    | Abarat | Oct 13, '06 6:47 AM for everyone |
 | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Clive Barker |
Petualangan Candy Quackenbush di Abarat mengingatkan saya pada petualangan Alice di Wonderland. Keduanya sama-sama mengisahkan petualangan seorang gadis di negeri antah berantah, antara negeri asal dan negeri yang dikunjunginya adalah dua dunia yang paralel, dunia lain yang ajaib. Ajaib dalam arti tak terbayangkan dalam dunia asalnya. Tapi, rasa-rasanya imajinasi dalam Abarat lebih liar dari Wonderland, termasuk penghuninya. Penghuninya berupa campuran dari beragam spesies. Alamak, rupanya daya imajinasi saya masih belum cukup untuk bisa membayangkan beberapa tokoh yang muncul dalam cerita. Untunglah Clive Barker melengkapi buku-bukunya dengan ilustrasi. Pulau-pulau di Abarat sesuai dengan setiap jam yang kita tempuh dalam satu hari (di dunia nyata) ditambah satu: Jam Kedua Puluh Lima. Masing-masing pulau memiliki karakternya sendiri sesuai dengan namanya.
Seperti di dunia nyata, di Abarat pun ada yang baik hati dan ada pula yang jahat; ada yang tegas, ada yang jenaka; ada yang tak berbelas kasih, ada yang murah hati. Ihik, saya terharu ketika Candy membebaskan “seorang” geshrat dari tuannya yang lalim kemudian mereka saling percaya dan bersahabat. Eh, kok saya jadi ingat Noriko dalam Dunia Mimpi (judul aslinya Kanata Kara- From Far Away) karya Kyoko Hikawa, manga-ka favorit saya. Mereka muncul secara ajaib di dunia lain kemudian menjadi pahlawan di negeri asing itu. Betul lho… tapi belum lagi Candy (dan kawan-kawannya di Abarat) tiba pada semacam penyelesaian “misi” yang jadi alasan dia masuk ke dunia lain, kok bukunya sudah pada halaman terakhir sebelum appendix ya… Alih-alih menyesali saya justru ingin membaca kelanjutannya (katanya Abarat ini sebuah trilogi juga ya? Sekuel-nya sudah terbit belum sih?), bagaimana petualangan Candy di Abarat. Pertemuan ajaib dan peristiwa heroik apalagi kiranya yang akan muncul?
Berikut ini kutipan dari Abarat (bagian pertama). Sengaja saya pilih yang berbau-bau astronomi :D
Saat memandangi cahaya bintang yang berkerlap-kerlip itu, Candy teringat bahwa waktu itu ia melihat betapa berbedanya konstelasi di sini dengan di dunianya sendiri. Bintang-bintang yang berbeda; takdirnya pun berbeda. ...
"Jadi, kalau aku belajar membaca nasib berdasarkan bintang-bintang, mungkin aku bisa menemukan masa depanku di atas sana. Dengan begitu, bisa membantu memecahkan banyak masalah." "Dan mengungkap banyak misteri, sehingga jadi tidak seru lagi," kata Malingo. "Jadi, lebih baik tidak tahu?" "Lebih baik mencari tahu kalau waktunya sudah tiba. Segala sesuatu ada Jam-nya." 
| |
|