Pascabaca, Pascanonton, dan Bukan Pascasarjana | |
 Prolog: Maaf, ya, juragan kebab Kareem, kali ini aku tidak me-review bukumu, tapi mereview salah satu adegannya saja hihihihihi. ~~~~~ Membaca Mata Giok-nya Diane Wei Liang, seseru menikmati gerak-gerik Sherlock Holmes mengintai pelaku kejahatan. Tapi, masih belum semisterius dan bikin penasaran plus merinding novel-novel misteri tulisan Agatha Cristie sih... tapi ada yang tidak ada di kisah keduanya (sepanjang yang pernah aku baca), yaitu sisi kejiwaan sang detektif dalam memandang hidupnya sendiri (hubungan keluarga, asmara, dan ideologi).
Nah, ada satu bagian yang menyentilku. Tentang hubungan yang melibatkan hati antara perempuan dan pria. Pernyataan-pernyataan dan juga pertanyaan yang serupa dengan yang pernah aku bahas dengan teman-teman perempuanku. Sayangnya "simpulannya" agak nggantung, tapi mungkin memang semestinya begitu - "Aku tahu kau tidak akan mengerti..." - tanpa perlu dipertanyakan lagi. ~~~~~
Mereka duduk di salah satu bangku.
"Aku merasa tidak pernah cukup bagimu," kata Yaping. "Kau selalu membuatku inferior. Tak peduli seberapa keras aku berusaha, standarmu selalu lebih tinggi."
"Oh, jadi itu salahku?"
"Bukan, itu salahku. Aku begitu muda dan tidak percaya diri, seorang pemuda dari selatan, anak kota kecil. Aku mudah tersinggung."
Yaping menghela napas panjang. Bahunya melemas.
"Kemudian aku bertemu istriku. Tidak, seharusnya aku bilang mantan istriku, di pesawat menuju Chicago. Dan yang membuatku kaget, dia mendekatiku. Kuduga dia berpikir bahwa aku memiliki sesuatu yang berharga. Dan tebak apa? Aku menyukainya. Itu adalah kesempatan yang bagus, untuk dikejar, dan tidak perlu merasa harus membuktikan kepada diriku sendiri. Dan, pasti terdengar bodoh, aku suka merasa dibutuhkan. Kau tak pernah membutuhkan aku atau orang lain. Biasanya aku merasa tak berguna di dekatmu. Dan kadang-kadang kau menarik diri. Aku tak bisa meraihmu. Sepertinya kau ingin mendorongku menjauh. Apakah tak beralasan bagi seorang pria, ingin merasakan keintiman, untuk merasa ingin menolong dan melindungi wanita yang ia cintai?"
"Kau lebih memilih bersama seseorang yang lemah?"
"Tidak, bukan begitu maksudku. Aku adalah seorang lelaki, kau mengerti? Seharusnya aku menjadi pelindungmu."
"Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Aku tahu kau tidak akan mengerti."   | Category: | Books | | Genre: | Childrens Books | | Author: | Charise Maricle Harper |
Sejak pertama, sejak juragan kebab Kareem mempromosikan buku barunya, aku sudah jatuh cinta sama sampul buku ini. Orang bilang don't judge a book by its cover tapi love is blind, bukan? Hehehehe. Tapi ternyata nggak salah kok dan ...
Aku jatuh cinta sama Grace Stewart yang tanpa sengaja dipanggil Grace Aja (bukan Grace aja!). Mungkin sebenarnya aku menyukai Charise, si penulis, tapi aku anggap Grace itu penjelmaan Charise. Aku juga tidak masalah dengan Sammy Stringer yang jorok dan selalu sengaja atau tanpa sengaja bikin masalah (namanya juga anak-anak....).
Grace juga menyuarakan isi hatiku: malas untuk tumbuh dewasa hahahaha. Aku suka Grace (dan Charise) ketika menggambar komik. Itu seperti yang kulakukan waktu jaman sekolah dan kuliah dulu, ketika merasa jenuh dengan suasana kelas. Jadi, buku ini punya banyak gambar. Gambar Cherise, gambar Grace. Lucu sekali! seperti misalnya gambar senyuman Mrs.Luther mirip senyuman buaya dan komik-komik Tidak Begitu Super.
Aku terpikat dengan empati yang diibaratkan dengan kekuatan super. Kekuatan super itu mendorong si pemilik (Grace!) untuk berbuat sesuatu, nggak NATO - no action talk only. Meskipun dampak dari kekuatan super itu tidak seperti yang diharapkan namun semuanya (tetap) berakhir baik. Ada makhluk lucu di buku ini. Namanya Crinkles, a lovely cat. Nah, dia ini tokoh dalam aksi kekuatan super Grace.
Grace eh Charise seperti menggabungkan tulisan untuk Chicken Soup dan tips and tricks, dan jurnal harian. Enak banget dibaca, seperti membaca isi kepala sendiri (ketika masih kanak-kanak).   | Category: | Movies | | Genre: | Kids & Family |
Pertama, terima kasih buat panitia World Book Day yang memilih film yang diadaptasi dari buku yang berjudul sama. Review buku ini pernah saya tulis di http://ratnasatya.multiply.com/reviews/item/3. Kedua, bagi yang belum membaca buku karya Antoine de Saint-Exupery ini, dengan menonton film ini sudah seakan membaca. Ilustrasi yang ada di buku diangkat ke layar lebar nyaris serupa. Bagi penyuka jazz, film musikal ini cukup memanjakan telinga. Belum lagi aksi atraktif sang ular, serigala, dan bunga mawar - diperankan dengan baik oleh Bob Fosse, Gene Wilder, dan Donna McKechnie. Setting cerita, musik, dan penyuguhan ilustrasi perjalanan Sang Pangeran Kecil secara keseluruhan cukup menakjubkan. Oh, ya, Sang Pangeran Kecil (diperankan oleh Steven Warner) sangat menggemaskan hehehehehe. Bagi anak-anak, cerita ini riang dan menghibur. Bagi orang tua/orang dewasa, perhatikan pesan moralnya. Hmmm, saking atraktifnya adegan per adegan, mungkin agak sulit nempel pesan yang diusung ya....   Thirty times or more blue Terra has swung 'round Sol since Mariner stared doen upon this firefly of a world. From Earth it is but a sequin "star" - hard to find behind the fading glow of a marmalade-hued dusk or a frosted lavender-dawn - but now I rush towards the Sun a crescent Hermes is revealed. Before me wheels a world of wonder! A cosmic cannonball covered in rock and dust, its crispy-thin crust cratered and cracked, wracked by meandering rupes, the Sun's cruel heat beating down on its light-drowned, pseudo-lunar lands where no man or woman will ever stand without fear of death by fire and flame... But safe behind my shining shield I steal a glance at Mercury's scythe-sharp, sickle blade face. No trace of detail on that rocky slice just yet; but soon, soon that seductive slice of silvery light will turn into a glowing orb, and as it grows before my eyes I'll marvel at new sights and send their pictures back to you, waiting in front of your flickering screens to see what Hermes has been hiding all these years. Have no fear, it will have been worth the wait... (by Stuart Atkinson, 2008) ~~~~~ Catatan: MESSENGER (MErcury Surface, Space ENvironment, GEochemistry, and Ranging) adalah wahana milik NASA yang dikirim ke Merkurius, planet yang paling dekat dengan Matahari. "Kurir" ini diluncurkan awal Agustus 2004 dan saat ini sedang ber-flyby mengintai Merkurius. Dalam mitologi Romawi Merkurius merupakan kurir para dewa. Cocok sekali bukan antara nama dan target misi? Keterangan lebih lengkap mengenai MESSENGER ada di http://messenger.jhuapl.edu/mer_flyby1.htmlImage credit: NASA/Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory/Carnegie Institution of Washington   | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Chitra Banerjee Divakaruni |
Judul Asli: The Mistress of Spices Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Membaca buku ini seperti membaca puisi. Puisi tentang rempah-rempah dan kedahsyatan khasitanya. Chitra merangkai kata sedemikian rupa sehingga serbuk, biji, akar, lembaran rempah menjadi mantra dan melenakan saya mengikuti alur pikiran Tilo, Sang Penguasa Rempah-Rempah; Tilo yang dengan gagah berani (dan sedikit kesombongan) menceburkan dirinya ke api Shampati, berubah wujud menjadi perempuan renta, imortal, dan mempunyai toko rempah-rempah di Amerika. Di bawah lekuk-lekuk tulang tangannya rempah-rempah bernyanyi dan membalas nyanyiannya, mengikuti perintahnya, menyembuhkan luka-luka (batin) kaum imigran India di Negeri Paman Sam. Ouh, saya membutuhkan waktu ekstra untuk melahap larik-larik puitis dalam kalimat-kalimat Chitra dalam bukunya kali ini.
Kegelisahan Chitra akan nasib kaumnya di Amerika tercermin dari kegelisahan Tilo pada lika-liku kisah kaumnya yang datang ke tokonya. Dan harapan Chitra nasib baik bagi mereka tergantung pada pilihan rempah yang diberikan Tilo seperti ketika ia memberikan biji lada hitam pada istri Ahuja yang ditindas suaminya. "... direbus utuh dan diminum untuk melemaskan tenggorokan agar kau bisa berkata 'tidak'...". Diskriminasi ras (yang diikuti tindakan kekerasan), gegar budaya, pencarian jati diri, pernikahan antar-ras adalah beberapa masalah yang diangkat Chitra.
Sang Penguasa diceritakan sebagai manusia pilihan; dan beserta itu ada sejumlah pantangan. Ia harus mengesampingkan hasratnya, tidak boleh terlalu dekat dengan orang-orang yang berkunjung ke tokonya tapi juga tidak boleh terlalu jauh. Namun, keteguhan sumpah Tilo diuji ketika hadir Raven yang mampu melihat sosok sejati Tilo di bawah kulit keriputnya. Pelanggaran demi pelanggaran, dalih demi dalih digulirkan Tilo dan pada saat yang bersamaan mereka berusaha mencari makna dan kekuatan cinta.
"... bukankah cinta adalah ilusi bahwa kau akan saling membuka diri sepenuhnya, tak ingin ada jarak lagi." "Mendahulukan seseorang sebelum diri sendiri, melihatnya sebagai sesuatu yang sesungguhnya tidak terpisah dari diriku... kukira itulah cinta."
Pada titik ini saya merasa terpaksa mendengarkan kisah masa lalu Raven yang entah bagaimana agak menjemukan dan cengeng. Di sisi lain, inilah kisah pencarian jati diri seorang Raven, seorang Amerika keturunan Indian.
Setiap tindakan membawa konsekuensi masing-masing. Demikian juga tindakan Tilo melanggar pantangan dan BOOM! Efek domino! Bagaimana Tilo alam tetap bisa mengendalikan rempah-rempah sementara rempah-rempah merasa dikhianati? Seberapa besar cinta yang harus dikorbankan? Chitra menawarkan solusi bahwa penyesalan sepenuh hati sudah cukup untuk "menghapus dosa."   | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
A must see movie, especially for those.... yang suka dengan kenakalan-kenakalan masa sekolah. Bikin tertawa tanpa henti hingga akhir film! Banyolan khas amerika sih tapi nggak sarkas kayak The Simpsons.
Ini film jadul. Keluaran tahun 1986. Diceritakan si Ferris ini pengen bolos sekolah, lalu dia menciptakan segala tipu daya. Tipu daya yang sempurna hingga.... ouh, kau harus melihatnya sendiri ;) Dengan mengajak dua sahabatnya, dia menikmati hari bolosnya. Tingkahnya ini dicurigai kepala sekolah. Dan mulailah kejar-kejaran antara Ferris cs dan kepala sekolah. Di sisi lain, kakak perempuan Ferris sudah lama mendendam dengan tipu daya-tipu daya Ferris, hanya saja dia tidak bisa membuktikan. Dan kakaknya kali ini berusaha membuktikan, tapi... ouh, kau harus menontonnya sendiri hikhikhik. Males bikin review gini yah :p
Intinya, menonton film ini memang membuat kita terpingkal-pingkal tapi di akhir film ada sesuatu yang bisa dipetik. Tergantung masing-masing penonton juga sih... Dengan ini, saya berterima kasih kepada Guy Consolmagno, sebagai orang yang sepertinya memberi ide untuk nonton bareng film ini di salah satu acara pengisi akhir pekan waktu summer school lalu. Gelo!
PS: ada tips and tricks dari Ferris lho. Gelo pisan lah pokokna!   Begini nih kalau mahasiswa sesat. Sudah dapat laptop baru yang pertama di-install adalah codec biar bisa membuka file dvd dorama Nodame Cantabile dan menikmatinya 2 malam berturut-turut.
Siapa sih Nodame? Bagi yang berhobi membaca komik dan/atau nonton anime, nama ini mungkin sudah tak asing lagi. Nodame itu kependekan dari Noda Megumi. Begitulah si Megumi Noda (Megumi = nama benarnya, Noda = nama keluarganya), mahasiswi akademi musik, menyebut dirinya sendiri. Cewek ini jorok banget dan aneh. Malas buang sampah sampai-sampai kamarnya seperti TPS. Jarang mandi dan gemar memakai baju yang sama berhari-hari. Suka banget makan. Kalau sudah berhubungan dengan makanan, semangatnya akan menyala. Suka mengeluarkan kata-kata aneh seperti gyaboo dan mukya. Bercita-cita menjadi guru TK padahal... yah, apakah kamu bisa membayangkan seorang Nodame bisa menjadi guru? Tapi, di balik itu semua dia jenius dalam hal memainkan piano. Sekali mendengar musik dia bisa memainkannya dengan baik. Beberapa orang menganggapnya bodoh karena tidak bisa membaca partitur dan bermain asal.
Orang pertama yang bisa "membaca" permainan piano Nodame adalah Chiaki Sinichi, senior Nodame di akademi yang sama. Walaupun disebut senior mereka berdua tidak saling kenal sampai kejadian tak sengaja yang mempertemukan mereka berdua. Kejadian yang "nggak banget deh". Chiaki pulang mabuk dan tertidur di depan pintu apartemennya kemudian dipungut Nodame. Ternyata mereka ini bertetangga! Aneh, bertetangga kok nggak kenal....
Chiaki itu tipe cowok sempurna: ganteng, kaya, pinter banget. Dari jurusan piano (padahal jago bermain biola!), dia akan pindah ke jurusan konduktor. Semua cewek, nggak muda nggak tante-tante, mengidolakannya. Cuma Nodame saja yang telat menggilainya hahaha. Ibarat kata, kalau dihadapkan Chiaki atau bento, Nodame akan memilih bento deh. Kekurangan Chiaki cuma satu, terlalu sempurnanya tadi. Kadang-kadang membuatnya tak punya hati untuk menyelami perasaan orang lain. Yang di kepalanya cuma musik, musik, dan musik!
Dorama ini sangat komik banget. Kalau di komik kadang-kadang penggambarannya kan ekstrim. Misal, kepala dipukul lalu muncul benjolan segede jeruk medan. Nah, di dorama ini juga begitu. Jadi, saya pikir dorama ini pada kadar tertentu menampilkan adegan kekerasan. Gyabon! Kalau sampai ditayangkan di TV Indonesia, saya harap jam tayangnya setelah jam anak-anak tidur.
Lepas dari adegan kekerasan dan yang tidak masuk akal, masih ada unsur-unsur humanis khas dorama Jepang. Pertemuan, interaksi, dan friksi antar tokoh membuat perubahan positif seperti misalnya Nodame mulai serius bermain piano, Chiaki yang akhirnya bisa mengatasi traumanya naik pesawat, Mine yang bisa lulus ujian biola dan Etou-sensei yang tidak lagi menggunakan harisen (kipas besar) untuk mengajar (baca: menghajar) murid-muridnya yang dianggap salah.
Pas nonton seri pertama, saya merasa aneh dengan akting pemeran-pemerannya. Karena bukan pemain piano betulan jadi tidak luwes menekan tuts piano dan gerak bahu dan punggungnya juga tidak mendukung? Tokoh orang Eropa (Franz Stresseman dan Elize) yang tetap memakai aktor dan artis Jepang terasa janggal. Tapi, yah, maklum sih. Merriam Bellina aja kan memerankan tokoh wanita bule (atau indo ya?) di salah satu film Indonesia? Saya lupa film apa, pokoknya yang bareng Mathias Muchus dan Ria Irawan :p Pasti karena masalah teknis banget kan? Apalagi porsinya banyak, bukan cuma lewat dan ngomong sepatah dua patah kata.
Yah, begitu deh. Nonton dorama ini tidak cuma bisa bikin (saya) tertawa-tawa, tapi juga termenung dan terharu. Banyak adegan dan cerita dipotong dari komik dan animenya. Ini nggak masalah buat yang belum pernah baca komik atau nonton animenya. Berhubung saya sudah baca komik dan nonton animenya yaa jadi pas nonton itu membanding-bandingkan ketiganya gitu termasuk apakah pemerannya sesuai dengan imej dalam komik/animenya atau tidak. Lucunya, kata-kata dalam dialog ketiganya sama. Saya sampai hapal. Ya iya lah... Mukiiiiii! Hya ampyun, lupa, komik-anime-dorama Nodame Cantabile ini penuh musik klasik! Gara-gara baca komiknya saya jadi penasaran musik-musik yang diceritakan itu kayak gimana. Beethoven, Mozart, Schubert, Schumann, Rachmaninov, Gershwin, Chopin.... dan nama-nama yang baru kudengar (dan kulupa lagi :p).   | Category: | Movies | | Genre: | Documentary |
A must see movie! "Should we prepare for other threats besides terrorists?" -- Al Gore Pahitnya kenyataan bahwa peradaban di Bumi terancam karena global warming akibat ulah manusia sendiri diungkapkan oleh Al Gore secara blak-blakan di sini. Dengan bukti nyata pastinya. Alur logikanya juga mengena. Cara penyampaiannya memikat. Kalau boleh saya bilang ini film kampanye lingkungan hidup. Ajakan untuk sadar lingkungan dan mencegah hal yang lebih buruk dari global warming. Yang menghuni Bumi ini ya kita ini, lalu siapa lagi kalau bukan diri sendiri yang merawatnya? Bukan demi siapa-siapa, melainkan demi diri sendiri dan masa depan (generasi mendatang, anak-cucu kita) "You see that pale, blue dot? That's us. Everything that has ever happened in all of human history, has happened on that pixel. All the triumphs and all the tragedies, all the wars all the famines, all the major advances... it's our only home. And that is what is at stake, our ability to live on planet Earth, to have a future as a civilization. I believe this is a moral issue, it is your time to cease this issue, it is our time to rise again to secure our future." Pemecahan masalah ini ada di tangan kita. Dari diri sendiri. Dari hal-hal "kecil" di rumah misalnya. Dan saya rasa political will dari berbagai negara penting juga untuk menangani isu ini :) There are things we can do, absolutely. Please find them in http://www.aninconvenienttruth.co.uk/ hehehe. Even encouraging everyone to see this movie is an act as well :D  | Category: | Movies | | Genre: | Documentary |
Sebagai astronom tobat, film dokumenter ini membuat saya semakin tobat (semoga istiqomah – konsisten; amien). Pertama, astronom dengan profesinya itu sangat, sangat keren. Dia bisa tahu masa lalu sekaligus memprediksi masa depan alam semesta dari observasi objek-objek langit (dalam film ini bintang dan galaksi) dan dari simulasi komputer/supercomputer. Dia tidak mengenal lelah menangkap sinyal-sinyal dari langit dari hari ke hari untuk tujuan ini.
Kedua, dengan sedikit lebih objektif hehe, saya merasa diajak berumur panjang di samping skala waktu dalam astronomi itu sendiri sangat panjang dan sukar ditemui dalam kehidupan sehari-hari. “If I could live as long as I chose, I will make sure that I will live long enough, 5-7 billions years ahead to see the impending collision between the Milky Way Galaxy and the Andromeda Galaxy…. I would be around when that happened….”
Pada saat yang sama saya juga merasa kecil, tidak berdaya, ketika Matahari di masa depan akan melahap Merkurius, Venus, dan akhirnya Bumi. Seandainya sebelum saat itu tiba teknologi sudah memungkinkan untuk menransfer orbit Bumi ke posisi yang aman, masih ada hal lain yang “mengancam”: tabrakan antargalaksi. Bagaimana nasib Tata Surya saat itu terjadi? Ya, sebenarnya saat kuliah juga disinggung tentang evolusi Matahari dan tabrakan galaksi, tapi mungkin karena melihat visualisasinya jadi lebih terasa efeknya hehe.
Lebih objektif lagi, saya bilang perpaduan antara gambar, musik latar belakang, dan suara narator dalam film ini pas banget sehingga bisa menghanyutkan penonton. Bisa merinding lho. Penjelasan narasumber mudah dicerna dan menggugah, dari gravitasi hingga blackhole, dari katak matang dalam air yang dipanaskan perlahan hingga Matahari memanas dan membesar, dari pembentukan galaksi hingga gerak bintang-bintang di dalamnya, perjalanan Galaksi Milky Way (Bima Sakti) dalam kelompoknya hingga akhir hayatnya. ~~~~~ Catatan: 1. Saya nonton film ini berkali-kali (dan di rumah pun masih nonton lagi) gara-gara jaga stan prodi di Open House ITB hehe. 2. Maaf, saya nggak nemu gambarnya.  | Category: | Movies | | Genre: | Kids & Family |
Akhirnya saya bisa nonton film Johny Depp yang satu ini....
Lagi-lagi Johny Depp memerankan tokoh berkarakter unik. Kali ini dia menjadi Willy Wonka, pemilik pabrik cokelat yang rasanya ajaib. Tidak ada bekas-bekas cambang, mata liar, rambit awaut-awutan, gigi hitam Jack Sparrow deh. Tengilnya sih masih….hehe.
Dikisahkan Charlie tidaklah lebih beruntung dari anak-anak lain. Dia tinggal di rumah yang sudah miring dan makan sup encer di musim dingin yang menggigit. Keberuntungannya datang ketika dia menjadi salah satu dari lima anak yang mendapat golden ticket – terdapat dalam kemasan batang cokelat Wonka – dan dengan demikian berhak mengunjungi dan melihat-lihat pabrik cokelat Willy Wonka.
Siapa yang nggak ngiler lihat taman cokelat? Sungai dan air terjun dari cokelat leleh. Bunga, buah-buahan, bahkan rumput buatan bisa dimakan. Indah sekali dan…. nikmat! Cukup mengunyah permen karet yang berubah-ubah rasa sehingga kenyang seharian? Naik lift transparan ke segala penjuru pabrik dan melihat proses pembuatan cokelat dan gula-gula? Lift-nya nggak cuma naik-turun lho. Tahu tidak ternyata ada suku bernama Oompa Loompa. Semuanya fantastis! Tapi, siapa sih sebenarnya Willy Wonka? Kenapa dia mengundang lima anak datang ke pabriknya? Oh, pokoknya Charlie lebih beruntung lagi pada akhirnya. Dia memperoleh hadiah yang tidak bisa dibayangkan siapapun. Dan ketika itu dia dihadapkan pada dua pilihan: hadiah atau keluarga. Pilihan yang segera kita ketahui jawabannya namun lanjutannya tak terduga.
Ya, inilah perwujudan visual dan audio dongeng; dongeng anak-anak lengkap dengan nyanyian dan tarian. *****
Catatan: Kata Willy Wonka cokelat bisa memicu hormon tertentu yang memberi perasaan dicintai :) Untuk para orang tua, mungkinkah Anda salah satu dari orang tua lima anak tadi?   | Category: | Movies | | Genre: | Kids & Family |
Pulang dari kosan teman selepas Maghrib. Malam Minggu, no wakuncar, males hang out (alah, kemana sih? paling nggak jauh-jauh dari BIP dan Gramedia), paling nonton Extravaganza deeeh (mana ada Desta lagi!). Eh, ternyata ditawarin nonton Raise Your Voice. Yuuuk.
Film ini sangat, sangat tipikal film keluarga. Film keluarga lurus tentu saja. Dua anak manis, tante yang penuh perhatian, tinggal di kota kecil yang tenang. Terri Fletcher (diperankan oleh Hilary Duff, manis banget dia di sini *luv*) dianugerahi suara yang indah. Dia juga senang menyanyi dan menulis lagu sendiri sejak kecil. Dia berniat ikut sekolah musik di LA saat libur musim panas nanti. Sayang, ayahnya, hanya ayahnya, tidak menyetujuinya.
Tragisnya, kakak laki-lakinya yang mendukung penuh -- sampai-sampai mengirimkan CD rekaman waktu Terri menyanyi -- meninggal karena kecelakaan. Dibayang-bayangi perasaan bersalah karena merasa punya andil atas meninggalnya sang kakak tersayang, Paul, namun didukung penuh tante dan ibunya, berangkatlah Terri ke LA.
Di situlah, sebagai cewek dari kota kecil lalu hijrah ke LA, dia dengan menjadi dirinya sendiri berbaur dengan teman-temannya yang umumnya ambisius, menemukan kekasih dan sahabat-sahabat baru, dan berusaha menghadapi trauma meninggalnya Paul.
Sikap tidak mendukung ayahnya apalah artinya kalau dibandingkan dengan pengorbanan kakak, dukungan ibu, bantuan tante, kekasih yang pengertian (dan ganteng haha), serta guru-guru yang suportif? Jalan meraih impian -- sekaligus penemuan diri -- yang sangat efektif. Filmnya mungkin terlalu "lurus" tapi, IMHO, musik dan lagu yang ditampilkan di film ini, tidak hanya oleh Terri, lumayan lho :) Malah, di bagian akhir ditampilin utuh oleh si bintang utama.     | Sky High | Jan 29, '07 1:25 AM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Ketiga, Sky High. Lho, keduanya mana? Ada, War of the World, tapi nontonnya nggak tuntas karena CD-nya rusak, jadi nggak saya tulis review-nya. Nah, WotW ini lho yang saya bilang banyak menuai celaan dari penonton (saya dan teman-teman tentunya).
OK, film ini, lumayan lah kalau untuk hiburan. Idenya boleh juga, tentang sekolah (setara SMA?) untuk anak-anak yang punya kekuatan manusia super. Sekolahnya sendiri berada di atas awan dengan memberdayakan teknologi antigravitasi.
Cerita bermula ketika hari pertama Will, anak superhero Commander (Mr. Stronghold) dan Jetstream (Mrs. Stronghold), dan teman-temannya masuk sekolah di Sky High. Di sekolah ini anak-anak yang baru masuk menjalani tes seleksi untuk menentukan kelas mana yang akan dimasuki: heroes atau sidekicks (hero supports - geeks). Will, sebagai anak dari orang tua yang dua-duanya superhero, mengejutkan banyak orang karena dia masuk sidekicks karena tidak bisa menunjukkan kekuatannya.
Menjadi bulan-bulanan murid-murid dari kelas heroes, membuat mereka dekat dan akrab dan akhirnya memunculkan kekuatan Will yang sesungguhnya. Bersama-sama mereka bertahan di Sky High dan akhirnya menjadi pahlawan yang menyelamatkan segenap warga Sky High. Namanya juga kisah remaja, pastilah ada bumbu-bumbu love n jealousy begitu deh. Lucu, Warren yang semula bermusuhan dengan Will, malah jadi dekat dengan anak-anak sidekicks dan sempat jadi semacam konsultan cinta antara Will dan Layla. That's high school.
Dan, bisa ditebak, siapa yang sebenarnya paling berbahaya? Pacar sendiri. Pesan moral: satu, mengkelas-kelaskan orang? don't!; dua, don't judge a book by its cover apalagi cuma dari siapa keturunan siapa hehehe.   | Category: | Movies | | Genre: | Horror |
Akhir pekan lalu, bosan, nginep di kosan teman, nonton, nonton, dan nonton. Dari yang serem, lucu, sampai yang serius (tapi tak luput dari celaan penonton-penonton yang kritis :p).
Pertama, Dark Water. Tadinya nggak mau ikutan nonton soalnya udah tahu itu film horror - saya nggak suka genre ini. Tapi, nggak enak rasanya sendirian di kamar sementara teman saya itu nonton di kamar sebelah. Nonton TV juga nggak jelas acaranya apa. Jadi, saya ikutan nonton.
Ternyata nggak ada serem-seremnya. Sungguh. Saya mengira saya bakal menutup mata atau berlindung di balik punggung teman saya kalau adegannya mulai menegangkan atau paling parahnya histeris. Yah, mungkin faktor kualitas gambarnya nggak bagus (baca: CD-nya sepertinya bajakan). Gelap. Alih-alih serem, wong kami malah sibuk memfokuskan mata, melebarkan pupil, biar bisa melihat gambar sedikit lebih jelas. Tetep kok, nggak serem memang. Musiknya juga nggak memprofokasi bulu roma meremang.
Jadi, menurut saya film ini lebih ke drama. Drama kehidupan Dahlia Williams dan anak tunggalnya, Cecilia, setelah bercerai kemudian pindah ke apartemen di Roosevelt Island. Malangnya, apartemen yang dihuninya "berhantu." Dari awal transaksi apartemen dia sudah mulai terganggu dengan sikap Veek, penjaga apartemen, yang berkesan kurang bertanggung jawab karena membiarkan pintu ke atap terbuka. Lalu, sikap posesif yang aneh dari Cecilia tatkala menemukan tas Hello Kitty di atap. Ketika diputuskan tidak jadi menyewa apartemen, si kecil Cecilia malah keukeuh minta tinggal di situ saja. Ibunya mengalah dan mulailah "teror" air hitam mulai. Dipikirnya bocor biasa. Tanggapan Veek dan pemilik/makelar apartemen yang kurang membantu, perilaku "aneh" Cecilia yang menjadi-jadi, keributan anak-anak yang mengganggu, pengakuan suaminya yang mengatakan Dahlia mempunyai gangguan kejiwaan yang mempengaruhi anaknya, serta ingatan akan ibunya yang mengabaikannya membuat kondisi Dahlia semakin tertekan. Apakah ini semua hanya halusinasi?
Ternyata semuanya tadi itu seperti petunjuk-petunjuk dari "sesuatu" yang tidak bisa dilihat untuk memecahkan misteri dan petunjuk-petunjuk itu seperti tidak berhubungan. Meski permasalahan sudah terpecahkan, Dahlia masih diuji sebagai seorang ibu. Begitulah kesimpulan film ini: pengorbanan seorang ibu demi anak, bahkan kalau pengorbanan itu berupa nyawanya sendiri. Pesan moral eksplisit: jangan sampai mengabaikan anak hehehe.   | Category: | Books | | Genre: | Comics & Graphic Novels | | Author: | Shizue Takanashi & Shunichi Yukimuro |
Ini oleh-oleh dari bursa buku di Gramedia. Semula saya nggak begitu minat dengan bursa buku serupa karena biasanya buku yang saya incar tidak ada. Tapi hari Senin lalu, berhubung sedang jenuh dan ingin jalan-jalan, ke sana juga saya akhirnya. Saya tertarik membawa pulang komik ini karena gambar covernya manis. Maksud saya: sederhana, warna-warna pastel mendominasi khas komik jepang jadul, tidak banyak detail seperti komik-komik umumnya, dan sepertinya menyiratkan isinya lucu.
Ternyata love at first sight nggak selalu menipu. Ternyata benar dugaan saya. Komik terbitan akhir tahun 1970an ini bisa menghibur saya. Komik ini bercerita tentang persahabatan antara SPANK (anjing pemalas, gendut, tidak bisa berenang) dengan Aiko (cewek SMP). SPANK juga berteman dengan Cat (kucing genit milik rival-nya Aiko) dan Pippa (gebetannya Cat).
Bagian awal menceritakan bagaimana SPANK menarik hati Aiko yang baru saja kehilangan anjing kesayangannya yang pernama Pappy. Adaaa saja yang dilakukan SPANK agar bisa diterima Aiko. Kocak deh. SPANK dan teman-temannya itu kadang-kadang juga jadi cupid atau pendamai. Ah, pokoknya SPANK jadi superheronya deh. Langkah menjadi superhero itu lhooo yang kocak tapi mengharukan (aduuuh, cengengnya gue....). SPANK nggak berubah meski ganti pemilik. "SPANK itu bukan anjing, SPANK ya SPANK," kata Aiko.
Meski penggambaran seekor anjing berlebihan - berjalan dengan dua kaki, bisa menuang teh dari teko, makan dengan sumpit, menggendong bayi dan belanja (ah, namanya juga komik....) - tapi dalam hal hubungan manusia-manusia jalan pemikirannya sederhana, tidak ekstrim hitam-putih, sesuai dengan umur tokoh yang umumnya masih SMP.
Sayang, saya nggak nemu gambar cover komik ini di internet (curiga nih, penjaga cumi memblokirnya :p), tapi saya nemu satu gambar SPANK dari http://www2.gol.com/users/keikok/cellulos/span1/index.htm. Begitulah kira-kira si SPANK itu. Menggemaskan nggak? ;)   Bertahun-tahun tinggal di Bandung saya masih nggak gaul. Masak ada tempat bagus seperti All About Strawberry ini saya nggak tahu :( Saya dan teman-teman seangkatan waktu S1 berencana ngumpul-ngumpul lagi (untuk yang ke-3 kalinya dalam setahun ini) dalam rangka Finny mudik ke Indonesia. Waktu itu masih belum ada ide mau main kemana. Makan bareng dan ngobrol sih pasti di urutan pertama hehe. Nah, Finny inilah yang mencetuskan ide pergi ke kebun strawberry. Nah, lho, dimana itu? Mulailah saya mencari tahu. Dari milis indobacpacker lah saya dapat info tentang tempat ini. Lengkap. Dari no telepon contact person di All About Strawberry (Pak Harianto) hingga angkot menuju ke sana (dari Leuwipanjang).
Tibalah hari yang ditunggu: Senin, 25 Desember. Kami (saya, Finny, Santi, dan Meilan) berangkat dari kosan saya di Dago sekitar jam 7:30. Cuma berempat yang bisa ikut. Jadi seperti bukan acara seangkatan melainkan acara cewek-cewek seangkatan :(. Berhubung ini pertama kalinya kami ke sana dan informasi mengenai angkot tidak begitu cucok dengan posisi kami saat itu (masak harus ke Leuwipanjang dulu? Kapan sampainya?), jadilah kami menebak-nebak naik angkot apa dari Dago hingga ke All About Strawberry di Cihanjuang. Modalnya cuma memori saya sewaktu ikut Latihan Kepemimpinan dan Organisasi (LKO) di Cihanjuang serta sedikit pengetahuan perangkotan di sekitar Geger Kalong (maafkan saya teman-teman… untung nggak nyasar hehe).
Setelah naik angkot Ledeng-Cimahi dan turun di Jl. Cihanjuang (di pertigaan yang bercabang ke Parongpong dan Cimahi) dan kemudian salah naik angkot ungu, tibalah kami di All About Strawberry - Farm, …, and Accessories di Jl. Cihanjuang 12-18. Jreng jreng! Tiket masuknya 5000 rupiah (tiketnya nggak sempat difoto euy) dan bisa ditukar dengan segelas strawberry juice dingin.
Tempatnya memang asyik. Rapi, bersih, teduh. Kalau membawa anak-anak, mereka tak akan kekurangan sarana untuk bermain. Ada jungkat-jungkit, flying fox, rumah cowboy, dan lain-lain. Tempat ini juga bisa untuk mengenalkan aneka tanaman pada mereka. Pohon-pohonnya dikasih papan nama (nama latin dan nama populer dalam bahasa Indonesia).
Karena rencananya memang mau ke kebun strawberry, tujuan pertama kami adalah ke kebun strawberry. Jalan setapak menuju ke sana masih basah. Sepertinya hujan mengguyur Cihanjuang malam sebelumnya. Sejuk. Kami menyempatkan diri (tentu saja!) untuk berfoto-foto di jalan setapak yang dialasi beton-beton bertuliskan macam-macam. Cahaya matahari pagi yang menembus dedaunan memberi nuansa tersendiri. Di tepi jalan itu ada bangunan yang diberi nama Rumah Kue. Sayang, masih tutup. Jadi kami berfoto-foto saja di depannya. Bener, Mei, kayak Hans and Gretel. Untunglah dari pintu nggak keluar nenek sihir hehe. Kalau iya, bisa-bisa kita diculik. Kita kan anak-anak yang manis…. :p
Di sisi lain yang agak jauh ada factory outlet. Kami tidak ke sana. Jauh-jauh ke kebun strawberry mosok ke FO lagi. Di sepanjang Jl. Dago kan buanyyak. Saya membayangkan baju-bajunya dibuat dari serat strawberry dan hiasannya disulam dari biji-biji strawberry. Hahaha. Tentu saja itu cuma khayalan bodoh saya.
Nah, sampailah kami di kebun strawberry (akhirnya!). Sebelumnya kami melewati rumah tempat pembiakan strawberry. Sepertinya begitu. Di pintu masuk ke kebun ada penjaga yang menyediakan keranjang dan gunting untuk memetik strawberry. Kalau tidak mau repot-repot memetik sendiri, kamu bisa beli di situ. Harganya lebih murah daripada hasil petikan sendiri (beli 40 riburupiah per kg, metik sendiri 60 ribu rupiah per kg). Eits, nggak ada ruginya membayar lebih untuk menikmati memetik strawberry sendiri kan? Nggak cuma strawberry segar lho tapi juga ada juice botolan dan selai (strawberry tentu saja!). Perhatian, hanya yang metik yang boleh masuk dan anak-anak harus didampingi orang tuanya. Oh, kami semua tentu saja ingin memetik, jadi kami berempat masuk ke kebun. Lalala… pilih-pilih yang merah, petik sekaligus dengan tangkainya. Karena musim hujan, kualitas buahnya tidak begitu bagus. Strawberry di sini kecil-kecil. Jarang yang besar. :(
Matahari sudah agak tinggi waktu kami selesai. Sekitar 350 gram yang kami peroleh. Setelah membayar, kami (saya deng yang ngotot) ingin melihat rumah pohon. Ini obsesi saya sih hehehe. Sayang, nggak ketemu. Malas nyari-nyari lagi sih sebenarnya. Cuma lihat (dari jauh) rumah cowboy dan strawberry air sambil duduk-duduk di bawah pohon rindang. Lalu kami mulai merasa lapar. Kami menukarkan potongan tiket kami dengan segelas juice. Hmmm, dingin, segar! Sayang cuma sedikit. Hahaha, dasar rakus aja ya :p. Kami duduk-duduk menikmati strawberry petikan sendiri dan juice tadi. Tempatnya nyaman sekali untuk duduk-duduk lama. Kami ngobrol ke sana kemari sampai waktu mendekati makan siang. Jadi pengen makan…. Saya membayangkan pepes strawberry, sop strawberry, strawberry saus tiram…. Oh, tentu saja itu khayalan bodoh saya lagi. Kami pun bergerak mengedari stan-stan makanan di dekat gerbang masuk. Tidak semuanya buka (libur natal kali yaa). Daaaan, simpulannya kami tidak jadi makan di situ hehehe.
Pulang jadi lebih “seru” karena angkot Cimahi-Ledeng selalu sudah penuh berisi ketika sampai di pertigaan yang saya bilang tadi dan tidak ada trayek lain yang ada (kecuali ojek), kami memutuskan untuk ke Cimahi, ke tempat angkot itu bermula. Ha-ha-ha. Akhirnya… kami pulang dengan nyaman :)   | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Ini pertama kalinya saya nonton film tentang agen 007. Film-film sebelumnya yang judulnya berkisar antara "Die" dan "Day" nggak menarik minat saya. Brosnan dengan tampang playboy-nya membuat saya enggan (padahal dulu saya suka nonton dia di serial Remington Steel).
Yaa, secara keseluruhan, Daniel Craig sebagai James Bond dalam Casino Royale memberi image baru buat saya. Action-nya cowok banget walaupun nyaris nggak masuk akal lompat-lompat dari gedung tinggi kemudian lari nggak ada selesainya. Ya, Mr. Bond tampak lebih macho dan bukan flamboyan. Saya jadi ingat film-film action Van Damme gitu hehehe. Sayangnya, jadi banyak adegan kekerasan deeh :( Yah, standard film Bond adalah adegan intim dengan cewek... No comment deh. Tapi, sepertinya lebih manusiawi kisah di baliknya. Saya menilai begini berdasarkan adegan Lynd ketika shock karena baru saja melihat pembunuhan lalu Bond berusaha menenangkannya. Jadi agak-agak romantis deh hehehe. Ketegangannya juga berlapis-lapis. Saya pikir masalah sudah terpecahkan ternyata dibalik musuh dan masalah ada musuh dan masalah lagi dan seterusnya.
Yang membuat saya senang lagi adalah view Eropa dan Bahama. Terutama Eropa sih. Wuiih, kastil, jalanan ber-pavingstone dengan kursi-kursi kafe di tepinya, sungai yang membelah kota, rumah di tepi laut, daaaan laut hijau tosca! Bikin saya pengen pulang kampung ke salah satu negara di Eropa sana (halah!).
Pokoknya, kalau ingin image baru James Bond, coba deh nonton Casino Royale. Eh, tampang Bond inggris banget yak. Ya iyalah, Daniel Craig kan aktor kelahiran Cardiff, Inggris :p      | Madicken | Nov 11, '06 2:03 AM for everyone |
 | Category: | Books | | Genre: | Childrens Books | | Author: | Astrid Lindgren |
Senangnya tinggal di Junibacken - Bukit Juni, rumah bercat merah tempat tinggal Madicken, Lisabet, Mama, Papa, Alva, Sasso (seekor anjing pudel), dan Gosan (seekor kucing). Di depan Junibacken ada sungai yang bisa dilalui perahu kecil. Pada saat musim dingin tiba dan sungai sudah cukup keras membeku, kau bisa meluncur di atasnya. Kalau kau terus mengikuti arah sungai kau akan bertemu Bukit Apel, tempat tinggal Paman Larsson yang punya peternakan. Di sana ada sapi dan anak sapi serta empat ekor kuda. Kalau kau meminta ijin dengan sopan pada Paman Larsson, kau boleh bermain dengan mereka.
Senangnya tinggal di Junibacken. Saat musim panas kau bisa asyik bermain di sungai yang mengalir di depannya. Sekedar duduk-duduk di dermaga sambil merendam kaki atau bahkan kau bisa bermain "Musa dihanyutkan di sungai dan diselamatkan oleh putri Firaun."
Senangnya tinggal di Junibacken. Saat musim semi banyak bunga menampakkan diri. Warna-warni. Aaaah, apapun musimnya kau akan senang tinggal di Junibacken. Piknik di atap gudang pun cukuplah. Pokoknya asyik banget deh di Junibacken. Oooh, aku jadi merindukanmu, Swedia.... :p
Ums, apa ini juga termasuk karya kontemplatif Astrid Lindgren? Aku menyimpulkan begitu karena ucapan-ucapan ibu tukang cuci keluarga Madicken dan perangai keluarga Nilsson yang tinggal di Lugnet (ketenangan), tak jauh dari Junibacken.   | Category: | Books | | Genre: | Comics & Graphic Novels | | Author: | Reiko Shimizu |
Barangkali ini komik pertama yang menguras air mata saya. Tunggu sebentar. Apakah saya sudah sedemikian cengeng atau memang cerita dalam Wild Cats sungguh menyentuh? Putuskan setelah kamu membacanya hehehe.
Gambarnya bagus. Garis-garisnya lembut. Penokohannya OK. Ekspresinya pas banget. Kalau orang bilang mata adalah cermin jiwa, di sini mata - hanya dengan ekspresi mata, perasaan tokoh sudah cukup terwakilkan. Barangkali saya hiperbola? Tentukan setelah kamu membacanya.
Dalam Wild Cats ada 3 bagian cerita. Dua bagian pertama bertutur tentang hubungan manusia dengan binatang peliharaannya. Bagian ketiga, sama sekali tidak berkaitan dengan dua bagian lain, bertutur tentang rahasia. Dua cerita awal itulah yang membuat air mata saya tumpah menganak sungai (memalukan!) di samping saya bisa tersenyum untuk adegan-adegan konyolnya.
Benarkah binatang peliharaan bisa punya ikatan emosi yang kuat dengan pemiliknya sehingga rela melakukan apa saja untuk tuannya itu? Benarkah kalau binatang seliar dan sekuat singa bisa semanis anjing dan selembutkucing kalau sejak bayi tidak "disadarkan" bahwa dia itu singa? Apakah binatang juga punya emosi, perasaan tersisih, punya keinginan untuk selalu berada di samping seseorang yang menganggapnya penting? Apakah mungkin dia punya rasa malu dan tidak berharga karena sudah mengecewakan tuannya? Apakah dia bisa menyadari bahwa nasibnya yang terombang-ambing di masa lalu hanyalah suatu "cara" untuk membawanya pada seseorang yang mengakui keberadaannya, menganggapnya segalanya, seseorang yang diimpikannya?
Saya rasa cuma metafora (eh, bener nggak sih istilahnya? :p) tapi kena banget. Eh. memelihara singa kayaknya seru juga ya. Hmmm..... *membayangkan punya singa*
Kalau untuk cerita bagian ketiga, saya cuma punya tiga kata: nggantung tapi keren ;)   | Category: | Books | | Genre: | Childrens Books | | Author: | Astrid Lindgren |
Bo Vilhelm Olsson, 9 tahun, diberitakan menghilang dari rumahnya di Upplandsgatan. Tapi, sebenarnya dia tidak menghilang. Ia telah pulang, pulang ke negeri asalnya, Negeri Nun Jauh, ke tempat ayahnya, Raja Negeri Nun Jauh. Namanya pun bukan lagi Bo. Di Negeri Nun Jauh dia dipanggil Mio, pangeran Negeri Nun Jauh. Di sana ia mempunyai kuda putih bersurai keemasan yang bisa terbang bernama Miramis. Mio juga punya sahabat bernama Jum-Jum yang bermata lembut seperti temannya di Upplandsgatan, Benka. Bertiga mereka bertualang ke tempat-tempat ajaib, seperti: Jembatan Sinar Pagi, Sumur yang Berbisik pada Malam Hari, Hutan Kemilau Bulan, dan lain-lain. Tempat-tempat ini disangka Mio hanya ada dalam buku dongeng. Di Negeri Nun Jauh Mio menjelma menjadi ksatria. Dia melawan Ksatria Kato yang berhati batu dan bercakar besi.
Terus terang ini buku Astrid Lindgren pertama yang saya baca. Bacaan yang saya lahap ketika saya masih kanak-kanak paling buku-buku karya Enyd Blyton, cerita-cerita di Majalah Bobo, STOP, Trio Detektif, dan Nina. Petualangan Mio di Negeri Nun Jauh ini menyadarkan saya betapa rindunya saya akan bacaan yang naif. Kebaikan hati yang murni. Persahabatan yang sederhana. Sepinya Mio di Upplandsgatan menyentuh saya hik's, hik's....      | Abarat | Oct 13, '06 6:47 AM for everyone |
 | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Clive Barker |
Petualangan Candy Quackenbush di Abarat mengingatkan saya pada petualangan Alice di Wonderland. Keduanya sama-sama mengisahkan petualangan seorang gadis di negeri antah berantah, antara negeri asal dan negeri yang dikunjunginya adalah dua dunia yang paralel, dunia lain yang ajaib. Ajaib dalam arti tak terbayangkan dalam dunia asalnya. Tapi, rasa-rasanya imajinasi dalam Abarat lebih liar dari Wonderland, termasuk penghuninya. Penghuninya berupa campuran dari beragam spesies. Alamak, rupanya daya imajinasi saya masih belum cukup untuk bisa membayangkan beberapa tokoh yang muncul dalam cerita. Untunglah Clive Barker melengkapi buku-bukunya dengan ilustrasi. Pulau-pulau di Abarat sesuai dengan setiap jam yang kita tempuh dalam satu hari (di dunia nyata) ditambah satu: Jam Kedua Puluh Lima. Masing-masing pulau memiliki karakternya sendiri sesuai dengan namanya.
Seperti di dunia nyata, di Abarat pun ada yang baik hati dan ada pula yang jahat; ada yang tegas, ada yang jenaka; ada yang tak berbelas kasih, ada yang murah hati. Ihik, saya terharu ketika Candy membebaskan “seorang” geshrat dari tuannya yang lalim kemudian mereka saling percaya dan bersahabat. Eh, kok saya jadi ingat Noriko dalam Dunia Mimpi (judul aslinya Kanata Kara- From Far Away) karya Kyoko Hikawa, manga-ka favorit saya. Mereka muncul secara ajaib di dunia lain kemudian menjadi pahlawan di negeri asing itu. Betul lho… tapi belum lagi Candy (dan kawan-kawannya di Abarat) tiba pada semacam penyelesaian “misi” yang jadi alasan dia masuk ke dunia lain, kok bukunya sudah pada halaman terakhir sebelum appendix ya… Alih-alih menyesali saya justru ingin membaca kelanjutannya (katanya Abarat ini sebuah trilogi juga ya? Sekuel-nya sudah terbit belum sih?), bagaimana petualangan Candy di Abarat. Pertemuan ajaib dan peristiwa heroik apalagi kiranya yang akan muncul?
Berikut ini kutipan dari Abarat (bagian pertama). Sengaja saya pilih yang berbau-bau astronomi :D
Saat memandangi cahaya bintang yang berkerlap-kerlip itu, Candy teringat bahwa waktu itu ia melihat betapa berbedanya konstelasi di sini dengan di dunianya sendiri. Bintang-bintang yang berbeda; takdirnya pun berbeda. ...
"Jadi, kalau aku belajar membaca nasib berdasarkan bintang-bintang, mungkin aku bisa menemukan masa depanku di atas sana. Dengan begitu, bisa membantu memecahkan banyak masalah." "Dan mengungkap banyak misteri, sehingga jadi tidak seru lagi," kata Malingo. "Jadi, lebih baik tidak tahu?" "Lebih baik mencari tahu kalau waktunya sudah tiba. Segala sesuatu ada Jam-nya." 
| |