    | Madicken | Nov 11, '06 2:03 AM for everyone |
 | Category: | Books | | Genre: | Childrens Books | | Author: | Astrid Lindgren |
Senangnya tinggal di Junibacken - Bukit Juni, rumah bercat merah tempat tinggal Madicken, Lisabet, Mama, Papa, Alva, Sasso (seekor anjing pudel), dan Gosan (seekor kucing). Di depan Junibacken ada sungai yang bisa dilalui perahu kecil. Pada saat musim dingin tiba dan sungai sudah cukup keras membeku, kau bisa meluncur di atasnya. Kalau kau terus mengikuti arah sungai kau akan bertemu Bukit Apel, tempat tinggal Paman Larsson yang punya peternakan. Di sana ada sapi dan anak sapi serta empat ekor kuda. Kalau kau meminta ijin dengan sopan pada Paman Larsson, kau boleh bermain dengan mereka.
Senangnya tinggal di Junibacken. Saat musim panas kau bisa asyik bermain di sungai yang mengalir di depannya. Sekedar duduk-duduk di dermaga sambil merendam kaki atau bahkan kau bisa bermain "Musa dihanyutkan di sungai dan diselamatkan oleh putri Firaun."
Senangnya tinggal di Junibacken. Saat musim semi banyak bunga menampakkan diri. Warna-warni. Aaaah, apapun musimnya kau akan senang tinggal di Junibacken. Piknik di atap gudang pun cukuplah. Pokoknya asyik banget deh di Junibacken. Oooh, aku jadi merindukanmu, Swedia.... :p
Ums, apa ini juga termasuk karya kontemplatif Astrid Lindgren? Aku menyimpulkan begitu karena ucapan-ucapan ibu tukang cuci keluarga Madicken dan perangai keluarga Nilsson yang tinggal di Lugnet (ketenangan), tak jauh dari Junibacken.   | Jawaban yang sama dengan di blog friendster: Kalo yang ini mah menurut saya (menurut saya lho yaaaa) bukan karya yang terlalu kontemplatif. Tapi di buku ini Astrid banyak menyoroti tentang masalah kesenjangan sosial di Swedia saat itu: seperti kemiskinan Linus-Ida, Mia dan Meti si kakak-beradik yang berkutu, dan pembantu Madicken. Di buku kedua, Madicken dan Lisabet, Astrid bahkan menulis hal yang kalo di Indonesia sih pasti jadi perdebatan besar: ayah Madicken adalah orang yang saaaaaaangat baik, tapi dia nggak pernah ke gereja. Mungkin ayah Madicken ini adalah tokoh sosialis aliran kiri kali yeeee ... Hehehehehe ... |
 | Jawaban yang sama juga dengan yang ada di Friendster (tapi yang ini mah nggak kreatif, cuma copy-paste :p): Hmm, begitu ya? Iya sih, pas nyeritain Linus-Ida, Abbe dan keluarganya, Mia dan adiknya, Metis, jujur banget untuk ukuran buku anak-anak. Sempat "kaget" juga. Yah, bacanya pas udah gede sih, pas segala sesuatu dipikirin, dianalisa. Mungkin beda kalau aku bacanya pas masih anak-anak. |
 | Halo mba ratna, salam kenal. aku baca novel ini waktu masih SD, waktu itu judulnya masih "Madita". trus sama Gramedia diterbitin lagi dan judulnya kembali ke buku asli "Madicken". Pas baca lagi (udah gede, udah lulus kuliah :), aku tetep merasakan hal sama saat baca waktu kecil dulu. Aku suka deskripsi Lindgren. |
 | Halo Mbak Deeyand, salam kenal juga :) Aku malah baca buku-buku Astrid Lindgren pas udah kuliah. Pas jaman SD mah bacanya buku-buku Enid Blyton, STOP sama Trio Detektif... Kadang2 juga Nina. Bobo mah pasti hehehe. Aduuh, sapa yang nanya ya... |
| |