Ratna's posts with tag: curhat
Setelah menjalani rutinitas beberapa bulan belakangan, rasanya ada yang terlewatkan dari yang sudah-sudah, dari yang biasanya dijalani. Bukan sesuatu yang mendesak mungkin tapi rasanya tetap aja nggak lengkap. Dan itu adalah...1. Nonton anime dan atau dorama Jepang yang belum disulihsuarakan.Ini kebiasaan di kosan di Bandung selama ini. Ada teman sekos yang sama-sama berminat belajar bahasa Jepang, dan kami sama-sama menyimak bahasa Jepang dari anime atau dorama tadi. Berhasil buat dia tapi tidak buatku hahahaha. Tentu saja karena aku nggak pernah belajar struktur bahasa Jepang. Yah, seru aja mendengar aksen-aksen yang dibunyikan pemeran/pengisi suaranya. Ah, tapi mungkin yang paling aku kangeni adalah tertawa bersama teman nonton itu ketika melihat adegan lucu atau komentar-komentar aneh bin sompral pada adegan-adegan yang sebenarnya biasa saja tapi selalu bisa dicari celah untuk dikomentari.2. Pretending to be Boke and TsukkomiNggak Boke-Boke atau Tsukkomi-Tsukkomi amat. Istilah Boke dan Tsukkomi kami kenal dari serial Nodame Cantabile. Dalam serial itu Nodame kadang-kadang (sering deng) ngerjain partnernya dan partnernya tak bisa membalas karena terlanjur terjebak dalam permainan si Nodame. We used terminology Bu Lurah and Dik Carik. None of us played Tsukkomi role, actually. Both of us were Bokes. And Tsukkomi was other people around us. Lately, it seems like I have forgotten how to be Boke. A couple of weeks ago she said to me, "Kamu jelek kalau serius begitu." I should've not take it seriously but at that time I was really uncomfortable with myself. Felt like there's a mask covers my face... At that time I realized how I miss pretending to be Boke. Mungkin istilah yang tepat.. pengennya nggak serius-serius amat begitu hehehe. Serius tapi santai.... 3. Matahari yang tenggelam di balik menara gedung operasional atau Hotel Golden Botique yang kulihat saat pulang kantor.Sekarang jadi sering pulang malam euy. Nggak sempat menikmati momen-momen matahari tenggelam dan langit meremang jingga.4. Observing night sky using telescope, especially on detecting exo giant planet transitAh, dulu, kalau lagi males ngamat, aku berdoa semoga langit mendung sampai subuh. Dulu, bete banget kalau pointing susah banget. Dulu, waktu tidur berkurang karena grabbing citra-citra bintang dan I RAF-ing. Dulu.. Sekarang hal-hal yang kayak gitu malah bikin kangen.5. Being relax6. (Day)Dreaming of working with Subaru, VLT, Keck, or any other large telescopes installed on the peak of Mauna Kea, in La Palma, in Switzerland, or in Chile and collaborate with Didier Queloz, Michel Mayor, Jonathan Lunine, Jim Kasting, and other well-known exoplanet discoverers/exoplanet research project.. Sekarang rasanya sulit mengimpikan hal-hal demikian. Pasang poster ALMA di kamar aja nggak berani. Pengecut.7. Discuss any topics related to exoplanets and life beyond our mother Earth8. Menulis artikel astronomi populer Jadi nggak enak sama Vivi, dia terus yang ngurusin LS.9. Listening to the music of my own playlist Hmmm, 9 cukup ya hehehehe. Kalau mau nulis Things I Miss A Lot Lately di MP masing-masing, sooooooooooooooook lah. Mudah-mudahan dengan menulis, ada jalan untuk mengobati rasa rindu. ~~~~~ Cat.: gambar diambil dari tripadvisor. Lagi pengen nyebur ke pantai yang berwarna hijau tosca :p Kemarin ke pantai festival Ancol, tapi kan nggak ngerasain nyebur ke air dan warnanya juga nggak hijau tosca :D
Lagi asik-asiknya nangkring di labkom S1 dan berbalas e-mail, seseorang mencolek bahu saya dari belakang. Otomatis saya menoleh. Ouh, ternyata Komet (nama sebenarnya dengan ejaan yang salah :p), adik kelas di astronomi. Semester ini dia menjadi mahasiswa bimbingan Mr T, pembimbing tesis saya dulu.Komet (K): Disuruh Mr T nanya ke Mbak Ratna soal analisis kurva cahaya.Saya (S) : Wuits, hmm... sebenarnya belum pernah nyoba sih, tapi aku punya paper tentang itu.K : Ada code-nya?S : Ada... ada... Btw, mau ngamat transit exoplanet?K : Iya.S : Wah, mau dong ikutan....K : Kata Mr T sekitar Juni-JuliS : Asiiik... Kalau mau, aku punya paper-paper tentang transit. Lengkap deh pokoknya. Soalnya dulu pas kuliah topik observasi aku ngamat transit. Ntar aku bawain. Udah ada petunjuk-petunjuk cara ngamatnya juga. Bla bla bla... (pokoknya antusias banget) ... Dulu aku pengen tesisku ngamat transit aja soalnya kerjaan waktu topik observasi belum beres. Data yang didapat masih sedikit. Duh, leganya. Ada orang yang mau meneruskan pekerjaan saya untuk Tugas Akhir. Saya sempat menyangka bahwa saya generasi terakhir (di program studi astronomi) yang menggeluti dunia exoplanet karena saya lihat tak satupun yang mengerjakan Tugas Akhir mengenai topik yang perkembangannya pesat ini. Sempet ada satu mahasiswi yang berminat dengan exoplanet untuk Tugas Akhirnya. Namun, di tengah jalan ia beralih menekuni asteroid. Dan sejak saat itu belum ada lagi yang naga-naganya akan bekerja di bidang ini. Dengan hadirnya Komet (ssssaaaaaaaaaaaaaaah! swit2!), sangkaan saya salah. Senangnya.... Sepertinya apa yang sudah saya kerjakan nggak sia-sia *terharu*.~~~~~Catatan: Gambar diambil dari empowerwomannow.
Setelah mati-matian menyelesaikan draft tesis selama 3 malam, perjuangan belum berhenti. Ada sesuatu yang harus dikerjakan lagi dengan tabel-tabel dan grafik-grafik. Analisis lagi. Ditemani seekor kucing pemalas yang haus dibelai (dasar kucing sombong tapi manja!).
Belum lagi berjuang melawan kemalasan. Baru pertama kali ini menghadapi deadline dengan kemalasan. Opo tumon? Saya sendiri juga heran. Waktu terus melaju dan tahu-tahu hari Rabu menjelang. Hiyeeeeeeee, sehari menjelang sidang. Deg-degan. Ketika latihan sidang banyak yang terlupakan. Siapa suruh nggak belajar kan?
Kamis, jam 9. Ruang seminar 2 masih lengang. Hanya segelintir orang. Beberapa yang telah menghadiri sidang pagi tadi jam 8.
Dengan slide berlatar belakang hijau, pekerjaan saya paparkan. Argumen demi argumen. Bagai memutar pita rekaman. Pun masih belepotan. Satu jam berlalu kemudian. Juri keluar ruangan. Tak berapa lama mereka datang. Boleh lulus saya dinyatakan. Lho, sebenarnya tidak boleh kah? :p Ya sudahlah, pokoknya sudah selesai. Jenjang S2 sudah terlampaui. Lalu entah apalagi nanti. Dengan demikian, saya sudah bisa nonton dengan khusyuk Hanazakari no Kimitachi e malam nanti <LOL> ~~~~~ Kenapa gambarnya Mark Twain? Ya biarin :p
Ini salah satu efek nodame, efek setelah mengikuti komik, anime, dan dorama Nodame Cantabile. Apakah itu? Nonton resital piano. Penasaran seperti apa. Yap, malam minggu lalu saya isi dengan nonton resital piano oleh Alpin Limando. Tenang, tenang, belum di hall somename somewhere. Di auditorium CCF Bandung dengan tiket pelajar (Rp 10.000,00). Semula saya pikir, seperti dalam Nodame, ada dress code (baca: pakaian formal) untuk menonton resital. Tapi, ketika saya tanyakan pada teman yang saya anggap lebih tahu, dia cuma komentar, "di CCF ini, nyantai saja. Belum di hall kan?" Ya sudah. Saya setengah nurut. Kenapa saya bilang setengah? Karena masih takut salah kostum, saya tetap berkostum rapi (versi saya) meski belum bisa dikatakan formal: jeans dipadu tunik serta sepatu berhak. Ternyata teman saya benar 100%! Ya sudahlah nggak apa-apa. Nggak ngaruh ini :p
Jadi, Alpin, yang telah memenangi beberapa kompetisi piano dan tampil di sejumlah konser dan berkolaborasi dengan pianis dalam dan luar negeri, mengawali resitalnya dengan Ravael - Le Tombeau de Couperin. Prelude-Forlane-Rigaudon. Kemudian disusul dengan Beethoven - Sonata Op.28 in D Major (allegro, andante, scherzo-trio, rondo). Saya menduga pilihan ini untuk menunjukkan kemampuan teknik demi melihat kecepatan sekaligus gemulai jari Alpin menari di atas tuts piano. Murni dugaan karena saya tidak punya pengetahuan mengenai ini. Sama sekali tidak punya. Pada sesi intermission Alpin mempersembahkan berturut-turut Chopin - Ballade Op.23 in G Minor, Liszt - Lieberstraum, dan Chopin - Scherzo Op.31 in B-flat Minor. Nah, sekali lagi saya menduga mungkin itu favorit dia, terutama yang Chopin. Nggak tahu ya. Namanya juga dugaan. Bisa meleset banget tuh. Soalnya Chopin bikin jantungan. Nggak lagi denger pake kuping tapi juga jantung hikhikhik. Soalnya denyutan jantung serasa naik turun sesuai alunan musik. Sssssaaaaah. Nggak juga kali ya. Karena udah "merasuk" aja kali ya setelah 2 pemanasan di depan. Heuh, sayangnya beberapa saat menjelang Liszt usai terdengar dering telepon. Saya pikir saya salah dengar karena deringnya seperti telepon rumah. Tapi, makin lama makin keras. Orang-orang menggerutu. Untungnya tidak ada sepatu-sepatu berterbangan. Sudah diingatkan untuk me-non-aktifkan nada dering HP kok ya masih ada saja yang lupa. Suara pengumumannya memang nggak begitu jelas sih.
Well, saya nggak bisa berkomentar tentang musiknya sendiri karena, sekali lagi, saya nggak punya pengetahuan musik yang memadai. Apakah 1.5 jam melihat resital cukup berharga? Hmm, paling tidak saya sudah memenuhi rasa penasaran saya.
Kemarin siang, sambil rapat evaluasi, rekan saya membuka-buka halaman koran. Saya, yang duduk di seberangnya, sambil lalu memperhatikan. Flap.... flap.... flap.... fl- 'Eh, siapa tuh yang ganteng?" seru saya spontan demi melihat sepotong wajah tampan. Dia langsung berhenti membuka koran. Tertohok mungkin karena dia, bagaimanapun, adalah seorang laki-laki. Eh, ada hubungannya nggak sih? :p Baru dia mengulurkan halaman yang saya maksud. Dan.... hikhikhik.... Kaka rupanya. Kaka dengan setelan hijau lumut. Cakep. Jarang sekali pemain sepakbola Brazil, sepanjang yang saya tahu, yang cakep hehehe. Bukan itu sih yang jadi intinya. Yap, para penggila bola m estinya sudah tahu kalau 3 pemain AC Milan dinobatkan menjadi pemain terbaik Eropa. Kaka, Maldini, dan Seedorf, masing-masing untuk pemain terbaik, bek terbaik, dan gelandang terbaik. Whoooo! Milan cuma "melewatkan" kiper terbaik. Tahun ini Petr Cech dari Chelsea yang mendapatkannya. Setelah kena hukuman atas kasus pengaturan skor, AC Milan malah berjaya. Memenangi Liga Champions. Dan sekarang 3 pemainnya meraih gelar terbaik.
Hmm, ya, ya, ikut senang untuk Kaka yang fotonya memenuhi setengah halaman koran. Saya berharap ada foto Maldini juga. Tapi, tidak ada. Seupil juga tidak. Sejak saya kenal pertandingan sepakbola internasional, yakni sejak Piala Dunia 1994, Paolo Maldini menjadi pemain favorit saya. Alasannya sederhana saja: sebagai kapten dia kharismatik. Sejak tahun itu tentu saja pemain-pemain baru banyak bermunculan. Banyak yang berprestasi dan diperebutkan klub-klub sepakbola. Tapi, tetap saya memfavoritkan Maldini. Sudah lama saya tidak mengikuti sepakbola hingga Piala Dunia 2006 lalu. Walau menemukan favorit baru, Robin van Persie, Maldini masih tak tergeser. Biasanya cewek suka pemain sepakbola tertentu karena alasan tampang. Yaa, katakanlah saya termasuk di dalam himpunan-cewek-penyuka-pemain-sepakbola-cakep. Maldini? Dibanding dengan pemain-pemain muda sekarang, dia mungkin kalah karena sudah tua hehehe. 39 tahun! Tua untuk seorang pesepakbola. Tapi justru karena itu, meski sudah berumur lanjut, dia masih prima di lapangan. Salut lah pokokna mah. Wajar kalau tahun ini dia mendapat anugrah pemain belakang terbaik.

Nah, nah, siapa pemain sepakbola favoritmu? Di antara merekakah?
Saya sudah berharap banyak begitu melihat baligo Bandung International Folklore Festival di gerbang kampus. Bakal menarik melihat tarian dan sebangsanya dari berbagai mancanegara. Mana bisa melewatkan event seperti ini. Gratis pula. Maka saya perhatikan benar waktu dan tempatnya, kapan dan di mana. 31 Agustus, 17.15-20.00; ITB.
Jadi, pada hari-H, jam 5 sore saya turun dari lantai 4 prodi astronomi. Janji bertemu dengan teman di jalan antara Gedung Biru dan Gedung Mesin (berdekatan dengan gedung tempat prodi astronomi berada, kira-kira sejarak 3 menit jalan kaki) baru ke lapangan basket kampus, tempat festival digelar. Saya kira 15 menit cukup untuk itu semua dan tidak akan terlewatkan barang semenit pun. Ternyata, kami telat! Sudah dimulai! Dari kejauhan terdengar suara musik (mungkin kastanyet?). Para penari dari Spanyol rupanya. Para penari perempuan mengenakan blus putih, rok mengembang, celana selutut berenda seperti yang dikenakan Laura Ingeals dalam film Little House on The Prairie, kaus kaki, dan rambutnya digelung. Pita panjang disematkan di rambutnya. Para pria mengenakan blus putih, celana hitam selutut, kaos kaki putih, dan rompi hitam. Mereka menampilkan tarian yang tidak saya tahu namanya dan biasanya digelar dalam event apa. Mungkin tari pergaulan? Barangkali. 2,5 tarian saya tonton. Tepuk tangan bergemuruh. Mereka meninggalkan panggung. Saya berharap selanjutnya adalah penampilan dari negara lain. MC naik ke panggung. Bla.... bla.... bla... sampai jumpa di international folklore festival selanjutnya! Lho??? Saya dan teman saya saling bertukar pandangan. Serius? Sudah selesai? Kita nggak salah lihat jam? Saya masih berharap saya salah dengar, tapi penonton bubar dan tak seorang penampil naik ke panggung. Benar-benar sudah selesai rupanya.
Kami masih terheran-heran. Jadi, kami berusaha memastikan. Kami menuju tempat baligo dipasang. Tidak. Kami tidak salah lihat jam. Lalu kenapa? Kami menduga masing-masing venue tidak menampilkan keseluruhan peserta festival (mungkinkah hanya 1 negara?). Yah, apa boleh buat. Tapi, ya itu tadi. Mbok yang jelas (dan nggak bohong) kalau menginformasikan waktu. Heuh. Temannya bawang banget deh: cabe deeeeeeh.
Seperti yang sudah saya bilang sebelum-sebelumnya (mudah-mudahan nggak eneg ya dengernya :p), akhirnya saya bisa belajar langsung dari sang penemu extrasolar planet pertama walau hanya untuk 2 minggu. Di akhir perkuliahan beliau memberi tahu referensi yang diacunya. Sebuah buku terbitan Springer, Extrasolar Planets. Beliau menjadi salah satu editor buku tersebut. Maka saya berniat memilikinya. Fotokopian juga tak apa. Bukan karena Didier-nya loh. Referensi di perpustakan prodi tentang extrasolar planet minim sekali. Saya pikir bakal susah mendapatkan buku aslinya. Masalah harga sebenarnya. Dan saya tidak sendiri rupanya. Seorang rekan dari Argentina mengatakan bahwa institusinya bakal susah mendapatkan buku tadi. Too expensive. Ternyata kondisi yang dialami perpustakaan kami sama saja. Terima kasih banyak untuk sekretaris sekolah yang mengopi ratusan halaman buku.Dan tentunya saya tidak melewatkan untuk meminta tanda tangan dari Didier. Kapan lagi coba, punya buku - walau cuma fotokopian - yang ditandatangani langsung sama idola yang menjadi editornya. Saya mendapatkannya dengan mudah. Nggak cuma tanda tangan dong pastinya. Bonus kata-kata harapan. Norak nggak sih saya ini? Ah, tapi, siapa peduli :pSampai di Indonesia lembaran-lembaran fotokopian buku tadi masih saya simpan rapi di amplop yang dikasih sekolah. Tiap kali usai saya baca, saya kembalikan lagi ke amplop tadi. Ah, pokoknya hati-hati banget :p Tulisan Didier semacam me-recharge semangat mengerjakan tesis lagi yang terhenti selama ditinggal summer school.
Jumat lalu saya - akhirnya - baru bisa menunaikan niat saya memfotokopi fotokopian buku tadi untuk dosen pembimbing saya dan perpustakaan Prodi Astronomi. Baru selasa malam saya meluangkan waktu untuk mengambilnya. Dan.... tanda tangan itu lenyap! Saya langsung patah semangat. Bete sebete-betenya! Duh, kok ya tukang fotokopiannya sok tau banget kalau tanda tangan itu mengganggu dan menutupi bangian di sebelah halaman judul tempat tulisan Didier berada baru kemudian difotokopi. Saya pikir yang asli tidak akan dihapus. Ternyata... sama saja, saudara-saudara. Cover fotokopian asal diganti dengan cover fotokopian tadi. Heuh, speechless deh. Dimana saya bisa mendapatkannya coba? Saya berharap masih ada berkasnya. Tidak, saudara-saudara! Sampah-sampah di tempat fotokopian sudah dibersihkan (ya iya lah dari Jumat gitu loh). Rasanya seperti lirik lagu Dewa: separuh nafasku terbang bersama dirimu ... Nangis sampai air mata kering juga nggak bakal mengembalikan lembar halaman muka dengan tanda tangan Didier itu. Nuntut juga bakal nihil hasilnya. Tapi, sumpah, bete banget. Banget! Bukan sekedar tanda tangan. Kalau cuma tanda tangan di sertifikat kelulusan sekolah saya juga ada tanda tangan beliau. Tapi bahwa Didier menuliskannya dengan riang.... dan " to Ratna, may all your dreams come true" dari Didier.... dan pastinya, itu bukti otentik tulisan Didier dong! Punya nilai historis buat saya! Nggak bisa diulang. Seandainya bisa bertemu lagi dan beliau mau memberikan tanda tangannya lagi tetap saja beda. Beda! Beteeeee. Bisa-bisanya tukang fotokopian menganggapnya bukan apa-apa. Huhuhuhuhuhuhuhuhu... Ya iya sih dia kan nggak tahu seberapa berartinya Didier buat saya. Tapi, masak sih nggak ngerti kalau ada tanda tangan dengan tulisan seperti yang sebut di atas plus with best wishes nggak bermakna apa-apa? Tukang fotokopiannya nggak mudeng bahasa Inggris kali ya. Huhuhuhuhuhuhu... pokoknya masih bete. Seratus alasan rasa-rasanya nggak bisa nyembuhin kemangkelan saya. Saking kesalnya saya rada nyumpah gitu: ya udah deh, suatu hari nanti pokoknya harus bisa berkolaborasi sama Didier di dunia extrasolar planet atau ambil PhD di bawah supervisi dia; kalau gitu baru deh impas. Kan katanya doa orang yang teraniaya itu makbul. Jadi, daripada macem-macem, doa buat (kebaikan) diri sendiri aja :p
StarGen, dan secangkir kopi dengan rasa semriwing di langit-langit mulut dan suara lagu-lagu baheula dari radio dan dengungan kipas komputer dan semilir angin yang berhembus lewat jendela dan lambatnya koneksi internet
StarGen, dan mencari hubungan antar source dan dimana saja pengaruh abunde dan atmosfer dan kelas planet di mana, di mana
@Ruang Pasca, 31 Juli, 16:39
 di hari yang secerah ini pun langitku tak sebiru langit negerimu, tanya kenapa
@di antara GKU Barat dan Labtek II, 31 Juli, around 1:30 PM
Akhirnya... setelah menghitung hari dari tiga puluh tiga hari, tiga puluh dua, tiga puluh, dua sembilan... dst., fuaah, besok, insya Allah, saya berangkat ke negeri spagetti. Hope I have save and comfortable trip. Capek-capek ngurus pasport dan visa? Sudah lupa tuuuh :p. Yang tersisa adalah nervous hehehe. Deg-degan banget.
Ya sutra lah, sampai ketemu lagi ya. Mudah-mudahan tetap bisa meng-up-date blog begitu sampai di sana. Arrivederci, Indonesia. Selamat tinggal, Indonesia.
Di ruang pasca, di antara maju-mundurnya niat bimbingan atau tidak hari ini, saya meneruskan membaca artikel yang semalam bernasib menjadi bantal. Jumatan menjelang, perut saya keroncongan. Saya tandaskan bekal makan siang. Masih sempat saya teruskan membaca baris-baris yang menjelaskan methanogen, mars dan bumi purba, gas hidrogen sekian persen sambil mendengarkan lantunan musik Beethoven dari winamp sebelum akhirnya mata saya terasa berat. Saya rebahkan kepala di meja dengan earphone masih terpasang. Ingatan saya dalam waktu sekejap hilang. Beberapa menit kemudian -- saya tidak tahu berapa lama -- saya terjaga. Saya masih mengumpulkan nyawa demi nyawa dan masih menatap halaman artikel yang sama ketika ada suara memanggil nama saya. Suara berasal dari arah pintu. Saya menoleh dan....Whoopsie, my thesis advisor! Untung saya sudah bangun, batin saya.
Pembimbing saya langsung saja mendudukkan dirinya di kursi sebelah. Program untuk plot sudah beres katanya. Tinggal bagaimana membuat link untuk OS windows. Masih tertegun-tegun karena kaget (dan malu) saya cuma sanggup mengiyakan. Duh, kok ya pas kakiku telanjang. Kebiasaan malas pakai alas kaki kalau di ruang pasca....
Setelah tetap tidak mengerti (dan belum terbayang) bagaimana link tadi dibuat, saya beranikan diri menanyakan apa minggu depan seminar saja dulu. Beliau balik bertanya begini, "Sudah siap?" Oh, telak! Merasa diri belum siap saya berjanji akan membuat tulisannya dulu (aaaaah, janji-janji melulu. Janji adalah hutang tauuuuu :p). Bikin file presentasinya dulu lalu Senin atau Selasa nanti coba perlihatkan, pintanya. Ya, Pak. Sudah coba run StarGen dengan mengubah-ubah komposisi kimia, tanyanya lagi. Belum, Pak....
Heeuuh, kapan sih nggak dodol? ~~~~~ Note: photo courtesy of Ratna.
Hadoh, malam minggu dan long weekend kok di lab... Me-run program yang lamanya na'udzubillah gara-gara memori komputer seiprit. Terima kasih tak terkira untuk Vivi yang rela meminjamkan memori; dan juga untuk Bang Ferry yang sudah menunggu sejam dan memasangkan memori 128 megabyte.
Ya sutra lah. Toh ini kemauanku sendiri. Tinggal tiga minggu lagi, dear, sebelum aku pergi. Kan aku sudah janji sebelum pergi harus sudah sidang tesis. Udah gitu kan hari-hari sebelumnya, selama di Jakarta untuk mengambil visa, aku sudah merasakan liburan. Sempat nonton wayang malahan. Oh, dear, will I make it in time?
Oh, aku tidak akan lama. Aku akan pulang segera. Jam delapan di TV ada pertandingan sepakbola. MU versus Chelsea. Kamu dukung yang mana, dear? Kalau aku sih sudah jelas. Di antara MU dan Chelsea aku pilih van der Sar. Hahaha. Take care, dear.
My application was
selected. Alhamdulillah. Aplikasi untuk menjadi peserta Vatican Observatory Summer School yang
akan dimulai bukan Juni nanti di Castel Gandolfo,
Roma, Italia. E-mail pemberitahuannya tiba hari Jumat lalu. Jangan tanya
bagaimana rasanya. Senaaaaaang sekali, sampai-sampai ingin melompat
setinggi-tingginya dan menari-nari. Satu langkah lebih dekat menuju impian bisa
keliling dunia haha.
Intensitas kegembiraan sudah menurun sekarang. Get real! Saya masih punya utang tesis.
Saya masih ingin ikut wisuda Juli 2007. Itu artinya sebelum berangkat saya
sudah harus menyelesaikan tesis dan sidang. Segila apa mahasiswa S2 seperti
saya menyelesaikan tesis dalam waktu kurang dari empat bulan diselingi kuliah
pilihan 2 SKS dan mengurus dokumen-dokumen serta mungkin mencari uang saku.
Fyuuuh.
Saya mengerti apa yang kita inginkan tak selalu kita
dapatkan, apa yang kita dapatkan tak selalu apa yang kita harapkan. Kali ini
saya merasa… apa ya… ajaib bukan kata yang tepat, tapi anggaplah begitu. Saya
punya teman yang gila bola, terutama Liga Italia, dan bercita-cita pergi ke
Italia. Dia malah mendapat beasiswa S2 ke Jepang. Saya, penggila komik Jepang
sampai bercita-cita ingin pergi ke Jepang, mendapat kesempatan mengikuti summer school di Italia. Haha. Kami sih
saling mendukung saja.
Ouh, saya mulai membayangkan yang aneh-aneh. Saya belum
pernah naik pesawat (bahkan untuk penerbangan domestik), belum pernah ke luar
negeri, dan nanti saya pergi sendiri ke negara yang bahasanya tidak saya mengerti
kecuali grazie –terima kasih. Gimana
nanti kalau dikejar-kejar mafia? Haha, norak dan berlebihan deh. Aduuh, nggak
sabar menunggu bulan Juni, ketemu Didier Queloz, berkenalan dengan 26 orang
dari 21 negara lainnya, daaaan tentu saja naik gondola haha. Ya wes, mohon doa restunya ya.
~~~~~ Gambar di kanan atas itu Castel Gandolfo, diambil dari sini.
Apa pekerjaan yang menyebalkan? Seringkali saya jawab: menunggu. Menunggu sering bikin jengkel. Janjian jam sekian, rekan janjian baru datang satu jam kemudian. Kalau tidak ada keperluan sih nggak masalah. Tapi toh tetap saya merasa jengkel terutama kalau lagi bad mood hehe. Saya bukan orang yang kelewatan disiplin sebenarnya. Kenapa saya nggak suka menunggu adalah karena kalau menunggu lama-lama saya jadi bosan, celingak-celinguk kayak orang hilang (terutama kalau janjian di tempat umum). Biasanya saya bawa buku untuk teman menunggu. Masalahnya kalau terlalu masuk ke dalam buku, saya jadi nggak sadar lingkungan -- nggak ngeh kalau dipanggil misalnya. Dan saya juga tambah jengkel kalau nggak ngerti-ngerti kalimat yang saya baca. Pelampiasannya saya jadi suka merhatiin orang yang lalu lalang. Syukur-syukur kalau muncul inspirasi yang bisa jadi sama sekali nggak berhubungan atau cukuplah "Eh, si mas/mbak/om/tante itu kok ngingetin gue sama xyz, apa kabar ya dia/beliau."
Menunggu giliran alias ngantri bisa menjengkelkan. Ini kalau ada yang dengan seenaknya nyerobot. Dia pikir dia saja yang pengen cepet dilayani? Ah, coba naik kereta api kelas tiga. Ngantrinya luar biasa. Nyerobot? Nitip orang yang sudah di depan padahal nggak kenal? Alaaah, mau maki-maki sendiri rasanya percuma. Perlu orang sestasiun protes deh baru tahu rasa hehehe *hiperbola*
Menunggu sesuatu yang tidak pasti. Makan hati. "Aku tidak bisa memutuskannya sekarang." Ok, tidak apa-apa, saya akan menunggu. Tidak mendesak kok. Satu hari, dua hari, dan seminggu tidak ada tanda-tanda jawaban. Nah, kalau sudah begini ya apa boleh buat. Dadagh! Tidak berani berharap yang "iya-iya" hehehe.
Menunggu balasan e-mail dari "orang penting". Hahaha. Sampai bolak-balik sign-out dan sign-in. Duuuh, kenapa sih kok nggak bales-bales. Sibuk bangetkah sampai-sampai nggak sempat balas? Begitu dapat langsung senyum-senyum. Saya pernah daftar jadi peserta summer school via e-mail (sesuai prosedur). Panitianya membalas e-mail saya bla-bla dan "sebelum akhir Januari akan diinformasikan hasil seleksi" (begitu deh kira-kira). Berharap dong jadinya. Sekarang sudah Februari tuh dan e-mail pemberitahuan belum tiba. Yah, mungkin yang daftar banyak sehingga seleksinya lama -- saya masih tetap berdoa mudah-mudahan saya jadi salah satu pesertanya :)
Menunggu langit cerah saat observasi? Kalau instrumen sudah disiapkan dengan baik, semangat menggebu-gebu untuk mengumpulkan data, perut juga sudah diisi untuk begadang, kopi juga sudah habis diseruput, rasanya..... AAAAAAAAAARRRRRRGGGGGH! Tak terkatakan! Apalagi kalau berdasarkan pertimbangan-pertimbangan astronomis, hari h jam j sampai k adalah waktu yang paling baik untuk observasi. Ah, tapi buktinya saya bisa menamatkan nonton Lord of The Ring (extended version lho!) dalam kondisi begitu hahaha. Puas deh liat Aragorn *luv*
Ada menunggu yang bikin saya gelisah. Menunggu saatnya pulang, menunggu saatnya berkumpul lagi dengan teman-teman, menunggu saatnya travelling dimulai.... Gelisah sampai rasanya nggak mau ngerjain yang rumit-rumit dan banyak mikir. Senengnya pulang kembali, reuni, jalan-jalan sudah dimulai sejak packing, mempersiapkan bekal/oleh-oleh, bahkan sekedar menyiapkan pakaian terbaik/ternyaman yang akan dikenakan. Saya takjub sewaktu rekan saya bercerita bagaimana sebelum dia pulang ke Indonesia sempat kontak dengan dosen pembimbingnya mengenai code or something I forgot lalu dosen pembimbing itu bilang, "Kamu masih punya waktu setengah jam kok buat ngerjain sebelum berangkat." Doeng! Nggak kebayang deh. Thank God I was not there hihihi. Nggak bisa konsentrasi!
Menunggu hujan reda seperti saat ini? Ho-ho-ho, saya suka hujan. Jadi, tidak mengapa :) Apalagi kalau tukang baso lewat. Makan baso panas dingin-dingin begini pasti nikmat. Aduh, tapi mana mungkin tukang baso lewat di lantai empat??! ****
Fyuuuh, gara-gara nunggu mau makan-makan karena ada yang dapat nilai A (sepertinya nggak jadi nih, hik's) malah nulis beginian....
Ujian Akhir Semester (UAS) sudah berakhir.... buat saya. Buat yang masih dan akan UAS lagi setelah libur Natal dan Tahun Baru,
Selamat berjuang menghadapi UAS! You'll survive!
Senang, UAS sudah berakhir. Ya iya, cuma ngambil satu mata kuliah pilihan gitu loh. Semester ini saya cuma kuliah Fisika Benda Kecil Tata Surya. UAS-nya tadi pagi. Sifatnya terbuka ( open book). Itu artinya saya boleh mengerjakan di mana saja saya suka (labkom tentunya!) dengan membuka referensi apa saja yang terkait. Bertanya pada rekan tidak termasuk yaaa. Rekan yang mana wong saya satu-satunya peserta kuliah ini :p Hikhik, saya jadi nggak enak bodi nih dengan teman-teman S1 yang mengambil mata kuliah sejenis dengan dosen yang sama. UAS mereka bersifat tertutup ( close book). Tenang saja kawan, ingat kata dosen yang bersangkutan: nilai itu nggak penting, cuma formalitas, yang penting kalian ngerti.
Iya, benar lho. Terasa kan belajarnya? Mengenal hal-hal baru? We got something! Lulus lah, insya Allah.... dengan nilai yang memuaskan. Amiin. Setiap akhir semester di kampus saya (saya nggak tahu bagaimana di kampus lain) mahasiswa diberi kuesioner mengenai mata kuliah-mata kuliah yang diambil. Salah satu pertanyaan dalam kuesioner adalah: apakah tingkat kehadiran anda tinggi dalam mata kuliah ini. Dengan bangga saya menghitamkan bagian yang menyatakan saya setuju dengan pernyataan ini. Bagaimana tidak, saya nggak pernah membolos. Bagaimana saya nggak pernah membolos, wong saya satu-satunya peserta. Saya rasa akan rumit jadinya kalau bikin alasan membolos dan pasti lebih banyak nggak enak hati kalau sampai nyari-nyari alasan untuk nggak masuk hehe. Jadi, menurut saya, biar terpicu untuk rajin kuliah (minimal rajin datangnya, kalau rajin mengerjakan tugas mah yaa kumaha masing-masing lah hehe) ambillah kuliah-kuliah yang kemungkinan besar kamu satu-satunya mahasiswa. Atau cuma berdua. Kalau di Prodi Astronomi memang banyak peluang untuk kuliah sendiri. Serasa les privat dengan dosen hehe. Nggak banget ya? Saya terlalu gembira dengan selesainya UAS ini sih. Soal cuma dua. Isinya penjelasan semua, tidak ada perhitungan. Alhamdulillah, di saat-saat terakhir menemukan paper yang konteksnya persis dengan pertanyaan yang diajukan. So, I guess I need no worry about this course. Yeah! Amiin. OK, sekali lagi, selamat UAS, selamat libur, dan selamat UAS lagi hehe. Ups, proposal thesis menanti! Allright, i'll do it, i'll do it, i'll do it....
    Sudah diputuskan bahwa saya akan menceburkan diri dalam habitable zone (zona layak huni, sementara ini saya terjemahkan demikian) untuk tesis saya. Keputusan ini resmi diambil kemarin, Senin (18/12), saat saya dan Vivi melaporkan diri pada yang berwajib eh pada dosen pembimbing kami: Mr. T. Keputusan yang sama sekali tidak mengejutkan. Bahkan saya sendiri cenderung memilih itu kalau misalnya diajukan pilihan lain. Keputusan lain yang membuat saya senang adalah riset tentang transit tetap boleh dilanjutkan, di luar tesis tentu saja, dan pasca tesis ada "permainan" lain yang sudah menanti: SPH - Smoothed Particle Hydrodinamic. Keputusan yang sama sekali tidak mengecewakan. I love u, Mr T. Hahahaha. Mau tidak mau saya akan menjalani "karma" programming lagi. Saat ini saya tidak mau memikirkan susahnya, mengingat kemampuan programming saya yang memble, tapi yang saya ingat adalah saya ingin bekerja seoptimal mungkin dengan tesis ini (dan riset-riset selanjutnya, amiiin), lalu ikut wisuda Juli 2007. Doakan saya, teman-teman....  Kok, buru-buru pengen lulus? Sekolah terus itu menyenangkan (ujiannya yang nggak :p), tapi bagaimana lagi, sekolah kan nggak gratis. Beasiswa cuma berlaku untuk 4 semester. That means semester depan (idealnya) adalah semester terakhir program beasiswa saya. Saya nggak mau bayar kuliah sendiri dong, aaaah. Baiklah, keputusan sudah diambil. Pelaksanaannya? Saya akan berjuang! *dengan gaya a la peserta Takeshi Castle*. Doakan ya teman-teman P.S: Antara judul dan isi nggak nyambung ya hehehe. Baca postingan saya sebelumnya deh biar nyambung hikhik. Foto-foto diambil dari sini, sini, sini, dan sini.
Hiks, saya tidak lolos seleksi untuk berpartisipasi dalam the 29th International School for Young Astronomers 2007 (ISYA 2007) yang akan digelar di Malaysia. Sabtu lalu (16/12) surat resmi dari Agensi Angkasa Negara (ANGKASA) - LAPAN-nya Malaysia gitu deh - tiba. Sebelumnya sudah ada pemberitahuan via e-mail dari contact person di Malaysia (Mr. Fairos). Di sampul surat tertulis URUSAN SERI PADUKA BAGINDA.
Hahaha, serasa dapat segulung perkamen dari raja. Hahaha, serasa hidup
di jaman Majapahit. Hahaha, serasa Cinderella yang dapat undangan pesta
dansa dari pangeran.  Aduuuh, maaf, memang bahasa Malaysia masih terasa aneh bagi saya.  Uhm, well, batal deh rencana jalan-jalan ke Kuala Lumpur dan P. Langkawi. Batal deh lihat (dan mungkin mengoperasikan) robotic telescope yang katanya di-assembly sendiri oleh mereka dari produk optic dan mounting yang berbeda. Tak satupun dari mereka yang astronom! Saya jadi "gerah" mendengarnya. Hikhikhik, mungkin kekotoran hati saya tercium oleh panitia seleksi sehingga saya tidak diloloskan. Selain itu, saya juga masih "dendam" atas kasus Sipadan-Ligitan dan nasib TKI di Malaysia (yah, pemerintah kita juga payah sih dalam melindungi warga negaranya sendiri). Ah, mungkin karena "dendam" inilah saya tidak bisa menjadi salah satu young astronomer yang hadir di ISYA bulan Maret nanti. Eh, sebenarnya saya masih heran kenapa riset saya tentang extrasolar planet - planet di luar Tata Surya kita - tidak sanggup mengantarkan saya ke sana "secara" topik ini sedang hangat dan saya satu-satunya kandidat yang berbasis planetary system di antara kandidat-kandidat lain dari Indonesia. Ceunah, kata dosen yang akan menjadi pembicara dalam ISYA (tapi tidak ikut serta dalam penyeleksian), topik saya masuk kategori astrophysics, seperti kebanyakan kandidat-kandidat lain *sigh*. Ah, mbuhlah.... It's allright. Hikmahnya adalah: - Saya tidak perlu repot-repot mengurus paspor dan visa, setidaknya dalam waktu-waktu ini, di saat saya sedang menderita kanker - kantong kering.
- Saya bisa fokus mengerjakan thesis dan riset. Semoga saya bisa konsisten. Amiin.
- Saya tidak perlu meninggalkan kuliah. Masih ada 2 SKS kuliah pilihan yang harus saya ambil semester depan. Saya tidak terlalu kuatir sih soal kuliah pilihan ini karena pengajarnya dosen pembimbing saya sendiri hahaha.
Satu hal yang ingin saya sampaikan sebagai penutup (halah, seperti pidato saja): ganyang Malaysia! Haha... Teuteup :p
Kejadian kemarin…
What a day! BT karena terbangun
jam setengah dua pagi dan nggak bisa tidur lagi sampai benar-benar pagi. Sudah
begini terus beberapa hari ini. Kepalaku rasanya mau pecah, mataku rasanya
enggan membuka. Tapi, kemauanku mengatakan aku harus melakukan ini itu
sementara kepala dan mataku, dua “senjata” selain tanganku, untuk mengerjakan
ini itu tadi sedang tidak dalam kondisi ready
to fight.
- Membaca paper. Jelas kau butuh mata untuk
mengeja kalimat dan butuh kepala untuk memahaminya. Dalam waktu satu jam
aku tidak berpindah paragraf!
- Menulis terjemahan. Kau butuh mata untuk membaca
naskah, kepala untuk menafsirkan makna, dan tangan untuk mengetik.
- Kuliah.
Kau butuh mata untuk melihat isi presentasi dosen. Kalau kau memejamkan mata di
kelas dalam kondisi tidak sadar (baca: tidur), jelas kau berpeluang kehilangan
momen dosen menjelaskan isi kuliahnya. Bagaimana kalau itu bagian yang penting?
Kepalaku berusaha mengangkap dan merangkai informasi. Hampir 90 menit kuliah
aku masih belum menangkap apa beda antara pernyataan Clark dan Chapman dan aku
masih belum bisa mencamkan kaitan warna-usia-cratering-space weathering.
Sebenarnya materi kuliah hari ini cukup fundamental. Hik’s.

What a day! I even could not
steal a few wink di antara jam makan siang dan jam 5 sore, menunggu pertemuan
angkatan dengan Sekretaris Program Studi. Sial, kurasa hari ini benar-benar keterlaluan. Nggak ada progress yang signfikan. Bahkan internet
pun begitu lambat mengalir. Setetes, setetes.... dan akhirnya problem loading page!
What a day! Sore menjelang pertemuan aku bercanda dengan teman-teman. Tentang
ISYA 2007 (baca: jalan-jalan ke Malaysia) dan VOSS 2007 (baca: jalan-jalan ke
Italia). Jalan-jalan ke Italia sebagai hadiah sidang kelulusan lah. Jalan-jalan
melulu, tesis belakangan lah. Ditawarin kerja di Malaysia lah karena mereka
kekurangan SDM lah. Jadi sedikit serius waktu ada mahasiswa S1 yang bertanya
tentang sunspot – bintik Matahari. Lalu,
tibalah jam 5. Aku jadi sedikit gelisah setelah tertawa terlalu banyak. Ada apa
gerangan? Kemudian tanpa basi-basi dibeberkan apa maksud pertemuan itu. Tentu
saja bukan bagi-bagi angpau! Seminar proposal tesis maksimal tanggal 10 januari
2007. JEDER! Kalau ada petir menyambar – saat itu sedang hujan deras di luar –
lalu lampu padam dan yang tampak hanyalah seringai Sang Sekretaris Proram Studi
dengan kumis baplangnya, suasana pasti akan lebih dramastis lagi. Ya, aku
merasa tertampar. Aku merasa disadarkan bahwa aku mahasiswa magister tahun ke-2
dan sekarang saatnya menyusun tesis, bukannya main-main melulu. Ooooh, tiba-tiba saja gambaran indah KL,
Pulau Langkawi, Castel Gandolfo, gondola di Venesia buyar. Lunglai aku keluar dari ruang rapat
program studi. Oh, Ya Tuhan, aku pernah merasa seperti ini. Dulu. Saat
kepercayaan diri nyaris runtuh karena merasa diri paling yang tidak siap,
paling ”nggak banget” di antara teman-teman seangkatan. Ugh, padahal
mengangankan akhir tahun ini banyak bersenang-senang tanpa memikirkan terlalu
berat tentang tesis. Tanggal 16 temanku mengajak jalan-jalan. Tanggal 24 ada gathering ’99 lagi, menyambut rekan yang
pulang dari Jepang.... huhuhuhu.... kenapa oh kenapa.... Oh, ya, satu lupa, aku
janji nonton bareng pula!
What a day! Di saat seperti ini thesis advisor-ku sedang menjalankan
bela negara (baca: mendampingi delegasi Indonesia dalam laga Asia Pasific
Astronomical Olympiad) di Rusia. Huhuhuhu… seandainya saja aku juga di sana, bertemu beruang
kutub yang imut-imut pun tak mengapa asal bisa bertemu dengan Hyoga dengan
debu-debu intannya. Lho, kok jaka sembung, nggak nyambung?! Kepalaku sudah
semakin kacau.
Jadi, simpulannya, oh thesis advisor-ku, cepatlah pulang dan
kita bahas tesis-ku ini. Transit extrasolar
planet ataukan habitable zone?
Rasanya seperti disuruh memilih black forest atau tiramisu, cokelat atau es
krim, dua-duanya sama-sama kusuka… huhuhuhu. Oh, Pak, cepatlah pulang…. Oh,
tapi aku belum cek data extrasolar planet
milik Schneider dan bikin statistiknya, aku belum paham betul code untuk fitting kurva cahaya, aku belum memfasekan ulang kurva cahaya…. Oh,
mataku, kepalaku! *Panic mode on*
Pagi tadi, di kos, saya duduk di kursi dekat tangga. FYI, ini salah satu spot di kos yang saya suka. Begitu naik ke lantai dua, lantai tempat kamar saya berada, di seberang ada jendela dan di dekat jendela itu diletakkan sepasang kursi dan meja tempat telepon. Di situ hawanya enak. Kalau di kamar saya kadang-kadang gerah, di situ angin semilir berhembus dari jendela kecil bertingkap di kelokan tangga.
Dan duduklah saya pada salah satu kursinya. Secangkir kopi panas di meja di depan saya. Di dekatnya terletak piring kecil dengan seiris roti tawar beroleskan selai strowberi. Keduanya adalah menu sarapan saya hari ini. Saya duduk sambil membaca paper yang ditulis Pontz et al., paper terkini berkaitan dengan planetary transit. Beuh, isinya statistik, topik yang bikin dahi saya berkerut tujuh lipat. Entah karena keheningan ditambah sejuknya hawa pagi atau karena aroma kopi yang menyegarkan atau perpaduan keduanya, muncullah deja vu. Yang terbayang adalah La Silla di Chili kemudian Mauna Kea di Hawaii. Keduanya tempat teleskop-teleskop besar berada. Bukan lagi Swedia atau pantai dengan deburan lembut ombak dari lautan berwarna hijau tosca.... Apakah saya semakin serius dengan astronomi? Sungguhkah saya astronom yang sudah "tobat"?
Tambahan: ada yang kurang, my soulmate where are you :p
Alhamdulillah, akhirnya, setelah begadang berminggu-minggu mengolah citra hasil observasi transit planet ekstrasolar dan kemudian menganalisanya, laporan mengenai itu usai sudah. Laporan ringkas kurang dari 4 halaman berupa paper ini sudah saya submit ke panitia ICMNS hari ini, hari terakhir untuk men-submit paper (selalu! di menit-menit terakhir!). Saya merasa belum puas dengan laporan ini walaupun sudah disebutkan "preliminary result" dalam paper saya tadi, tapi saya merasa belum sreg saja, merasa belum bekerja maksimal, belum memanfaatkan kemampuan sel-sel kelabu sepenuhnya. Mudah-mudahan saya bisa meneruskan pekerjaan ini dengan segenap hati dan kemudian menyumbang sesuatu bagi sains, setidaknya di Indonesia dulu. Mimpinya sih, bisa mengisi jurnal Icarus, jurnal fundamental dalam bidang tata surya. Mimpinya kejauhan nggak ya... hehehe.
| |