Ratna's posts with tag: kisah
Kejadian tiga minggu lalu (ah, nggak usah diceritain ya) serta merta mengingatkanku pada suatu kisah di negeri Kappa yang kubaca dari novel Kappa karya Ryunosuke Akutagawa. Ini cover novelnya. Nggak nemu gambar yang lebih gede :D (sumber: sekarmeta.net) Alkisah, seorang manusia terlempar ke negeri kappa dan telah berhasil menyesuaikan diri dengan kehidupan di negeri kappa yang budayanya terjungkir balik dari apa yang umum ada di dunia manusia. Salah satu kawan dalam pergaulannya adalah kappa direktur pabrik gelas raksasa bernama Gael.
Suatu hari manusia ini sedang berbincang dengan Gael. Gael bertutur padanya tentang Partai Quorax yang baru saja berkuasa. Partai ini bervisi menaikkan kesejahteraan seluruh negeri kappa. Pemimpin Partai Quorax adalah seorang negarawan bernama Loppe. Menurut Gael semua pidato-pidato publik (termasuk yang diserukan Loppe) merupakan kumpulan kebohongan belaka. Anehnya - oh, tapi konsep yang kita pahami memang - semua kappa sadar akan hal itu sehingga akhirnya tidak diragukan lagi pidato itu diucapkan dengan jujur. Nah, Loppe-lah pengatur Partai, namun dia sendiri diatur oleh kappa pemimpin koran Pou Fou bernama Qui Qui. Di belakang Qui Qui ini tidak lain dan tidak bukan adalah Gael sendiri! Ouh! Itu belum puncaknya. Gael menjelaskan pada sang manusia, "Dan, segalanya menjadi lebih rumit bahwa Gael sendiri di bawah ibu jari orang lain! Menurutmu siapa dia? Kau tahu! Dia adalah istriku." Jadi begitulah, sebenarnya Ny. Gael-lah yang mengatur kabinet Quorax.
Waktu kejadian itu berlangsung sebenarnya rasa marah dan kecewa sedang menguasaiku. Begitu ingat kisah ruwetnya politik - kalau boleh dibilang begitu - di negeri kappa, rasa marah dan kecewaku perlahan reda karena kubayangkan apa yang kulihat saat itu analog dengan kisah Gael di atas dan aku jadi geli sendiri hihihihihihihi.
Suatu sore D mengurus tanaman-tanaman pot di teras atas kosnya. R, teman kosnya, kemudian nimbrung. Bukan membantu, melainkan melihat-lihat dan memberi usul ini itu. Perlu diketahui, R ini pernah dititipi menyirami tanaman-tanaman milik D ketika D pulang kampung untuk beberapa waktu. Tak hanya menyiram, R menyempatkan diri untuk menyingkirkan daun-daun yang sudah kering dan menggemburkan tanah.
Ada yang menggelitik benak R soal tanaman-tanaman tadi. Lalu, dia pun bertanya pada D R : Mbak, kenapa sih tanamannya nggak ada yang jenis berbunga-bunga? Kan monoton... hijau melulu. D : Kalau yang bisa berbunga perlu banyak sinar matahari sedangkan di sini kan nggak dapat banyak sinar matahari. R : Oooo.... Yang itu juga nggak berbunga? (menunjuk tanaman merambat berdaun kecil-kecil bergerigi seperti daun strawberry) D : Nggak... R : Tanaman obat ya? D : Bukan. Itu gulma. R : Hah??!! Ngapain dipelihara??? Sial, padahal sudah terlanjur aku sirami dan aku rapihin biar nggak membelit tanaman di dekatnya.... D : Hahahahahahahahahahahahaha. R : (Dalam hati) Kayak Kariage deeeh.... ~~~~~ Catatan: Kariage Kun adalah komik strip karangan Masashi Ueda (pengarang Kobo Chan). Tokoh utama komik ini tentu saja Kariage, seorang pemuda yang bekerja di PT Honnyara. Karakternya jahil, pendendam, dan jorok. Jorok dalam pengertian denotasi dan konotasi. Siapapun bisa menjadi korban kejahilannya, tanpa kecuali direktur perusahaan tempat dia bekerja. Yang sering menjadi korban adalah Pak Kepala Bagian. Walau begitu mereka tetap akrab. Kejahilan Kariage seringkali muncul untuk membalas komentar atau perlakuan orang padanya. Kadang-kadang komik ini juga menyentil perilaku masyarakat.
Setiap hari kampus-kos saya tempuh dengan jalan kaki karena jaraknya tidak lebih dari 1 km. Dekat banget lah pokokna. Kos saya di wilayah simpang Pasar Dago (tapi bukan yang di belakang McD yaaaa hahahahaha). Nah, menyeberangi simpang Dago - dari arah manapun - merupakan tantangan tersendiri. Susah banget. Seakan tidak ada kesempatan yang cukup untuk pejalan kaki menyeberang jalan dengan tenang dan aman. Dulu saya juga takut kalau menyeberang di situ. Lama-lama jadi berani juga.
 Sudah jamak rasanya menemui zebra cross yang semestinya digunakan menyeberang malah "ditongkrongi" kendaraan ketika lampu lalu lintas menyala merah. Tidak memberi ruang yang nyaman dan aman untuk pejalan kaki. Bete kan. Terus pejalan kaki disuruh nyebrang di mana gitu loh. Jadinya berkelit di antara sepeda motor, angkot, mobil.... atau seperti yang tampak pada foto.
Hari ini saya lewat persimpangan yang sama. Ketika hendak menyeberang dari trotoar di depan McD ke trotoar di samping Tsu Chi (?), kendaraan-kendaraan di sisi kanan saya masih berhenti. Zebra cross, lagi-lagi, ditrongkongi satu angkot Cicaheum-Ciroyom dan sekitar tiga atau empat sepeda motor (saya nggak ngitung la ya...). Nah, sesaat sebelum sampai di pembatas jalan saya sudah diklaksoni (dari angkot?). Saya kira lampu sudah berganti hijau. Maka saya buru-buru meneruskan penyeberangan saya dengan sedikit rasa bersalah. Ada kesal juga sih. "Kan masih jalan," gerutu saya dalam hati. Ketika sampai di seberang jalan, saya sempat noleh ke belakang ke arah persimpangan. Angkot tadi sudah melaju melintasi persimpangan! Saya lihat lampu masih menyala merah. Ouh! Gerutu dan sesal berubah menjadi nafsu. Nafsu amarah maksudnya. Rasanya pengen melempar sandal ke supir angot tadi. Tapi apa daya angkotnya sudah jauh dan sandal yang saya kenakan cuma sandal jepit. Kalau buat nyambit kan ga kerasa. Eh, lumayan juga kali ya... Aduuh, pokoknya masih sebal, sebal, sebaaaaaalllll. Enak aja nglaksoni orang yang lagi jalan dan ternyata lampu masih menyala merah! Masih hak pejalan kaki buat menyeberang atuh! ~~~~~ Cat: gambar diambil tanpa permisi dari PR.
 Besok hari terakhir sekolah dan Sabtu siang saya terbang pulang ke Indonesia. Ihik. Sedihnya mulai terasa. Ku tak rela, tak rela... ini berakhir. Kenapa justru di saat mulai terbiasa - terbiasa dengan makanan, terbiasa dengan bahasa, terbiasa gembira dan stres bersama teman-teman - kok malah saatnya pulang tiba.
Tadi ngobrol sama Dante. Alaaah, ngobrol. Dianya yang nanya atau cerita. Aku kan pendiam dan pemalu cenderung autis, jadi cuma jawab pertanyaan dia atau dengerin ceritanya aja :p Dante bilang dulu waktu dia jadi murid VOSS, setelah sekolah selesai, dia dan temannya dari India jalan-jalan sekeliling Italia. Tanpa uang. Ke Venesia pun tanpa menginap. Duh, kenapa saya dulu iya-iya aja dengan jadwal penerbangan yang mepet begitu. Huhuhuhu. Ah, tapi kalau tinggal lebih lama pasti lebih berat lagi untuk berpisah. Ya tak, ya tak? *berusaha memanipulasi penyesalan*
Well, anyway, hari ini tetap senang dong. Bisa kuliah pagi tanpa ketiduran di kelas. Horeee! Morning lecture I masih diisi oleh Didier Queloz. Di menit 20 akhir dia memberi kuis. Beneran kuis loh: ada pertanyaan dan hadiah untuk yang bisa jawab. Secara acak dia menunjuk siapa saja murid yang "beruntung" itu. Biar ketauan siapa yang ketiduran di kelas dan melewatkan pelajaran ceunah. Hahahaha. Mampus gue! Saya kan suka ketiduran di kelas. Dodol banget memang. Justru di saat yang memberi kuliah itu idola saya, kok saya malah ketiduran. Kepagian sih kuliahnya.... *ngeles* Lho, bener, soalnya morning lecture II saya jarang ngantuk. Apalagi evening lecture. Mata terbuka lebaaaaaar hekhekhek. Jam biologisnya berubah nih kayaknya. Pernah ketauan juga sama idola. Pas break kuliah, saya sandaran ke kursi di depan saya. Rasanya capek banget. Trus ditanya sama idola, "Are you tired?". "Pretty," jawab saya dengan suara lemah. Tau-tau teman di sebelah saya ke-GR-an ditanya nyeletuk, "I stayed late until 4, but I'm not tired now." Hah! Betapa kontrasnya dengan saya. Jadi nggak enak hati....
Kembali ke kuis. Dalam hati kecil saya juga pengen dong bisa jawab pertanyaan. Dapat hadiah dari idola siapa sih yang nggak seneng. Tapi, pertanyaan pertama yang diterima Michele sangat teknis sekali dan saya agak-agak lupa mengenai hal itu. Grogi deh. Pertanyaan ke-2 hingga ke-4 gampang sebenarnya tapi bagaimana menjelaskannya ya. Kalau grogi bahasa Inggris saya jadi kacau. Akhirnya tinggal satu pertanyaan terakhir. Idola berkeliling mencari dan ,"a-ha! kamu sepertinya ingin menyembunyikan diri." Hah! Gue! No! Maksud saya, saya tidak bermaksud bersembunyi. Cuma melingkupi tangan saya yang kedinginan karena AC dengan sweater. Ya suds. Tidak ada gunanya mengelak tuduhan. Toh saya harus menjawab pertanyaan yang diajukan. Pertanyaannya adalah kenapa susah ngamat transit planet Neptunian dari Bumi dan bintang seperti apa yang sebaiknya kita amati untuk melihat transit tadi. Alhamdulillah, nggak susah-susah amat sih. Kata dia, "jadi kamu menangkap pelajaran dengan sempurna." Hihihhihi, ah, Didier, jadi pengen malu... kalau nggak bisa jawab lebih malu lagi soalnya kan riset saya kan nggak jauh-jauh dari situ... Dan, horeee! Dapat hadiah deh! Akhir yang sempurna. Bukankah begitu? ;)
Pas coffee break Didier dan Dante ngobrol. Salah satunya membahas kuis tadi. Kata Didier it's good to summary the lecture.... I think they were sleepy and tired tapi ternyata tetap siaga. Hahahaha. Ah, jadi malu....

Selama summer school, setidaknya sampai dengan hari ini, saya jadi lebih atletis daripada waktu masih di Indonesia. Saya jadi suka olahraga. Bukan sungguh-sungguh olahraga. Seperti bermain dengan teman-teman sebaya semasa kecil dulu saja. Selain voli yang sudah saya ceritakan sebelumnya saya juga main pingpong alias tenis meja. Di ruang televisi di sebelah kelas sudah siap sedia seperangkat alat buat pingpong. Meja, 4 bat, dan 3 bola. Saat istirahat di antara waktu belajar bosan kalau cuma berjemur di teras sambil ngobrol. Beberapa murid berinisiatif main pingpong. Saya belum pernah memainkan permainan ini sebelumnya. Tapi kenapa nggak dicoba. Toh "cuma" mukul bola. Akhirnya malah ketagihan hehehe. Nggak peduli bola meleset kemana hahaha. Lawannya dari dari teman sekelas, anaknya pengajar (yang namanya Bruno - 8 tahun - cakep euy!), sampai pengajar itu sendiri.
Hari Senin, Dante - salah satu pengajar sekaligus koordinator pengajar- mengumumkan hari Selasa sore kita akan main bola di lapangan yang akan kita sewa di dekat Danau Albano. Barang siapa yang ingin ikut silahkan mendaftarkan diri. Akhirnya, kesempatan itu datang juga. Main bola? Siapa takut! Sepertinya beberapa anak tidak percaya saya bakal ikut main bola. Saya pikir mungkin mereka bertanya-tanya alangkah ribetnya saya dengan kerudung dan baju panjang berlari-lari mengejar bola. Tapi, pada saat yang bersamaan mereka memberi dukungan.
Di antara nama-nama yang mendaftarkan diri adalah Dante dan Fr. Jose, direktur sekolah sekaligus direktur Vatican Observaty. Daaan, saat yang dinantikan itu tiba. Kami bermobil menuju lapangan. Fr. Jose mengenakan seragam sepakbola negara asalnya: strip putih-biru muda. Nama yang tercetak di punggungnya: Batistuta. Dante dan salah satu putranya, Bruno, juga sama - putranya yang lain, Marco, memilih seragam Jerman hahaha. Eva, yang berasal dari Jerman, tentu saja gembira dengan pilihan Marco.
Dua tim dibagi berdasarkan warna kaos yang dikenakan pada saat itu: terang atau gelap dengan 8 pemain di tiap tim. Saya berada satu tim dengan Fr. Jose, Dante, Eva, dan Marco. Pertandingan berlangsung dengan seru. Tidak ada offside, tidak ada batas luar kecuali jaring pembatas lapangan, dan posisi kiper bisa digantikan kapan saja. Intinya mah masukin bola ke gawang lawan aja hehehe. Roberto dari Brazil, yang setim dengan saya, bermain luar biasa. Posturnya yang jangkung jadi satu keunggulan tersendiri. Yang lebih menakjubkan adalah Fr. Jose. Tak salah nama Batistuta melekat di punggungnya. Umpannya tajam dan bisa menguasai bola. Perlu dicatat, beliau sudah tidak muda lagi seperti kami para muridnya. Dan beliau mencetak beberapa gol untuk tim kami. Luar biasa.
Rebutan bola di pinggir atau sudut lapangan sudah biasa karena bola umpanan melambung tinggi dan tidak tertangkap oleh pemain. Akibatnya bola meluncur dengan indahnya ke tepi atau sudut lapangan. Terjadilah adu kaki di pinggir lapangan memperebutkan bola. Jangan ditanya berapa korban yang berjatuhan. Saya salah satunya :p
Waktu 1 jam tidak terasa. Waktu sewa sudah habis. Fr. Jose mencetak gol dan menutup skor 8-4 untuk tim saya. Horeee! Saatnya pulang dan bersiap-siap mengikuti evening lecture. Gerah, baju lengket di badan karena keringat, tapi gembira. Kata Fr. Jose, "Yang kalah pulang jalan kaki." Oh, beliau bercanda. Direktur sekolah yang satu ini memang menyenangkan. Bahkan di saat memberi pengumuman serius (termasuk rule selama tinggal di Papal Palace) masih bisa melucu. Serius tapi santai....
Yap, pulang, mandi, pergi ke evening lecture. Sekarang saya baru merasakan efeknya: badan pegel-pegel semua.... ah yang penting sudah tampil dengan maksimal di lapangan dan tentu saja: gembira! Berada di tim yang menang sih... hahaha. §§§§§ P.S: Tidak ada dokumentasinya euy. Fotograferna ikut main bola sih :p
Yep, kemarin kami ke Subiaco, mengunjungi suatu biara benedictian di sana. Jam 8 pagi kami menyiapkan bekal makan siang (sandwich, peach, dan snack). Benar-benar seperti anak sekolah ya hehehe. Bekal makan siang di kantung plastik dan cooler box berisi softdrink dan air minum. Mari kita berpiknik, anak-anak! Satu jam kemudian kami sudah siap di bus yang akan membawa kami ke Subiaco. Yippi!... kiri, kanan, kulihat saja banyak pohon cemara a-a...Perjalanan yang mengasyikkan. Bagaimana tidak. Pemandangan bukit di kiri kanan seiring kelokan demi kelokan yang kami lalui. Pemukiman di bukit seberang atau di lembah memoles bukit hijau dengan warna peach arsitektur italia. Di beberapa tempat ladang gandum (?) membentang dan gulungan jerami berjajar. Well, yah, ini untuk kesekian kalinya saya masuk ke gereja atau sejenisnya di Roma. I was getting though with that but I tried to enjoy it. Hey, I'm in Rome. So, just enjoy :p Saya berusaha mendengarkan sejarah pendirian biara yang "dipahat" di bukit yang dijelaskan mbak pemandu yang cantik. Tapi, saya sungguh nggak bisa. Yang sempat saya perhatikan adalah bahwa lukisan-lukisan di sana mengandung banyak simbol. O, iya, dan juga tentang seseorang yang sebelum masuk biara pernah membunuh sehingga dia mengenakan "helm" khusus (pertanda) untuk menghapus dosa. Signorina, maaf ya... Apa yang diharapkan dari bangunan yang "dipahat" di bukit? Bergua-gua. Bertangga-tangga. Sedikit misterius. Kesan yang kuat yang saya rasakan: sederhana. Ya, bila dibandingkan dengan tempat-tempat yang saya kunjungi sebelumnya -- St. Peter, Basilica Maria, dan lain-lainnya yang saya lupa namanya -- yang megah, indah, dan berkilau. Piknik masih berlanjut. Kami dibawa direktur sekolah ke suatu tempat semacam vila. Anak-anak, bekal boleh dibuka dan selamat makan! Yihaaa! Direktur membawa tiga bola ternyata. Mari bersenang-senang. Main bola voli atau sepakbola. Terserah mana yang kamu suka. Tiga anak mulai melempar bola di lapangan voli. Saya menyusul. Dua lawan dua. Nggak masalah bola melenceng kemana. Yang penting gembira. Tak lama kemudian anak-anak lain menyusul. Lima oh tidak enam lawan enam. Oh bukan. Tujuh lawan tujuh karena tak lama kemudian dua anak lagi menyusul. Tujuh lawan tujuh dalam permainan bola voli? Ah, nggak masalah. Sekali lagi, yang penting gembira! Beberapa anak laki-laki mulai gerah dan melepas kaos (ups!). Dan permainan terus berlanjut dengan penuh gelak tawa, teriakan-teriakan memanggil nama siapa yang mestinya menerima lemparan bola, dan "Ouch", dan "oh no". Skor terakhir adalah dua ratus sama hahaha. Nggak deng. Nggak peduli berapa skornya. Yang penting... gembira! Tendang sana, lempar sini, gaya kungfu... apapun! Bola sempat nangkring di pohon dan Nestor, our fellow from Mexico, berusaha mengguncangnya agar bola jatuh. Oh, bercanda! Mana mungkin mengguncang pohon cemara sebesar pelukan orang dewasa. Dan pohon ini pula yang kami jadikan kambing hitam untuk bisa servis lagi hahaha.Sepakbola menyusul kemudian. Saya nggak ikut. Capek. Dan lengan saya sudah penuh memar dan bengkak gara-gara voli (apa hubungannya coba? main sepakbola kan pakai kaki :p). Direktur sekolah sepertinya ikut main pula.Jam empat menjelang. Diiringi rintik gerimis hujan. Saatnya pulang, anak-anak. Bersihkan sampah. Rapikan kursi-kursi yang dipakai. Angkat cooler box ke bus. Di dalam bus baru terasa lelahnya. Lelah tapi senang. Daaan, puncaknya adalah saat direktur sekolah mengumumkan bahwa nanti akan makan es krim. Paus menraktir kami es krim. Kalau nggak salah tangkap ya direktur sekolah bilang gitu. Horee! Hampir tiap siang saya makan es krim. Oooh, siapa yang tidak tergoda makan es krim aneka rasa. Cokelat, almon, vanila, dan masih banyak lagi dengan nama-nama yang terdengar seperti mantra :p. Sampai sekarang saya masih nggak ingat nama-namanya kecuali strachtiolla (?), es krim dengan remah-remah cokelat, dan naciola (rasa kacang dengan cincangan kacang atau kacang utuh). Hmmm... slrp, slrp, berlomba-lomba memainkan lidah, berpacu dengan laju melelehnya es krim. Pulang, senang, kenyang ;) ~~~~~ P.S : foto-fotonya belum bisa di-upload. Tiap kali mau upload, baterainya habis. Too bad...
Di lorong menuju kelas tempat saya belajar di Castel Gandolfo dipasang peta dunia. Di situ foto-foto seluruh murid peserta Vatican Observatory Summer School 2007 dipasang dan menunjukkan dari negara mana mereka berasal. Pada hari pertama ke sekolah (minggu malam lalu) saya tidak memperhatikannya. Keesokan harinya, saat berbincang-bincang dengan teman sekelas di dekat peta tadi, saya baru ngeh kalau ternyata ada sesuatu yang salah. What it was? They put my photo on the map, and it connected by a red line to.... Bangladesh. They supposed me coming from Bangladesh, no? Well.... Oh, pantesan.... waktu salaman dengan salah seorang father dia bilang, "So, you are that coming from Bangladesh?" Anyway, they've corrected it already. Precisely on the city I live (Bandung) and use the same red line. Sebelumnya pakai spidol hitam. Staf (ganteng lhooo!) yang menggantinya minta ijin dulu apa boleh pakai spidol hitam soalnya kesannya kok mendiskriminasikan dan akan menggantinya dengan warna merah kalau dia sudah menemukan spidol merah. No probem. Akan tetapi, ketika saya melihat peta yang sama beberapa waktu kemudian, garis itu sudah berganti merah. Wah, benar-benar dipikirkan ya detail-detail seperti itu. Saya masih bertanya-tanya dalam hati bagaimana saya disangka orang Bangladesh hehehe. Where's Indonesia anyway?
Persediaan uang tunai dalam mata uang Euro saya menipis. Sejak tiba di Italia saya belum menukar rupiah lagi. Jadi, setelah makan siang hari ini saya bermaksud pergi ke bank yang berada tepat di luar gerbang kastil: Banca di Roma. Belum pernah saya menemui pintu bank yang unik seperti Banca di Roma itu. Nasabah yang ingin melakukan transaksi masuk satu per satu ke dalam kolom yang mirip lift. Alih-alih bergerak ke atas atau ke bawah, kolom ini mempunyai dua pintu geser eletronik - satu dari tempat kita masuk, satu lagi menuju ruang pelayanan nasabah. Kamu perlu menekan tombol untuk membukanya. Sambil menunggu giliran, saya melihat daftar exchange rate. Tidak ada IDR dalam daftar tadi tapi saya nekat. Who knows.... Setelah menunggu seorang signora menyelesaikan urusan perbankannya, saya bilang pada pegawai bank, "I want to change my money." But, he didn't understand. Untungnya saya sudah siap-siap dengan kamus bahasa Inggris-Indonesia-Italia saya. Jaga-jaga kalau benar apa yang dikatakan orang-orang: susah menemukan orang yang bisa bahasa Inggris di Italia. Jadi, saya bilang "cambiare"- to change. Baru deh dia ngerti dan dengan bahasa isyarat meminta saya menunjukkan mata uang saya. Ok. Tapi, mengatakan sesuatu dalam bahasa Italia yang segera saya tahu artinya dari gelengan kepalanya: tidak bisa. Tidak bisa menukar IDR ke EUR di sana. Padahal RM dan Baht saja ada.... so, where's Indonesia? That's my question, a question to myself and probably to you :)
Ruang Pasca punya sepasang sandal jepit yang bisa dimanfatkan kalau mahasiswa pascasarjana hendak wudhu. Sandal jepit ini hibah dari saya yang pada dasarnya malas pakai sepatu kalau cuma mau "nangkring" di ruang pasca dan bukan untuk kuliah. Pada suatu ketika, saya membawanya ke mushola program studi Teknik Industri yang berada satu lantai di bawah gedung program studi saya. Setelah sholat, lho kok, sandal pasca raib. Sepertinya ada yang mengira itu sandal mushola dan memakainya ke tempat wudhu. Ok, saya tunggu. Semenit, dua menit... kok nggak muncul-muncul ya. Nggak sabar, saya pakai sendal jepit yang ada (dengan pengamatan bahwa tak seorangpun di mushola yang mempunyai sandal tersebut). Dalam hati, saya akan mengembalikannya nanti kalau memang tertukar. Tidak berapa lama kemudian, Mas Arya -- rekan saya, yang juga sholat di mushola yang sama -- kasih kabar kalau sandal pasca ada di mushola. Dan Mas Arya pun berbaik hati mengambilkan. Hahaha. Jadi, sampai episode ini, sandal pasca kembali ke pemilik semestinya.Berbulan-bulan kemudian, entah bagaimana, sandal pasca tertukar sungguhan. Ukurannya lebih gede. Mana lebih butut lagi. Sedikit sih tapi kan.... Kami pasrah saja. Tidak ada yang tahu bagaimana sandal itu tertukar. Dan mending masih ada sandal gitu loh :pLagi dan lagi sandal pasca tertukar. Kali ini dengan sandal jepit milik Himastron. Jelas terbaca sandal itu milik siapa dari cap berbentuk huruf H kapital dan bintang di sebelah kanannya. Masih baru. Berhubung tidak ada barudak Himastron yang protes, maka kami memberdayakannya sebagaimana mestinya hehehe. Sayang beribu sayang, itu tidak bertahan lama. Apa yang terjadi kemudian? Sepertinya ada yang sedang menerapkan prinsip "ambil yang baik-baik, tinggalkan yang jelek-jelek" pada sandal. Maka, entah bagaimana, sandal Himastron tadi tidak ada -- kabarnya dia sudah berpulang pada empunya --, dan yang tertinggal adalah sepasang sandal yang ukurannya tidak sama, tingkat kelusuhannya juga tidak sama, dan yang lebih parah adalah... salah satunya nyaris putus. Oh my.... Dan sandal itu kini putus. Tamat sudah riwayat sandal pasca....
Semalam saya menyapa seorang teman (teman lama, kalau boleh dibilang begitu) untuk mengabari berita yang menggembirakan (tapi bikin dia jadi iri hehehe). Tapi kok malah berbelok ke pekerjaan rumah tangga ya. Jadi saling pamit untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mencuci lah, memasak nasi lah. Tapi, senang juga sih bisa chat lagi sama dia. Udah lama nggak curhat-curhatan sama dia. Dan, sekarang malah konsultasi memasak hehehe. Well, a warm talk on the cold Sunday evening, though.
az says : Oi ratna says : Yuhuu, udah nyucinya? Sekalian punya gue dong ratna says : Hehe, sekarang giliran gue yang mau cabut, mo masak nasi. [deleted]
Sekitar dua jam kemudian.... ratna says : Oi, oi, gimana jepang? az says : Oi, tar ya gw lg masak niy [deleted] az says : Duh, penuh asep kamar gw ratna says : Lo emang masak apa sih? az says : Gw masak goreng udang pake telur, sambil nanak nasi. az says : Mana kamar gw no smoking lagi. Kacaw. ratna says : Emang ga ada dapur umum? az says : Ga ada az says : Nana, air sama beras takarannya brapa si? Berapa beras berapa air ratna says : Klo pake rice cooker.. kan ada gelas takarnya.. nah, ikutin aja garis batas yg ada ditempat nanak nasinya. az says : Gw ga pake rice cooker ratna says : Ooh.. biasanya satu setengah ruas jari dari permukaan beras. ratna says : Sebenernya tergantung jenis beras sih. Ada beras tahan air ada yang nggak. ratna says :Tapi, coba aja dulu az says : Duh kacau, udang gw blom mateng telurnya udah mateng ratna says : Apinya kegedean tuh. Emang dimasak gimana sih? ratna says : Lagian, masak kok disambil ceting az says : Masalahnya tu kompor gw listrik, ga ada volume api, kan di kamar. ratna says : Oooo ratna says : Gimana ya cara menyiasatinya....? az says : Tau si gw. Laen kali jangan nyampur udang sama telor. Pisah2 masaknya. ratna says : Bikin tempura aja. Telurnya dikasih tepung dan bumbu. az says : Iya, tapi ntar dulu. Ini first trial gw. ratna says : Ooh, yah klo gitu sih terima2 aja, namanya juga trial az says : Lumayan udangnya udah memerah ratna says : Ya klo gitu sih udah lumayan mateng az says : Nana, perbandingan paper, garem sama banyaknya masakan gimana ya? Biar pas. az says : Pepper maksud gw. ratna says : Waduh, gw juga pake perasaan sih klo ngasih bumbu ratna says : Mending dikit dulu trus lo cicipin. Klo blum terasa baru tambahin ratna says : Dikitnya itu ya tergantung segimana lo masak. ratna says : Klo seporsi misalnya... peppernya 1/4 sdt, garam sedikit lbh banyak dari itu. az says : Mampus d gw. ratna says : Kenapa? az says : Kacau ratna says : Doushite? *sok2an njepang*az says : Salah. Mustinya masak udang dulu az says : Jangan dicampur karna kompornya ga punya volume panas.az says : Yak, next trial deh.ratna says : Iya... Hebat juga kan mau masak sendiri az says : ratna says : Emang kerasa banget ya nggak matengnya?az says : Blom dicoba, tapi anggap aja sushiratna says : Iya... Klo ga mateng celup aja ke saus buat sushiaz says : Tapi untung juga gw campur teluraz says : Karna telurnya ada rasanya jadi ketutup klo udangnya ga mateng.ratna says : ratna says : Itadakimasu!az says : Hai, itadakimasuratna says : Aduuuh, lo kesambit apa masak sendiri? az says : Gw mo blajar euy. Lagian masakan jepang kan ga jelas halal atau nggaknya. az says : At least gw usaha. Trus sekalian klo istri gw ga bisa masak gw bisa ratna says : Bener2... Temen gw yang kuliah di jepang juga rajin masak loh jadinya.ratna says : Padahal waktu masih di Bandung nggak pernah.ratna says : Klo dia sih dr salad2an dulu. Kan tinggal campur2 aja tuh.ratna says : Nah, ke sini2 dia malah bikin nasi kuning.ratna says : Biar gampang beli rice cooker aja, az. Praktis banget.[deleted] az says : Tp lumayan ko' na. Udangya mateng.ratna says : Yippi! Lo apain?az says : Gw biarin ditutup, ga dibuka2 ratna says : Ho-ho, cerdas juga. Setengah di-steam gitu kali ya. az says : Iya ratna says : Lo pake berasnya beras jepang apa beras indonesia? az says : Jepang ratna says : Klo beras jepang gw gatau takarannya. ratna says : Beras jepang kan lengket2 gitu... ratna says : Jadi, sekali lagi kayaknya lo musti trial-error deh az says : Iya. ratna says : Tapi gw dukung deh. Gw lagi dukung siapapun yg mau masak sendiri. az says : Doshite? ratna says : Soalnya gw juga hehehe. Malahan bikin "klub memasak" sm junior2 gw az says : az says : Tapi bener loh, masak itu menyenangkan apalagi klo akhirnya enak. az says : Rasanya tu puas banget. ratna says : Bener banget! Tenang aja, waktu akan berbicara. az says : Gw jg maksain diri ni. ratna says : Masak itu soal sense, jadi makin sering, makin terasah sensenya az says : Gw bilang ke diri sendiri,, klo ga sekarang kapan lagi gw belajar ratna says : Woooo, hebat, hebat! Klo gw sih terpaksa soalnya makan di luar makin mahal az says : [deleted]az says : Jd ngerti knapa ibu gw klo masak ga lgsg campur ajaratna says : Itulah seninya memasak. Gw juga jadi suka.ratna says : Lebih suka masak nyiapin bekal makan siang drpd bikin tugas/baca paper az says : az says : Tapi loe waktu pertama2 gagal jg ga? ratna says : Tentu saja. Rasanya aneeh banget. Keasinan. Rasanya nggak jelas juga pernah. az says : Senangnya ada temen. Emang ga boleh nyerah ya. ratna says : Betul. Seperti yg gw bilang tadi: sense akan terasah seiring waktu. ratna says : Apalagi soal bumbu. Segimana garam, cabe, merica,.... Semuanya az says : Yg gw tau bumbu tu cuma garam, merica, cabe, bawang putih sama bawang bombay az says : Itu jg blom matching [deleted] ratna says : Tapi gw dulu pertama belajar masak bumbunya cuma bawang merah, putih, merica, cabe kok. ratna says : Ituuu aja. Segala macam tumis bumbunya sama [deleted]ratna says : Step by step laaah. ratna says : Lagian, kan ada resep. Googling aja, pasti lo dapet segunung az says : Loe pernah ga mau muntah sama masakan sendiri?ratna says : Pernah. Gw coba bikin spagetti ditambah kornet tapi gagal segagal2nya. Gw buang deh akhirnya az says : [deleted]az says : Next time will be better I hope.ratna says : Amiin. Sebenernya udang termasuk cepet mateng sih. az says : Ga tau d, baru keluar dari kulkas soalnya ratna says : Langsung lo masukin ke minyak gitu? az says : Udah gw biarin dulu si, tp masi dingin. Pantes berasep gitu. Gw uda laper soale az says : I need to arrange my time, ga boleh males2an ratna says : Hikhikhik, mungkin berasep banget karena uap air dr udangnya. az says : Iya. ratna says : Ga digedorin tetangga kan? Atau alarm kebakaran nyala? az says : Alhamdulillah ngga [deleted] az says : Gw tu sukka bgt sama udang tp ko' yg gw masak rasanya aneh az says : Sedih euy ratna says : Halah, fisrt trial gitu lho... az says : Wajar ya? ratna says : Wajar sih menurut gw. az says : Ya deh, agak lega ratna says : Klo boleh pake alasan gender apalagi. az says : az says : Lebih lega lagi ratna says : Eh, eh, tapi ada lho anak mesin yg jago masak. Cowok, angkt 98. Dulu dia di Lab Ternal. az says : Wah, sapa ya? ratna says : Y***** E**. Kenal ga? az says : Lupa ratna says : Labnya sebelahan gitu .... Tapi beda angkatan sih... Ga pernah kuliah bareng juga kali. az says : Yup, mungkin, secara gw pelupa sama orang ratna says : ratna says : Gw taunya dr temen gw yg temen dia juga. Lebih jago dr gw sm temen gw itu. az says : Waw ratna says : Dari puding sampai black forest. Bayangkan! az says : Edun. Itu udah ahli kali, bukan jago lagi. ratna says : Betul. Peralatannya juga lengkap lagi. ratna says : Salut banget deh pokoknya. Jarang2 kan ada anak mesin yg jago masak. [deleted] az says : Jarang2 ada cowok yg jago masak,, anak mesin,, trus itb lagi. az says : Itu si langka. ratna says : Perlu dilestarikan az says : Perlu di budidayakan tp klo over pupulasi ntar cewek2 ga lagku az says : Duh, gw musti lebih sring nyoba. Kklo ngga ga bisa2. ratna says : Hehehe. Lo aja yg cowok semangat gitu, apalagi gw az says : Ahaha, btul2. ratna says : Tapi sekarang yah, gw rasa ga kudu cewek yg lbh jago masak. ratna says : Tapi klo gw pribadi emang lbh puas klo gw lbh jago az says : Eh, gw mo sholat dulu ya. Mumpung belum ngantuk.ratna says : Gw juga ah.az says : Sip
~~~~~ Gue harus lebih semangat kalau begitu!
Tulisan berikut adalah karya salah seorang staf Observatorium Bosscha. Beserta 14 penulis lain Ibu Elyani Sulistialie menjadi pemenang Sayembara Menulis Pengalaman Pribadi yang diselenggarakan oleh Qultummedia. Sayembara ini mengambil tema: Mendapat Keajaiban Karena Taat Kepada Orang Tua. Kelima belas tulisan tersebut akan segera dibukukan. Mudah-mudahan bisa mengambil hikmah. Ihik, jadi pengen pulang ke kampung halaman lagi....
Pesan Bunda
oleh: Elyani Sulistialie
Aku bersyukur bisa mendapat pekerjaan di kota tempat
tinggal kami, begitupun bundaku. Beliau bersuka cita karena akan selalu
berdekatan dengan anaknya. Nyaman sekali rasanya bekerja di Bandung Utara, tempat
yang jauh dari keramaian kota, karena udara yang bersih dan sejuk. Bundaku
berpesan agar aku tetap bekerja dengan baik sambil berharap akan ada kesempatan
untuk menjadi pegawai negeri.
Tempatku bekerja
berkaitan dengan pendidikan, sehingga aku kerap berhadapan dengan generasi
muda, tunas bangsa. Walaupun lokasiya jauh dari pusat kota, namun alur
informasi di kantorku lancar. Surat-surat dari pos kami terima tepat waktu,
begitupun komunikasi lain seperti telpon dan jaringan internet mudah
dipergunakan, sehingga kami tidak ketinggalan informasi dan silaturahim dengan
mereka yang tinggal di pusat kota.
Sedang tenang aku bekerja, ada saja teman yang mengajakku
untuk bekerja di luar kota Bandung, dengan alasan untuk mengembangkan karir
atau memperoleh penghasilan yang lebih besar. Namun, itu tidak kuminati karena
aku terlanjur menyukai pekerjaanku dengan lingkungan kerja yang nyaman,
disiplin dan kekeluargaan.
Beberapa kali bundaku di rumah mendapat telpon dari
temanku, tetapi tidak disampaikannya padaku. Nomor telpon kantorku tidak
diberitahukan kepada mereka. Bundaku khawatir mereka akan menawarkan pekerjaan
yang lebih menggiurkan, misalnya, menjadi Sekretaris Eksekutif atau bekerja di
bank dan perusahaan asing. Ini kuketahui saat aku bertemu dengan-teman-temanku,
mereka menanyakan mengapa aku tidak menilpun mereka.
Sambil bersyukur aku berpikir, ternyata pekerjaan yang
ditawarkan temanku di perusahaan asing itu tak berlangsung lama karena
kerjasama dihentikan dan perusahaan itu tutup. Selain itu, akupun berpikir jika
penghasilan besar maka pengeluaranpun akan lebih besar. Oleh karenanya bekerja
dimanapun akan sama saja bila kita tidak bisa mengatur diri.
Taat kepada orangtua menjadi jalan agar anak mendapat
kebahagiaan karena orangtua tentunya menginginkan anaknya selamat dan sejahtera. Beberapa keajaiban kualami karena aku mengindahkan
pesan-pesan orangtuaku.
Keajaiban Pertama: Aku Mendapat Jodoh
yang Tak Terduga.
Tugas di kantor menuntutku bersikap ramah terhadap
mahasiswa dan tentunya siapa saja, sehingga ada seorang mahasiswa yang dekat
denganku. Sepulang dari acara pelantikan kelululusan atau wisuda, dia membawa
orangtuanya berkunjung ke rumahku. Aku tidak mengira kalau “pacarku” dan bundaku
mendiskusikan hari “h” untuk kami. Aku manut saja atas keputusan mereka, sebab
itulah yang kuharapkan. Satu bulan setelah acara lamaran itu, dia menjadi
jodohku hingga kini. Aku tak menduga prosesnya begitu cepat. Ini adalah
keajaiban, bahwa aku dapat berumah tangga dengan lancar.
Keluargaku yang keturunan Sunda, mengagumi suku Jawa yang
sederhana dan tekun. Alhamdu lillah aku mendapatkan suami dari Jawa Timur,
seorang yang pintar, soleh dan baik hati. Pesan bundaku untuk mencari suami
“orang Jawa” dapat kupenuhi. Selain itu, “bonus” untukku adalah dia anak
bungsu, sehingga aku tidak perlu repot menghadapi adik-adiknya, cukup
adik-adikku saja. Aku merupakan anak kedua dari 6 bersaudara atau anak
perempuan pertama di rumahku, terbiasa dengan kerewelan dan kebawelan adik-adikku.
Dari semua itu, yang terpenting adalah tidak ada kesenjangan komunikasi dan
ekonomi di antara kami karena sama-sama berasal dari keluarga sederhana, yang
berorangtua pendidik.
Hidup ini terasa ringan bila berdampingan dengan orang
yang rendah hati dan tidak terlalu banyak menuntut kita. Kepada anak kami satu-satunya,
suamiku tidak memaksakan kehendak agar cepat pintar atau menonjol dan menguasai
suatu keterampilan. Anak kami dibiarkan belajar dari alam dan lingkungan,
dengan arahan orang dewasa di
sekitarnya.
Keajaiban ke-dua: Menjadi Pegawai Tetap
Hubunganku dengan ayah dan bundaku tidak terputus setelah
aku menikah. Aku biasa menemui orangtuaku dua minggu sekali atau sebulan sekali
pada akhir pekan, dan kadang-kadang menginap disana, dengan atau tanpa suami. Jarak
rumah orangtuaku dari tempat tinggalku bersama suami dan anak, bisa ditempuh
dengan menggunakan ojek dan “angkot”, tidak memakan waktu sampai satu jam.
Aku dan bundaku seperti sahabat, kegembiraan dan
kesusahan kami bagi bersama. Dengan merangkaknya usia, aku tidak ingin
menyakiti hati beliau, walaupun orangtua kadang-kadang keliru, itu semua dapat kumaklumi.
Namun sebaliknya, sebagai orang tua, semua nasehat bundaku, dari hal-hal yang
sepele hingga yang penting, aku perhatikan, karena sangat berguna sebagai
pegangan dalam kehidupan ini.
Harapan bundaku agar aku bisa menjadi pegawai negeri
ternyata terlampaui. Aku dan suamiku bisa bekerja di tempat yang sama dan
mengikuti ujian saringan menjadi pegawai tetap. Alhamdu lillah berkat doa bunda,
kami lulus dan menjadi pegawai tetap sehingga kami mempunyai tunjangan hari tua
atau pensiun. Ini sangat kami syukuri, karena di antara teman kami sayang
sekali ada yang tidak lulus dan harus meninggalkan pekerjaan.
Teman kami itu, menurut pandanganku dan dari
cerita-cerita yang kudengar, seringkali berdebat dan mengecewakan ibunya. Dia
menganggap ibunya kurang memperhatikannya, dan mempunyai sikap yang kurang
baik. Kukatakan padanya bahwa kita harus memaklumi orangtua kita, baik ataupun
buruk. Tugas kitalah untuk mendoakannya agar menjadi orangtua yang soleh.
Mungkin karena kesal hatinya, terucap kata-kata yang kurang baik dari orangtua
sehingga sang anak mendapat kemalangan.
Keajaiban ke-tiga: Rejeki yang Selalu Mengalir
Bundaku seringkali bermimpi tentang anak-anaknya. Beliau akan menceritakan mimpinya kepada kami. Pernah bundaku
bermimpi aku menangkap ikan yang besar, lalu ketika kami bertemu beliau
menanyakan apakah aku sedang senang dan mempunyai rejeki yang banyak.
Kenyataannya memanglah demikian, akupun senang sekali bisa berbagi dengan bundaku
layaknya sebagai sahabat. Seolah
mempunyai telepati, bundaku seakan mengetahui jika anak-anaknya mengalami
kesulitan. Biasanya beliau akan memimpikan kami menghadapi banjir, masuk
jurang, kebakaran atau dimangsa binatang buas. Doa selalu beliau panjatkan
untuk keselamatan kami, selain memberitahukan kami agar berhati-hati dan
menjaga kesehatan.
Bunda
seperti memantau keberadaan anak-anaknya lewat mimpi. Kami senang mendengar
cerita mimpi-mimpi beliau dan menyimak pesan-pesannya, namun itu kami barengi dengan
kesadaran bahwa Tuhanlah yang maha
menentukan. Dengan
segala keterbatasannya, bundaku selalu menerima kami dengan tangan terbuka dan
siap mengulurkan tangan bila kami mendapat kesusahan.
Alhamdu lillah, berkat doa dan nasehat bunda serta
kehendak yang Maha Kuasa, kami dapat memenuhi kebutuhan kami. Kami syukuri
rejeki yang ada, sedikit ataupun banyak. Orangtua mengajarkan kami untuk hidup hemat, bersedekah
dan menyantuni anak yatim, agar rejeki kami selalu lancar.
Aku merasakan dengan bersikap santun dan taat pada orangtua
memberiku banyak keberkahan. Dengan doa orangtua insya Allah kami menjadi keluarga
yang sakinah, lancar dalam pekerjaan dan mempunyai rejeki yang halal. Banyak
keajaiban lain yang kualami dengan mengingat pesan bunda, diantaranya selamat
dari marabahaya atau mendapat kemudahan-kemudahan dan hal-hal yang dianggap kecil
yang sebetulnya patut kita syukuri, tetapi kadang-kadang tidak disadari. Terima
kasih bunda atas segala doa dan pengorbananmu
Bundaku adalah sahabatku, Orang yang mencintaiku apa adanya Dengan segala kelebihan dan aibku Dia melindungi, namun Membebaskanku berjalan sendiri
Tempat berbagi suka dan duka Yang penuh pengertian Dan saling membanggakan
Bunda, semoga kita menjadi orang yang dikasihi Nya (Lembang, 9 Oktober 2006)
Di ruang tunggu di depan loket informasi Kantor Imigrasi di kota asal saya.
Ibu-ibu: Mbak, mau kemana? Saya : Italia, Bu. Ibu-ibu: Kerja? Saya : (lagi-lagi dikira TKW.... hik's) Oh, nggak, Bu. Mau sekolah. Ibu-ibu: Oooh... Dulu kuliahnya dimana? Saya : Di ITB, Bu. Ibu-ibu: ITB itu di Jakarta, ya, Mbak? Saya : [nyaris terjengkang karena kaget] Di Bandung. Ibu-ibu: Ooo, di Bandung....
Ternyata ITB tak setenar yang aku sangka.
Seorang mahasiswa tingkat akhir menghadiri kuliah yang disampaikan oleh dosen yang sekaligus menjadi dosen pembimbing tugas akhirnya. (Malangnya) Mahasiswa yang mengambil mata kuliah itu hanya dia dan saat itu dia sedang mengalami "krisis tugas akhir" (penyakit malas, denial, dan lain sebagainya). Sebelum kuliah dimulai....
Dosen : Tugas akhirnya sudah sampai mana? [senyum-senyum]
Mahasiswa : [Mirroring, senyum-senyum juga untuk menutupi grogi] Eeee.... masih mempelajari alur code.... [padahal bego plus males aja, berkali-kali baca tapi nggak ngerti juga]
Dosen : Hmm, apa sudah di-break down mana yang mempengaruhi bagian ABCD, kalau yang EFGH sih nggak perlu dipikirin.
Mahasiswa : [Gluk! Dalam hati: kepikiran sih, tapi yaa itu tadi bego plus males] Saya masih bingung kalau definisi yang diajukan XYZ dimasukkan [curhat]. Ada paper baru yang definisinya lebih straight [biar kelihatan ada effort].
Dosen : [Menerima paper yang diajukan mahasiswa] Bedanya dengan XYZ apa?
Mahasiswa : [Berdoa dalam hati, menggali memori] Eeee, kalau XYZ itu model banget, kalau paper yang baru ini memanfaatkan a*****ers****ar properties.
Dosen : [Membuka-buka halaman paper] Oooh, lebih pada o****al-nya ya?
Mahasiswa : [Lega] Iya, Pak.
Dosen : E******ment-nya bagaimana?
Mahasiswa : [Gubrag! Lupa!] O, iya, ya.... Kalau dari XYZ.... eeee, karena XYZ ini model a*****er banget, terus terang saja saya susah memahami isi papernya [curhat sekaligus menghindar].
Dosen : Nah, ini ada n**t dan **xt maksudnya apa?
Mahasiswa : [Dalam hati: Thank God, tadi sebelum kuliah sudah baca bagian itu, tapi... gimana ya?] Eee, kan di sini ada istilah c*****al d*****ce, ini untuk inner, yang ini untuk outer. Kalau di paper lain sih langsung diambil nilainya sama dengan 3. Ada kelemahannya sih, Pak, tapi saya lupa apa [biar kelihatan ada effort lagi].
Dosen : Ini disebutkan program m*****y. Bisa diakses nggak?
Mahasiswa : [Dalam hati: Thank God, gue sempet baca bagian akhir paper yang nyebutin link-nya!] Bisa sih, Pak. Saya sudah download papernya dan ada disebut-sebut link untuk mengaksesnya. Tapi belum sempat saya coba. Papernya juga belum saya baca sih [maunya terlihat ada effort tapi malah bunuh diri].
Dosen : [Tertawa] Nanti kamu coba ya. Kumpulin saja source-source semacam itu. Siapa tahu berguna.
Mahasiswa : Iya, Pak.
Dosen : [Membaca-baca lagi paper tadi] Wah, bagus nih papernya. Boleh juga.
Mahasiswa : [Lega karena akhirnya effort-nya kelihatan tidak sia-sia]
Dosen : Hmm, begini saja, yaah, seminggu ini deh, saya baca-baca lagi paper XYZ ini. Dulu saya belum sempat baca benar-benar sih.
Mahasiswa : [Superlega, rasanya beban memahami isi XYZ terangkat]
Dosen : .... ada yang suka download paper macam-macam. Yaaah, kalau saya sih nggak apa-apa.
Mahasiswa : [Gluk! Dalam hati: kena deeeh... download paper sih lumayan, bacanya entah kapan]
Dosen : Kalau kerangka tugas akhirnya bagaimana?
Mahasiswa : [Pura-pura amnesia] Kerangka? Yang saya ajukan pada presentasi sebelumnya?
Dosen : [Beranjak ke papan tulis dan mulai menulis kerangka yang dibayangkan sambil menjelaskan di sana-sini]
Mahasiswa : [Ultralega karena cecaran pertanyaan berakhir] ~~~~~ Have you been there? I have! Dan berakhir dengan saya di-push secara halus untuk segera menyelesaikan tugas akhir saya dengan kata-kata "kalau perlu presentasi, bilang saja" dan sebelumnya saya diminta menulis tiga bab awal *keluh*.
Menjelang tahun pertama program master saya berakhir, saya mulai ingin
tahu siapa saja calon mahasiswa master baru yang akan masuk tahun
ajaran berikutnya. Ternyata ada 3 orang dan ketiga-tiganya berasal dari
angkatan yang sama waktu S1. Heeeh, "cuma" 3, ya? Wah, nggak bisa
mengalahkan rekor angkatan 2005 (angkatan saya) yang berjumlah 6 orang.
Hehehe. Apa pentingnya ya? Yaaah, kan makin banyak input harapannya kan
makin meriah suasananya. Nggak cuma banyak suara tapi juga dalam karya
(riset). Nah, di antara 3 mahasiwa baru tadi, 2 di antaranya
adalah cewek yang saya kenal cukup baik (ya iya laaaah, di astro
gitu...), Ira dan Sana. Senang juga rasanya ada teman cewek. Apalagi
keduanya sama-sama penggemar komik Jepang seperti saya (baca: wah, ada
supplier komik, nih!). Saya juga berangan-angan minimal salah satu di
antara mereka juga punya kebiasaan yang sama dengan saya: bawa bekal
makan siang. Harapannya yaa apalagi kalau bukan saling mencicip menu
hehe. Namun, apa daya, harapan saya hanya terkabul satu: bisa lebih
sering baca komik hehe.
Eeeh, ternyata impian saya yang satunya
lagi itu hanya tertunda dan mewujud dalam bentuk yang sedikit berbeda
*halah*. Akhir Januari lalu, saat kami bertiga jalan-jalan bareng ke bursa buku Gramedia, Sana melontarkan sebuah pertanyaan pada
saya: apakah di kosan saya bisa (boleh) memasak? Yap, tentu saja.
"Kenapa memangnya?," tanya saya balik. "Nggak, sih.... Cuma ide aja.
Gimana kalau kapan-kapan kita masak bareng?" Ini dia! Waaah, langsung
saya menyetujui idenya. "Boleh. Kapan saja boleh. Sok aja." Tanggal
7 lalu baru dimulai pembicaran serius mengenai "kapan". Diputuskan
pertemuan pertama akan digelar pada tanggal 10 (Sabtu, pas libur, nggak
ada kuliah). Kemudian, Sana menulis di pankom (papan komunikasi - whiteboard
di ruang pasca tempat menempel pengumuman, pesan, bertukar informasi, curhat, otretan,
bahkan gosip :p) ihwal berdirinya "klub" kami ini. Namanya cooking club.
Saya nggak sreg karena namanya nggak heboh. Lalu terlintas di kepala
saya kata-kata masak-masak ceria. M2C. Mereka setuju. Lalu, masih ada
ekor kalimat yang berkelebat di kepala saya: tapi rasa nggak jamin,
karena sesungguhnya saya ini masih amatir dalam dunia masak-memasak
dan cuma menuruti feeling
dalam hal perbumbuan dan malas mencicip rasa. Jadi saya tambahi TRGJ
(Tapi Rasa nGgak Jamin). Singkat cerita, kami sepakat menamai "klub" kami
ini M2C (TRGJ).
 Akhirnya, setelah tertunda satu minggu dari rencana awal, pertemuan pertama berhasil dicapai Sabtu lalu (17/02). Menunya masih sederhana dan masakan rumah banget. Bayam dimasak bening dengan jagung manis. Tongkol dicabein. Kentang dibikin perkedel. Hmmmmm.... slrrp, sllrp. Orang bilang kalau makan bersama akan menambah kenikmatan makanan. Itu benar. Tapi, saya kira yang hari Sabtu itu bumbu tidak menipu hehehe *narsis mode on*.Bagaimana perjalanan M2C selanjutnya? Sampai hari ini belum diputuskan kapan pertemuan selanjutnya. Ira dan Sana masih belum menentukan dengan pasti jadwal observasi mereka. Kemungkinan besar Sabtu ini. Saya sih insya Allah bisa kapan saja. Sementara itu, kami juga mempromosikan M2C ini *halah*. Setidaknya ada 3 cewek lagi yang menyatakan minatnya untuk ikut serta dan ada 1 calon mahasiswi S3 yang bahkan mau rumahnya di Antapani sana dijadikan tempat acara M2C. He? Antapani? Kalau diantar-jemput sih mau, Bu.... ~~~~~ Catatan: Gambarnya sekedar ilustrasi, sama sekali bukan apa yang terjadi.
Ini hasil menyimak komik (atau tepatnya kumpulan komik) berjudul Sun Flower's Message semalam. Ya, ya, ya, tindakan "bodoh" di saat perlu berpacu dengan waktu mengerjakan tesis malah keasikan membaca komik. Aku selalu berharap ikan mas yang ditangkap waktu lomba menangkap ikan itu kalau sudah besar jadi ikan koi (cinta).
Puitis dan romantis kan? Diceritakan anak perempuan dan anak laki-laki yang berteman sejak kanak-kanak. Tumbuhlah rasa yang tidak biasa pada si anak perempuan. Ketika pergi ke festival musim panas si anak laki-laki ini berhasil menangkap ikan mas dan memberikannya pada si anak perempuan. Si anak perempuan ini bertanya, " Kalau sudah besar ikan mas ini jadi apa ya?" Kata si anak laki-laki, "Ikan mas ya tetap ikan mas." Jawaban yang sama sekali tidak imajinatif, kata si anak perempuan. Tiba saatnya si anak laki-laki meneruskan studinya ke luar kota dan berjanji akan pulang saat libur musim panas dan menangkapkan ikan mas lagi. Musim panas pun tiba. Dan si anak laki-laki pulang memenuhi janjinya. Dan si anak laki-laki itu kali ini gagal menangkap ikan mas. Belum lagi festival usai si anak laki-laki haruslah pergi. Tahulah si anak perempuan bahwa orang yang ditunggu-tunggunya itu datang sekedar memenuhi janji. "Ikan mas ya tetap ikan mas." Di saat yang menyedihkan begini ada anak laki-laki lain yang bisa mengatakan, "Kalau sudah besar ikan mas ini akan menjadi ikan koi. Aku berani bilang begitu karena aku yang jamin," sambil menyerahkan ikan mas hadiah untuk si anak perempuan.Hehehe. Secara keseluruhan sebenarnya ceritanya sederhana. Tapi aku suka pas bagian pengungkapan perasaan lewat ikan mas dan ikan koi. Puitis sekali. ~~~~~ Catatan:
- Saya tidak tahu pasti apakah kanji koi bisa berarti cinta. Hikhikhik. Tolong, yang mengerti bahasa Jepang, mohon bantuannya :)
- Gambar dilukis oleh Ou-Yang Guo-De atau coba deh klik ini.
Judulnya dramatis 'kan? Padahal yaaa gitu deh. Ok, bagaimana rasanya ketemu mantan? Errr, atau minimal mantan kecengan deh.
Kemarin saya ketemu seseorang yang pernah menempati ruang khusus di benak saya dan itu lebih dari setahun sejak terakhir kalinya saya bertemu dia. Berjumpa dia di gerbang timur parkir belakang kampus dalam perjalanan pulang di bawah rintik hujan. Biasanya saya akan berjalan cepat-cepat tanpa menoleh kalau melewati kerumunan asing. Tapi entah kenapa kemarin itu saya menoleh dan kemudian terpaku pada sosok yang menjulang di antara tiga orang yang sedang ngobrol berdiri. Sosok yang saya kenal.
"**n, hai!" Saya melambaikan tangan padanya. Dia menoleh, tersenyum, dan membalas sapa dan lambaian saya.
Begitu saja. Saya meneruskan langkah pun dia tidak menyusul saya. Tapi, saya tetap senang bisa bertemu dia lagi. Aneh memang. Cuma bertemu sekilas saja rasanya sudah senang. Rasa senang yang kurang lebih sama seperti kalau bertemu dengan kawan yang sudah beberapa waktu lamanya tidak bersua. Tidak berdebar-debar seperti dulu ketika sosoknya masih penuh ataupun setengah penuh mengisi ruang di benak. Ya, saya rasa seiring berlalunya waktu sosok dia akan memudar, tergantikan oleh seseorang yang lain.... errr atau sesuatu yang lain (tugas kuliah, makalah, deadline, whatever!). Jadi, kalaupun ada kesempatan ngobrol saya kira tidak akan lebih dari apa-kabar dan di-mana-sekarang.
Ah, **n, bisa ketemu lagi nggak ya? Untuk menandaskan penasaran yang dulu tersimpan. Ah, bukan, cuma untuk menjawab dua pertanyaanku tadi. Kalau nggak bisa ya nggak apa-apa. Sayonara, **n! ***** Catatan: Gambarnya nggak nyambung memang. Saya pajang karena waktu ketemu **n itu saya membawa payung kuning kurang lebih seperti pada gambar *halah*. Gambar diambil dari sini.
Apa pekerjaan yang menyebalkan? Seringkali saya jawab: menunggu. Menunggu sering bikin jengkel. Janjian jam sekian, rekan janjian baru datang satu jam kemudian. Kalau tidak ada keperluan sih nggak masalah. Tapi toh tetap saya merasa jengkel terutama kalau lagi bad mood hehe. Saya bukan orang yang kelewatan disiplin sebenarnya. Kenapa saya nggak suka menunggu adalah karena kalau menunggu lama-lama saya |
|