Ratna's posts with tag: bisik
 Sesiangan ini gelisah melulu. Kenapa? Aku tak tahu. Usai Maghrib berkumpul dengan tim teknis teleskop. Seorang rekan menerima SMS. Johan meninggal hari ini. Hiks, Johan... Usai operasi yang berulangkali itu, kamu bisa berlari-lari seperti anak-anak lainnya. Kami semua optimis melihatmu untuk terus tumbuh besar dan juga mendengar celotehmu. Ah, Johan... Masih teringat ketika kamu tertidur di gendonganku, bermain bersama di ruang pasca atau sepanjang koridor prodi. Hadirmu melenyapkan ketegangan hari-hari kuliah yang penat. Ah Johan... pasti Tuhan begitu sayangnya padamu sehingga memanggilmu untuk bersamanya sedini ini. Semoga kasihmu terus berada di hati kami semua. Selamat jalan, Johan.
2 April Stres. Tesis tidak ada progress sementara dokumen untuk bepergian juga belum beres. Saturasi otak. Dengan kalimat-kalimat yang saya rangkai sendiri menjadi muak. Apa guna tumpukan paper yang saya baca hingga koyak?
3 April Sebelum menghadap menyiapkan "amunisi". Membolak-balik hard-copy kode tanpa tujuan pasti. Yah, mungkin mulai dari definisi Venusian dan Rocky. Sudah lebih dari jam sepuluh pagi. Rupanya pembimbing sudah menanti. Saya jadi tidak enak hati. Tidak ada kemajuan, kata saya tanpa basi-basi. Menerima pertanyaan dan memberi penjelasan di sana-sini. Bukan dalih kali ini. Wajahnya tampak letih. Hati saya perih. Pembicaraan beralih. Tentang blangko aplikasi bantuan dana di atas selembar kertas putih.
4 April Pagi buta ke Jakarta. Dari Wisma Aldiron ke kedutaan Italia. Sendiri di tengah hiruk pikuk kota. Baru kali ini saya merasa fobia; pada gedung-gedung yang memangkas cakrawala; pada jendela-jendela yang seperti intaian mata curiga.Lelah berkendara di jalanan yang serupa labirin. Belum lagi menghadapi prosedur keamanan yang saya anggap wajar sekaligus ngeri. Kelu lidah, lelah hati. Entah kenapa saya jadi ingin pulang segera. Atau saya bisa gila. Dengan kereta bernostalgia. Kelelahan (hati) mereda demi memandang dari jendela kaca puncak-puncak bukti di kejauhan sana dan kelok jalan seperti ular naga.
5 April Ke bank menanyakan transaksi luar negeri. Bertemu dengan penjaga yang tanggap dan customer service yang baik hati. Keramahan dan kehangatan dalam ruangan sedingin pagi. Tidak peduli mereka memang digaji untuk ini. Senyum dan sapa mereka tampak nyata di mata saya yang sering menghindari kontak mata untuk bersembunyi. Menerima keramahan yang kelewatan ini pun tak berani. Hanya bernyali menyimpan senyum mereka secara sembunyi-sembunyi dalam hati.
Ke kampus dengan semangat menyala. Tapi... apa? Komputer tidak mau bekerja? Nah, ya.... Berkutat dengan Euro dan angka-angka akhirnya. Bolak-balik seperti setrika merevisi angka yang tertera. Tambah kurang seakan serumit integral lipat dua. Belum lagi perlu survei asuransi. Begitu selesai tengah hari sudah lama terlewati. Hendak menyusun surat elektronik tapi komputer masih mati. Jaringan internet juga masih diperbaiki. Kenapa justru di saat genting seperti ini? Surat harus dikirim hari ini! Saya tidak akan sanggup menghadapi wajah letih itu lagi nanti. Tapi apa daya mengadap jua demi janji. Mulut terkunci rapi. Tidak ingin mengusiknya mengoreksi kalimat-kalimat kacau tak berisi. Ada surat, katanya. Riset kita diperpanjang untuk tahun kedua. Terima kasih, Tuhan. Setidaknya kerut-kerut letih itu terbayar jua. Seandainya saja saya masih bisa turut serta, tahun depan dan seterusnya.... Pada exoplanets saya kadung cinta.... Urusan surat-menyurat selesai menjelang senja. Akhirnya. Sedikit lega. Masih ada kekuatiran yang tersisa. Tetek bengek soal visa! Ah, sudahlah nanti saja. Pulang, mandi, tidurlah! Jangan kuatir soal esok lusa!
6 April Happy birthday to me Happy birthday to me Happy birthday dear Ratna Happy birthday to me....
Ternyata seperti tahun lalu, (hari) berlalu begitu saja. Satu SMS dari kawan lama. May joy, love, triumph, and all the best with you now and then, doanya. Tidak ada ucapan dari si empu kos seperti biasanya. Ah, ya sudahlah, siapa sih saya. Tidak ada SMS dari seseorang yang saya harapkan. Tapi, memang rasanya bagai mimpi saja kalau dia benar-benar mengucapkan selamat ultah. Jadi, lupakanlah!
Lagipula, buat apa bersusah kalau hari ini bisa berkumpul dan bergembira dengan tiga sahabat. Neng, si empu gagasan perayaan. Meilan dengan tip-tip hemat dan kecantikan. Loui yang bermurah hati membawa aneka penganan. Bercerita, tertawa, berbagi berempat. Seandainya saja waktu bisa diperlambat; hingga mereka tak harus pulang jam empat. Berpelukan, berjabat erat. Semoga tak hanya di dunia kita bersahabat, tapi juga di akhirat. Tak cukup kata untuk mengungkap riak-riak gembira. Tak penting sekarang umur berapa.
Epilog: Dua puluh menit dari jam tujuh lewatnya. SMS yang saya tunggu tiba. Dia dan sebaris doa. Kata-kata yang tidak istimewa tapi tak ayal memanas pipi saya. Tidak penting ucapannya, saya hanya butuh ingatnya. Jadi.... TERUS BERSEMANGATLAH!
Dago, April 6 @8:27 PM
 | Siapa | Apr 1, '07 11:37 PM for everyone |
di antara yang acak, di antara yang berserak, bisakah dihimpun harmoni untuk sebuah konklusi~~~~~Catatan:* ada hubungannya dengan sesuatu di sini hehePhoto courtesy of... hmm... kayaknya saya motret sendiri (setelah ditata sedemikian rupa) tapi pake kamera palm-nya Mas Sungging atas permintaan yang bersangkutan.
Bermalam di Observatorium Bosscha. Ketika bangun pagi, matahari sudah tinggi. Sudah sangat terlambat untuk menjalankan ritual menyirami rohani*. Apa boleh buat. Semoga Tuhan mengampuni. Menyusuri jalan setapak antarbangunan kompleks. Hangat, disiram fluks matahari yang lolos menembus atmosfer. Mendongak, menatap langit biru berhiaskan awan lembut. Rasanya langit begitu dekat. Rasanya bisa dijangkau hanya dengan mengulurkan tangan ke atas. Kalaupun tidak bisa, rasa-rasanya ada sayap mungil berkelepak di punggung yang bersedia mengantar(ku) ke atas sana untuk mendekap awan.Sore menjelang. Langit berganti kelabu sekarang. Birunya lagit pindah ke kalbu. Seperti Karimata yang merindu**. Lalu, dimulailah suatu orkestra alam. Awalnya pelan. Kumpulan titik-titik air merangkai serenada hujan. Melangutkan perasaan. Kehangatan menyusup melawan delapan belas derajat celcius temperatur ruangan; di antara harap dan cemas apakah tengah malam nanti tirai awan akan tersibak, membiarkan bintang mengerling dan menari di kegelapan.~~~~~Catatan:Foto: atas kebaikan Mas Sungging, setelah dioperasi oleh IrfanView dengan crop dan resize hehe.* sholat subuh** Karimata (feat. Phil Perry) dalam Rindu (Rainy Days and You). A beautiful song. A sweet lyric.Each time I see those thick dark clouds
I used to smile and make a wish
that it would turn.. turn to rain
because I know that I would watch
for you to play under the rain
But now when rainy days are here
I feel so blue ’cause I can’t hear
all your laughter in the falling rain and it brings sadness to my heart
knowing that you’ve gone from my side.. my side
Since that rainy days and you make a symphony
the rain without you makes the blues
happy days and you will always be right here to stay
where the rainy day brings me back
brings me back into your arms…
 | .... | Feb 10, '07 3:35 AM for everyone |
Of this mind trap I want to be free From this fortress of remembrance I have to flee (Can I?)
Dago, early February Last update: today
Kenapa terburu-buru padahal tidak ada yang memburu. Waktu memang terbatas tapi toh tetap ada. Kenapa tidak menikmati waktu yang tersedia saat ini; tidak mendahului sang waktu itu sendiri. Semuanya akan datang masanya pasti.
Kenapa tegesa seolah waktu tidak lagi bersisa untuk satu hal dan yang menyusul kemudian. Duduklah tenang, kerjakan yang di depan mata. Jangan biarkan pikiran mengembara, nanti toh akan tiba saatnya.
Kenapa mengharap hari esok akan segera tiba sementara hari ini apa yang sudah diperbuat. Duduklah tenang, pusatkan pikiran. Mulailah bekerja dengan apa yang di hadapan. ~~~~~ Huaaah, capek. Pikiran malah jadi bercabang-cabang setelah membaca kabar yang sangat menggembirakan (I'll tell you later, Insya Allah). Tesis jadi terabaikan, hik's. ~~~~~ Catatan: * Sebenarnya aku bingung mau kasih judul apa :p Gambar diambil dari http://www.orloj.com
Kita toh (masih) berteman baik. Jadi, kita (masih) bisa bertukar cerita, tentang buku, tentang musik, tentang sinema, tentang almamater, tentang orang-orang yang kita kenal (ssst, hati-hati, nanti kita jadi bergosip), tentang kakak, adik, laki-laki, perempuan, tentang hari ini, tentang mimpi-mimpi, tentang negeri seberang yang dekat di angan, tentang kastil-kastil serta pangeran dan putri, tentang gadis manis bak boneka, tentang sungai jernih, tentang kembang api di musim panas, tentang bunga merah jambu berguguran, tentang pencarian pasangan jiwa, tentang runtuhnya suatu negeri, tentang keyakinan, tentang persepsi, tentang bola kaki, tentang sempitnya dunia, tentang kekuatiran yang semata di kepala, tentang kebahagiaan untuk hal-hal kecil, tentang penyesalan, tentang kecemasan, tentang .... (mungkin tentang kita) Kenapa (sekarang) tidak?
Kita toh (masih) berteman baik, diam pun tak mengapa, karena teman laksana bintang Sekalipun dia tak terlihat, kita tahu dia ada, selalu
untukmu yang sepelemparan batu dekatnya namun terasa seribu tahun cahaya jauhnya... kangen "mendengar" ceritamu, mon ami
Ada tiga anak dalam foto itu. Duduk di anak tangga di depan pintu. Ketiganya lucu-lucu. Senyum bahagia merekah. Ada juga yang dikulum malu-malu.
Hai, bolehkah aku menjadi bagian kalian. Duduk di situ, di antara kalian. Menikmati wangi kasih sayang ibu kalian. Berjabat tangan, berpelukan, bersenda gurau, berbagi manisan.
Apa daya, aku hanya seorang asing, yang ingin menyuruk-nyurukkan diri dalam potret kebahagiaan, yang ingin menjadi bagian hidup kalian, masa lalu dan masa depan, kurasa hanya keajaiban yang bisa membawaku ke sana.
Kalau kutengok lagi ke masa lalu, ada satu keajaiban, yang mulai pudar tapi masih kugenggam, bisakah dengan sisa keajaiban ini, aku berada di sana, suatu saat nanti memeluk kalian, mendengar celoteh dan tawa riang, membelai rambut, mencium, bergandengan tangan, menggendong, berbagi tawa ... bukan sebagai yang asing
Ah, jauh, jauh... mimpi, mimpi...
Aku sedang membuat kolase dari kepingan-kepingan hati. Ketika hampir sempurna bentuk yang kumimpi, masih ada rongga yang belum terisi. Di manakah kepingan itu harus kucari?
Ketika jarak seribu tahun cahaya membentang, dan ketika sejuta rindu melanda, ketika jarak seribu juta tahun cahaya terasa tak berhingga, dan rasa dalam bahasa satu-nol-satu tak bisa menempuhnya, bagaimana cara kusampaikan intensitas dan pola-pola warna, riak-riak gelombang yang enggan tenang, pada dia di ujung dunia sana sejauh seribu tahun cahaya?
untukmu, yang sepelemparan batu dekatnya, namun terasa seribu tahun cahaya jauhnya
| |