Ratna's posts with tag: buku
Di sini aku bilang bakal puasa beli buku, nyatanya: nggak bisa nahan diri buat belanja kalau di Bandung mah. Iyah, kemarin lusa pas berakhir pekan di Bandung, seperti biasa ke toko buku (aneh, kayak di Jakarta nggak ada toko buku aja ya :p). Dan, memutuskan menambahkan item ke daftar utang baca buku, yaitu: 1. Lagi-lagi, Grace Aja! Buku barunya mantan juragan kebab :D 2. Va' Dove Ti Porta Il Cuore (Pergilah Ke Mana Hati Membawamu)Berhubung sedang di persimpangan jalan, mudah-mudahan dengan membaca buku ini aku menemukan inspirasi. Alassssssaaaaaannn. Buku pertama nggak jadi masuk daftar utang karena langsung tamat dibaca dalam perjalanan Bandung-Jakarta. Hmm...
Kejadian tiga minggu lalu (ah, nggak usah diceritain ya) serta merta mengingatkanku pada suatu kisah di negeri Kappa yang kubaca dari novel Kappa karya Ryunosuke Akutagawa. Ini cover novelnya. Nggak nemu gambar yang lebih gede :D (sumber: sekarmeta.net) Alkisah, seorang manusia terlempar ke negeri kappa dan telah berhasil menyesuaikan diri dengan kehidupan di negeri kappa yang budayanya terjungkir balik dari apa yang umum ada di dunia manusia. Salah satu kawan dalam pergaulannya adalah kappa direktur pabrik gelas raksasa bernama Gael.
Suatu hari manusia ini sedang berbincang dengan Gael. Gael bertutur padanya tentang Partai Quorax yang baru saja berkuasa. Partai ini bervisi menaikkan kesejahteraan seluruh negeri kappa. Pemimpin Partai Quorax adalah seorang negarawan bernama Loppe. Menurut Gael semua pidato-pidato publik (termasuk yang diserukan Loppe) merupakan kumpulan kebohongan belaka. Anehnya - oh, tapi konsep yang kita pahami memang - semua kappa sadar akan hal itu sehingga akhirnya tidak diragukan lagi pidato itu diucapkan dengan jujur. Nah, Loppe-lah pengatur Partai, namun dia sendiri diatur oleh kappa pemimpin koran Pou Fou bernama Qui Qui. Di belakang Qui Qui ini tidak lain dan tidak bukan adalah Gael sendiri! Ouh! Itu belum puncaknya. Gael menjelaskan pada sang manusia, "Dan, segalanya menjadi lebih rumit bahwa Gael sendiri di bawah ibu jari orang lain! Menurutmu siapa dia? Kau tahu! Dia adalah istriku." Jadi begitulah, sebenarnya Ny. Gael-lah yang mengatur kabinet Quorax.
Waktu kejadian itu berlangsung sebenarnya rasa marah dan kecewa sedang menguasaiku. Begitu ingat kisah ruwetnya politik - kalau boleh dibilang begitu - di negeri kappa, rasa marah dan kecewaku perlahan reda karena kubayangkan apa yang kulihat saat itu analog dengan kisah Gael di atas dan aku jadi geli sendiri hihihihihihihi.
Kalau membeli buku, belum tentu langsung aku baca. Ada ritual yang biasanya aku lakukan dulu. Pertama, menyampuli buku dengan plastik mika agar sampul nggak mudah keriting. Harapannya sih biar bukunya tetap awet hingga aki-nini :p Kedua, memberi identitas kepemilikan buku. Cukup nama dan tanda tangan saja. Oh ya, juga tanggal pembelian agar ingat bagaimana sejarah saat membeli buku yang bersangkutan *halah*.Nah, kalau sudah membaca, belum tentu langsung aku menamatkannya . Ada yang perlu beberapa jam saja tapi ada yang perlu harian, bulanan, tergantung tebal-tipisnya buku. Ya iya lah yaa. Masak ya iya dong :p Tapi, ada satu buku (dalam koleksiku) yang tidak seberapa tebal tapi entah kenapa aku kurang greget membacanya - padahal mengisahlan petualangan - dan sampai sekarang terus tertunda-tunda menamatkannya. Judulnya The First Men in the Moon karya H.G. Wells yang aku beli sekitar dua tahun lalu. Waktu itu aku sedang tobat-tobatnya menjadi astronom :pKetika ada pasar buku di Gelora Senayan beberapa bulan lalu, aku membeli lima buku. Delapan deng, tapi tiga di antaranya adalah ensiklopedia yang kubeli khusus untuk keponakanku tercinta yang (kurasa) tahu-tahu sudah kelas 4 SD dan adiknya kelas 1 SD. Buku-buku itu adalah: - Salju Kilimanjaro (kumpulan cerpen) - Ernest Hemingway
- Anna Karenina 1 - Leo Tolstoi
- Anna Karenina 2 - Leo Tolstoi
- Relativitas: Teori Khusus dan Umum - Albert Einstein
- Khazanah Orang Besar Islam: Dari Penakluk Jerusalem Hingga Angka Nol - Disunting oleh: RA Gunaldi dan MA Shoelhi
    Buku 1 aku beli karena aku masih tertawan oleh gaya Hemingway bercerita Spanyol dalam buku The Sun Also Rises (halah, padahal suka detail Spanyolnya tuh :p). Aku penasaran dengan kisah Anna dan nama Tolstoi yang menjanjikan. Nah, kalau mengenai buku ke-4, mungkin pada saat itu aku sedang kesurupan hehehehe. Kalau buku terakhir itu karena eh karena alasan pribadi yang menyangkut spirituil (menurut ajaran mantan tahanan Cinambo yang kemudian menjadi juragan Kebab Kareem, kalau kecil pakai "i", kalau besar pakai "a" a.s spiritual hihihihi).Buku Hemingway aku selesaikan sambil antri mandi, dalam perjalanan pp KA Jakarta-Bandung yang lumayan sering akhir-akhir ini, dan sebelum tidur malam. Kadang-kadang aku dibuat bingung dengan maunya si pengarang (Hemingway tea!) tapi justru bikin aku penasaran dan nggak mau berhenti membaca. Dengan demikian hutang baca berkurang satu. Tapi, empat masih cukup banyak ya, apalagi buku Anna Karenina itu cukup tebal sementara ukuran huruf yang dipilih sesemut-semut :p Tampaknya aku perlu puasa beli buku dulu nih. Nggak yakin bisa sih....
Link: http://pakjanggut.web.id/copy-paste dari posting-an salah seorang contact di MP. Thx, bro!
Di bagian Gallery bisa dibaca beberapa kumpulan cerita Pak Janggut. Sayangnya masih ada yang berbahasa asing (Belanda?). Mengingatkanku akan masa-masa SD ketika gemar membaca majalah Bobo.... :D
 Prolog: Maaf, ya, juragan kebab Kareem, kali ini aku tidak me-review bukumu, tapi mereview salah satu adegannya saja hihihihihi. ~~~~~ Membaca Mata Giok-nya Diane Wei Liang, seseru menikmati gerak-gerik Sherlock Holmes mengintai pelaku kejahatan. Tapi, masih belum semisterius dan bikin penasaran plus merinding novel-novel misteri tulisan Agatha Cristie sih... tapi ada yang tidak ada di kisah keduanya (sepanjang yang pernah aku baca), yaitu sisi kejiwaan sang detektif dalam memandang hidupnya sendiri (hubungan keluarga, asmara, dan ideologi).
Nah, ada satu bagian yang menyentilku. Tentang hubungan yang melibatkan hati antara perempuan dan pria. Pernyataan-pernyataan dan juga pertanyaan yang serupa dengan yang pernah aku bahas dengan teman-teman perempuanku. Sayangnya "simpulannya" agak nggantung, tapi mungkin memang semestinya begitu - "Aku tahu kau tidak akan mengerti..." - tanpa perlu dipertanyakan lagi. ~~~~~
Mereka duduk di salah satu bangku.
"Aku merasa tidak pernah cukup bagimu," kata Yaping. "Kau selalu membuatku inferior. Tak peduli seberapa keras aku berusaha, standarmu selalu lebih tinggi."
"Oh, jadi itu salahku?"
"Bukan, itu salahku. Aku begitu muda dan tidak percaya diri, seorang pemuda dari selatan, anak kota kecil. Aku mudah tersinggung."
Yaping menghela napas panjang. Bahunya melemas.
"Kemudian aku bertemu istriku. Tidak, seharusnya aku bilang mantan istriku, di pesawat menuju Chicago. Dan yang membuatku kaget, dia mendekatiku. Kuduga dia berpikir bahwa aku memiliki sesuatu yang berharga. Dan tebak apa? Aku menyukainya. Itu adalah kesempatan yang bagus, untuk dikejar, dan tidak perlu merasa harus membuktikan kepada diriku sendiri. Dan, pasti terdengar bodoh, aku suka merasa dibutuhkan. Kau tak pernah membutuhkan aku atau orang lain. Biasanya aku merasa tak berguna di dekatmu. Dan kadang-kadang kau menarik diri. Aku tak bisa meraihmu. Sepertinya kau ingin mendorongku menjauh. Apakah tak beralasan bagi seorang pria, ingin merasakan keintiman, untuk merasa ingin menolong dan melindungi wanita yang ia cintai?"
"Kau lebih memilih bersama seseorang yang lemah?"
"Tidak, bukan begitu maksudku. Aku adalah seorang lelaki, kau mengerti? Seharusnya aku menjadi pelindungmu."
"Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Aku tahu kau tidak akan mengerti." 
 | Category: | Books | | Genre: | Childrens Books | | Author: | Charise Maricle Harper |
Sejak pertama, sejak juragan kebab Kareem mempromosikan buku barunya, aku sudah jatuh cinta sama sampul buku ini. Orang bilang don't judge a book by its cover tapi love is blind, bukan? Hehehehe. Tapi ternyata nggak salah kok dan ...
Aku jatuh cinta sama Grace Stewart yang tanpa sengaja dipanggil Grace Aja (bukan Grace aja!). Mungkin sebenarnya aku menyukai Charise, si penulis, tapi aku anggap Grace itu penjelmaan Charise. Aku juga tidak masalah dengan Sammy Stringer yang jorok dan selalu sengaja atau tanpa sengaja bikin masalah (namanya juga anak-anak....).
Grace juga menyuarakan isi hatiku: malas untuk tumbuh dewasa hahahaha. Aku suka Grace (dan Charise) ketika menggambar komik. Itu seperti yang kulakukan waktu jaman sekolah dan kuliah dulu, ketika merasa jenuh dengan suasana kelas. Jadi, buku ini punya banyak gambar. Gambar Cherise, gambar Grace. Lucu sekali! seperti misalnya gambar senyuman Mrs.Luther mirip senyuman buaya dan komik-komik Tidak Begitu Super.
Aku terpikat dengan empati yang diibaratkan dengan kekuatan super. Kekuatan super itu mendorong si pemilik (Grace!) untuk berbuat sesuatu, nggak NATO - no action talk only. Meskipun dampak dari kekuatan super itu tidak seperti yang diharapkan namun semuanya (tetap) berakhir baik. Ada makhluk lucu di buku ini. Namanya Crinkles, a lovely cat. Nah, dia ini tokoh dalam aksi kekuatan super Grace.
Grace eh Charise seperti menggabungkan tulisan untuk Chicken Soup dan tips and tricks, dan jurnal harian. Enak banget dibaca, seperti membaca isi kepala sendiri (ketika masih kanak-kanak). 
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Chitra Banerjee Divakaruni |
Judul Asli: The Mistress of Spices Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Membaca buku ini seperti membaca puisi. Puisi tentang rempah-rempah dan kedahsyatan khasitanya. Chitra merangkai kata sedemikian rupa sehingga serbuk, biji, akar, lembaran rempah menjadi mantra dan melenakan saya mengikuti alur pikiran Tilo, Sang Penguasa Rempah-Rempah; Tilo yang dengan gagah berani (dan sedikit kesombongan) menceburkan dirinya ke api Shampati, berubah wujud menjadi perempuan renta, imortal, dan mempunyai toko rempah-rempah di Amerika. Di bawah lekuk-lekuk tulang tangannya rempah-rempah bernyanyi dan membalas nyanyiannya, mengikuti perintahnya, menyembuhkan luka-luka (batin) kaum imigran India di Negeri Paman Sam. Ouh, saya membutuhkan waktu ekstra untuk melahap larik-larik puitis dalam kalimat-kalimat Chitra dalam bukunya kali ini.
Kegelisahan Chitra akan nasib kaumnya di Amerika tercermin dari kegelisahan Tilo pada lika-liku kisah kaumnya yang datang ke tokonya. Dan harapan Chitra nasib baik bagi mereka tergantung pada pilihan rempah yang diberikan Tilo seperti ketika ia memberikan biji lada hitam pada istri Ahuja yang ditindas suaminya. "... direbus utuh dan diminum untuk melemaskan tenggorokan agar kau bisa berkata 'tidak'...". Diskriminasi ras (yang diikuti tindakan kekerasan), gegar budaya, pencarian jati diri, pernikahan antar-ras adalah beberapa masalah yang diangkat Chitra.
Sang Penguasa diceritakan sebagai manusia pilihan; dan beserta itu ada sejumlah pantangan. Ia harus mengesampingkan hasratnya, tidak boleh terlalu dekat dengan orang-orang yang berkunjung ke tokonya tapi juga tidak boleh terlalu jauh. Namun, keteguhan sumpah Tilo diuji ketika hadir Raven yang mampu melihat sosok sejati Tilo di bawah kulit keriputnya. Pelanggaran demi pelanggaran, dalih demi dalih digulirkan Tilo dan pada saat yang bersamaan mereka berusaha mencari makna dan kekuatan cinta.
"... bukankah cinta adalah ilusi bahwa kau akan saling membuka diri sepenuhnya, tak ingin ada jarak lagi." "Mendahulukan seseorang sebelum diri sendiri, melihatnya sebagai sesuatu yang sesungguhnya tidak terpisah dari diriku... kukira itulah cinta."
Pada titik ini saya merasa terpaksa mendengarkan kisah masa lalu Raven yang entah bagaimana agak menjemukan dan cengeng. Di sisi lain, inilah kisah pencarian jati diri seorang Raven, seorang Amerika keturunan Indian.
Setiap tindakan membawa konsekuensi masing-masing. Demikian juga tindakan Tilo melanggar pantangan dan BOOM! Efek domino! Bagaimana Tilo alam tetap bisa mengendalikan rempah-rempah sementara rempah-rempah merasa dikhianati? Seberapa besar cinta yang harus dikorbankan? Chitra menawarkan solusi bahwa penyesalan sepenuh hati sudah cukup untuk "menghapus dosa." 
Hah, di-tag sama Maria di sini?! Ya sudah lah. Dan seperti dia, saya juga nggak bisa memenuhi keharusan menyebutkan satu buku saja. Memang susah ya kalau cuma satu hehehe. 1. Name one book that changed your life.- Serial Trio Detektif - Alfred Hitchock, STOP, dan buku-buku Wolfgang Ecke yang memecahkan kasus sendiri. Buku-buku ini membuat saya berpikir kronologis detektifis, mencari-cari hubungan sebab-akibat, mencermati detail-detail.
- Buku-buku karangan Enyd Blyton yang menceritakan kehidupan anak-anak sekolah berasrama. Dasar polos, ya, saya jadi pengen sekolah yang ada asramanya (yang pemandanganya bagus, punya lapangan luas, menunya enak-enak hehehe). Juga petualangan Lima Sekawan. Pengeeeen.
- Yang satu ini memang bukan buku sih, tapi ngaruh banget: paper karya A.E. Roy dan kawan-kawan yang ditulis tahun 1984 tentang kestabilan hierarkhis. Paper mereka jadi acuan untuk bahan Tugas Akhir S1 saya. Dan gara-gara itu saya kena "karma" programming, sesuatu yang nggak saya pengen karena saya nggak bisa huhuhu.
2. One book you've read more than once.- Komik-komik mangaka favorit saya (Kyoko Hikawa).
3. One book you'd want on a desert island.- Wah, saya nggak punya ide buku apaan. Hmm, novel-novel bersetting padang pasir kali ya. Entah kenapa saya membayangkan buku Alchemist-nya Paulo Coelho, saat tokoh utamanya berada di negeri padang pasir.
4. One book that made you laugh.- Komik Kariage Kun dan Kobo Chan
5. One book that made you cry.- Saudara Sehati-nya Chitra Banerjee
- Wild Cat, serial cantik yang aku lupa siapa nama pengarangnya, tapi kutulis dalam reviews di multiply ini.
6. One book you wish you'd written.7. One book you wish had never been written.- chicklit kali ya.... wong belum pernah nulis buku, tapi chicklit sekarang menjamur dan itu bisa jadi ladang uang bukan? Apalagi kalau di-sinetronkan. (Niken, no offense ya....)
8. One book you're currently reading.- Komik Good Morning, SPANK! Vol. 1-7 hehehe *komik lagi, komik lagi*
9. One book you've been meaning to read.- The First Man in The Moon-nya H. G. Wells. "Secara" astronom tobat beli bukunya yang berbau-bau astronomi. Maksud hati juga ingin meng-up-grade kemampuan bahasa Inggris, tapi apa daya sampai sekarang baru separo yang terbaca.
10. Now tag five people.- Loui, Mei, Mbak Sofie, Bang Ferry, dan Edy. Yang terakhir ini biar nggak protes lagi hihihi. Maria kan yang men-tag, jadi nggak usah ya, Ums, hehehe.
Ternyata, saya lebih banyak baca komik ya....
| |