaca paper. Jelas kau butuh mata untuk mengeja kalimat dan butuh kepala untuk memahaminya. Dalam waktu satu jam aku tidak berpindah paragraf!
  • Menulis terjemahan. Kau butuh mata untuk membaca naskah, kepala untuk menafsirkan makna, dan tangan untuk mengetik.
  • Kuliah. Kau butuh mata untuk melihat isi presentasi dosen. Kalau kau memejamkan mata di kelas dalam kondisi tidak sadar (baca: tidur), jelas kau berpeluang kehilangan momen dosen menjelaskan isi kuliahnya. Bagaimana kalau itu bagian yang penting? Kepalaku berusaha mengangkap dan merangkai informasi. Hampir 90 menit kuliah aku masih belum menangkap apa beda antara pernyataan Clark dan Chapman dan aku masih belum bisa mencamkan kaitan warna-usia-cratering-space weathering. Sebenarnya materi kuliah hari ini cukup fundamental. Hik’s.

What a day! I even could not steal a few wink di antara jam makan siang dan jam 5 sore, menunggu pertemuan angkatan dengan Sekretaris Program Studi. Sial, kurasa hari ini benar-benar keterlaluan. Nggak ada progress yang signfikan. Bahkan internet pun begitu lambat mengalir. Setetes, setetes.... dan akhirnya problem loading page!

What a day! Sore menjelang pertemuan aku bercanda dengan teman-teman. Tentang ISYA 2007 (baca: jalan-jalan ke Malaysia) dan VOSS 2007 (baca: jalan-jalan ke Italia). Jalan-jalan ke Italia sebagai hadiah sidang kelulusan lah. Jalan-jalan melulu, tesis belakangan lah. Ditawarin kerja di Malaysia lah karena mereka kekurangan SDM lah. Jadi sedikit serius waktu ada mahasiswa S1 yang bertanya tentang sunspot – bintik Matahari. Lalu, tibalah jam 5. Aku jadi sedikit gelisah setelah tertawa terlalu banyak. Ada apa gerangan? Kemudian tanpa basi-basi dibeberkan apa maksud pertemuan itu. Tentu saja bukan bagi-bagi angpau! Seminar proposal tesis maksimal tanggal 10 januari 2007. JEDER! Kalau ada petir menyambar – saat itu sedang hujan deras di luar – lalu lampu padam dan yang tampak hanyalah seringai Sang Sekretaris Proram Studi dengan kumis baplangnya, suasana pasti akan lebih dramastis lagi. Ya, aku merasa tertampar. Aku merasa disadarkan bahwa aku mahasiswa magister tahun ke-2 dan sekarang saatnya menyusun tesis, bukannya main-main melulu. Ooooh, tiba-tiba saja gambaran indah KL, Pulau Langkawi, Castel Gandolfo, gondola di Venesia buyar. Lunglai aku keluar dari ruang rapat program studi. Oh, Ya Tuhan, aku pernah merasa seperti ini. Dulu. Saat kepercayaan diri nyaris runtuh karena merasa diri paling yang tidak siap, paling ”nggak banget” di antara teman-teman seangkatan. Ugh, padahal mengangankan akhir tahun ini banyak bersenang-senang tanpa memikirkan terlalu berat tentang tesis. Tanggal 16 temanku mengajak jalan-jalan. Tanggal 24 ada gathering ’99 lagi, menyambut rekan yang pulang dari Jepang.... huhuhuhu.... kenapa oh kenapa.... Oh, ya, satu lupa, aku janji nonton bareng pula!

What a day! Di saat seperti ini thesis advisor-ku sedang menjalankan bela negara (baca: mendampingi delegasi Indonesia dalam laga Asia Pasific Astronomical Olympiad) di Rusia. Huhuhuhu… seandainya saja aku juga di sana, bertemu beruang kutub yang imut-imut pun tak mengapa asal bisa bertemu dengan Hyoga dengan debu-debu intannya. Lho, kok jaka sembung, nggak nyambung?! Kepalaku sudah semakin kacau.

Jadi, simpulannya, oh thesis advisor­-ku, cepatlah pulang dan kita bahas tesis-ku ini. Transit extrasolar planet ataukan habitable zone? Rasanya seperti disuruh memilih black forest atau tiramisu, cokelat atau es krim, dua-duanya sama-sama kusuka… huhuhuhu. Oh, Pak, cepatlah pulang…. Oh, tapi aku belum cek data extrasolar planet milik Schneider dan bikin statistiknya, aku belum paham betul code untuk fitting kurva cahaya, aku belum memfasekan ulang kurva cahaya…. Oh, mataku, kepalaku! *Panic mode on*


Start:     Jun 9, '07
End:     Jul 6, '07
Location:     Castel Gandolfo, Rome, Italy
http://clavius.as.arizona.edu/vo/R1024/VOSS2007.html

Event yang paling saya tunggu-tunggu karena berkaitan erat dengan topik studi saya dan hadir Didier Queloz sebagai salah satu pematerinya. Beliau adalah termasuk orang-orang pertama yang menemukan planet ekstrasolar - planet di luar Tata Surya kita. Mudah-mudahan saya diijinkan (diterima) menjadi salah satu peserta :) Hmmm, bisa mampir ke Venesia tidak yaa? Hehehe

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help