Mengapa kita bisa terus-menerus memikirkan seseorang meskipun kita berjarak begitu jauh dari seseorang itu dan telah berpisah begitu lama sehingga kadang-kadang sebenarnya susah mempertahankan ingatan atas seseorang itu dari hari ke hari dalam suatu perjalanan yang terus-menerus berubah warna? *Apakah aku mengembara untuk mencari ilmu? Jangan-jangan sebenarnya aku pergi menyeberangi laut, mendaki gunung, menuruni lembah dari negeri satu ke negeri lain hanya untuk lari dari persoalan, lari dari kenyataan bahwa aku sebenarnya tidaklah terlalu tabah menghadapi penderitaan.** Today a year ago I learned to fly Fly to far, far away country What have I learnt so far? ~~~~~ Catatan: * oleh Seno Gumira Ajidarma dalam cerpen Tempat yang Terindah untuk Mati ** oleh Seno Gumira Ajidarma dalam cerpen cerpen Negeri Kabut
Gambar diambil dari stagenine.com
Belajar menulis... sudah lama nggak nulis... Daya konsentrasi menurun, kecepatan membaca juga menurun Apa yang tidak turun? Emosi jiwa  ~~~~~ Selama ini awan menjadi semacam penghalang bagi satelit untuk mendeteksi bagian terdasar dari atmosfer Bumi. Namun, ada hikmah dibaliknya. Kendala ini justru menjadi pusat perhatian karena bagaimanapun awan turut berperan dalam iklim Bumi. Polusi telah lama diamati berkaitan dengan awan. Afternoon Constellation atau umumnya disebut A-Train, serangkaian satelit yang beriringan serupa konstelasi mengorbit Bumi, berupaya mencari kaitan antara awan, polusi, dan curah hujan.  Ilustrasi bagaimana satelit-satelit yang tergabung dalam Afternoon Constellation terbang dalam formasi selama mengelilingi dan mengobservasi Bumi (sumber: NASA). Kaitan antara hujan dan polusi berhasil "dibaca" berkat pengukuran yang hampir simultan dari satelit-satelit A-Train. Pertama, satelit Aura mengukur kandungan karbon monoksida di dalam awan. Adanya zat ini mengindikasikan adanya asap dan aerosol lainnya yang biasanya berasal dari sumber emisi, misalnya kebakaran lahan pertanian. Kemudian satelit Aqua yang mampu membedakan mana awan yang terpolusi dan mana yang masih bersih melanjutkan tugas. Piranti Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer yang dimilikinya mempelajari bagaimana partikel es berubah ukuran ketika aerosol polutan terkandung dalam awan. Sementara itu, satelit Tropical Rainfall Measuring Mission milik NASA mengukur jumlah presipitasi (bisa berupa hujan, salju, ataupun es) yang jatuh dari awan baik yang sudah tercemar maupun yang masih bersih. Tim Jonathan Jiang (NASA's Jet Propulsion Laboratory) mendapati bahwa awan yang tercemar mengurangi jumlah curah hujan selama bulan Juni-Oktober (musim kering) di Amerika Selatan. Pada bulan-bulan ini juga sering terjadi kebakaran lahan. Selama periode tersebut partikel-partikel es yang kecil di dalam awan yang tercemar sulit untuk tumbuh cukup besar dan menjadi hujan.Para pakar juga mengemukakan bahwa dinamika skala besar dan hujan yang membersihkan udara dari partikel aerosol turut berperan. Rumitnya kaitan antara aerosol dan awan menimbulkan kesulitan yang belum bisa dipecahkan oleh instrumen selama ini. Namun, jika parameter-parameter dari berbagai satelit dikumpulkan dan ditelaah, akan lebih banyak informasi yang bisa ditarik dibandingkan jika menggunakan instrumen tunggal. Selaras dengan perkataan "banyak kepala lebih baik dari satu kepala", hmm?
aku adalah anak bebek hingga pada suatu ketika aku menyadari paruhku pendek leherku tak sejenjang mereka cempreng, itu suara yang aku punya memang dulu lamat-lamat aku merasa dilihat dengan tatapan yang berbeda sekeras apapun aku berusaha menyamakan suara dan kutarik leherku sedemikian rupa aku cuma anak ayam terbawa episode hidup yang runyam ~~~~~ Catatan: * terinspirasi dari judul kisah klasik Anak Itik Buruk Rupa .... this morning, after two tiring days
 Sesiangan ini gelisah melulu. Kenapa? Aku tak tahu. Usai Maghrib berkumpul dengan tim teknis teleskop. Seorang rekan menerima SMS. Johan meninggal hari ini. Hiks, Johan... Usai operasi yang berulangkali itu, kamu bisa berlari-lari seperti anak-anak lainnya. Kami semua optimis melihatmu untuk terus tumbuh besar dan juga mendengar celotehmu. Ah, Johan... Masih teringat ketika kamu tertidur di gendonganku, bermain bersama di ruang pasca atau sepanjang koridor prodi. Hadirmu melenyapkan ketegangan hari-hari kuliah yang penat. Ah Johan... pasti Tuhan begitu sayangnya padamu sehingga memanggilmu untuk bersamanya sedini ini. Semoga kasihmu terus berada di hati kami semua. Selamat jalan, Johan.
 Ya, Anda diperbolehkan menamai satelit. NASA mengundang Anda sedunia untuk menamai satelit barunya sebelum diluncurkan pertengahan tahun ini. Sebelumnya satelit ini dipanggil GLAST, kependekan dari Gamma-ray Large Area Space Telescope. Keterangan lebih lanjut baca di sini. ~~~~~ Catatan: Gambar menunjukkan ilustrasi wahana GLAST ( credit: NASA and General Dynamics)
 Anda penggemar The Beatles? Turut berbahagialah sebab lagu Across the Universe milik grup musik legendaris ini akan dipancarkan ke belantara ruang angkasa oleh NASA pada tanggal 4 Februari. Dalam rangka apa? Baca di langitselatan.com. ~~~~~ Catatan: gambar diambil dari popartuk.
 Selama ini astronom beranggapan Merkurius menyerupai Bulan, namun MESSENGER menyampaikan pesan bahwa Merkurius tak seperti yang kita duga selama ini. Merkurius ternyata memiliki banyak tebing menjalar ratusan kilometer melintang di permukaan planet. Wahana yang sudah menempuh 3,5 tahun perjalanan juga memperlihatkan kawah-kawah akibat tumbukan dengan benda ruang angkasa. Mereka berbeda dari kawah Bulan. Di antara kawah-kawah tersebut yang paling mencengangkan adalah apa yang disebut "The Spider" (lihat gambar). Kejutan apa lagi yang dibawa MESSENGER? Simak di langitselatan.com. ~~~~~ Image credit: NASA/Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory/Carnegie Institution of Washington
 Sebuah kelompok yang terdiri dari pakar geologi mengusulkan epoh geologis baru, Anthropocene, yang meliputi sekitar 200 tahun sejarah geologis. Usulan ini dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa aktivitas manusia telah menjadi agen perubahan terbesar bagi topografi dan iklim Bumi selama dua abad terakhir ini. Apakah alasan para pikir ini untuk merombak tatanan yang sudah ada untuk mengakomodasi penemuan mereka? Baca langitselatan.com. Diagram sejarah Bumi di sampinya diambil dari Geography Department Virginia Tech.
Bintang deret utama kelas B umumnya langka dijumpai berada jauh dari bidang Galaksi. Bintang-bintang ini diyakini sebagai “bintang pelarian” yang terlontar dari bidang Galaksi usai terbentuk. Belum pernah dijumpai bintang B yang kecepatannya melampaui kecepatan-lepas Galaksi hingga pada tahun 2005 dilaporkan bintang dengan kecepatan sangat tinggi (hyper velocity star atau HVS), yakni bintang SDSS J090745.0+024507. Bintang HVS pertama ini oleh penemunya, Brown, diperkirakan terlempar dari pusat Galaksi Bima Sakti, galaksi yang kita huni.
Bintang HVS kedua adalah HE 0437-5439 yang dilaporkan oleh Edelmann dan kawan-kawan pada tahun yang sama. Meskipun demikian fenomena HVS ini masih mengundang pertanyaan: dari manakah asal-usulnya? Jawabannya bisa dibaca di langitselatan.com. ~~~~~ Gambar merupakan artist's impression untuk sebuah bintang yang terlontar dari Awan Magellan Besar ( image credit: ESO)
Lagi asik-asiknya nangkring di labkom S1 dan berbalas e-mail, seseorang mencolek bahu saya dari belakang. Otomatis saya menoleh. Ouh, ternyata Komet (nama sebenarnya dengan ejaan yang salah :p), adik kelas di astronomi. Semester ini dia menjadi mahasiswa bimbingan Mr T, pembimbing tesis saya dulu.Komet (K): Disuruh Mr T nanya ke Mbak Ratna soal analisis kurva cahaya.Saya (S) : Wuits, hmm... sebenarnya belum pernah nyoba sih, tapi aku punya paper tentang itu.K : Ada code-nya?S : Ada... ada... Btw, mau ngamat transit exoplanet?K : Iya.S : Wah, mau dong ikutan....K : Kata Mr T sekitar Juni-JuliS : Asiiik... Kalau mau, aku punya paper-paper tentang transit. Lengkap deh pokoknya. Soalnya dulu pas kuliah topik observasi aku ngamat transit. Ntar aku bawain. Udah ada petunjuk-petunjuk cara ngamatnya juga. Bla bla bla... (pokoknya antusias banget) ... Dulu aku pengen tesisku ngamat transit aja soalnya kerjaan waktu topik observasi belum beres. Data yang didapat masih sedikit. Duh, leganya. Ada orang yang mau meneruskan pekerjaan saya untuk Tugas Akhir. Saya sempat menyangka bahwa saya generasi terakhir (di program studi astronomi) yang menggeluti dunia exoplanet karena saya lihat tak satupun yang mengerjakan Tugas Akhir mengenai topik yang perkembangannya pesat ini. Sempet ada satu mahasiswi yang berminat dengan exoplanet untuk Tugas Akhirnya. Namun, di tengah jalan ia beralih menekuni asteroid. Dan sejak saat itu belum ada lagi yang naga-naganya akan bekerja di bidang ini. Dengan hadirnya Komet (ssssaaaaaaaaaaaaaaah! swit2!), sangkaan saya salah. Senangnya.... Sepertinya apa yang sudah saya kerjakan nggak sia-sia *terharu*.~~~~~Catatan: Gambar diambil dari empowerwomannow.
 Kayaknya kok familiar ya dengan term INTJ.... Ya wes lah, ini dapat link dari Vivi. Pengen tahu kau berkepribadian apa? Ke sini aja. Apa itu INTJ? Ceunah INTJ itu... INTJs are introspective, analytical, determined persons with natural leadership ability. Being reserved, they prefer to stay in the background while leading. Strategic, knowledgable and adaptable, INTJs are talented in bringing ideas from conception to reality. They expect perfection from themselves as well as others and are comfortable with the leadership of another so long as they are competent. INTJs can also be described as decisive, open-minded, self-confident, attentive, theoretical and pragmatic.
Sou ka?
 Sewaktu membuka halaman-halaman akhir dari tulian C. D. Impey dalam Vistas in Astronomy (1995) berjudul The Search for Life in The Universe: A Humanistic Perspective, saya terantuk pada puisi di bawah. Perdebatan mengenai kehidupan di luar Tata Surya menempati arena budaya yang luas, tulis Impey. Saat itu dukungan untuk SETI (Searh for Extraterrestrial Intelligence) sangat minim dari Kongres AS. Pendanaan seret dan olok-olok mencari alien dihembuskan. Di sisi lain, publik justru mendukung meskipun dukungan ini didorong atas keyakinan adanya alien alih-alih pemahaman ilmiahnya. Impey wrote, "Arts and Humanities can bridge the gap between knowledge and ignorance." Bukankah imajinasi fiksi sains telah begitu menakjubkan? Dan, puisi karya Diane Ackerman berjudul Ode to Alien (1983) ini menurut Impey menunjukkan bahwa kehidupan di alam semesta (kehidupan di luar Bumi) menempati domain penyair sama banyaknya dengan domain ilmuwan. Beast, I've known you in all love's countries, in a baby's face knotted like walnut meat, in the crippled obbligato of a polio-stricken friend, in my father's eyes pouchy as two marsupials, in the grizzly radiance of a winter sunset, in my lover's arm veined like the blue-ridge mountains. To me, you are beautiful until proven ugly.
Anyway, I'm no cosmic royalty either: I'm a bastard of matter descended from countless rapes and invasions of cell upon cell upon cell. I crawled out of slime; I swung through the jungles of Madagascar; I drew wildebeest on the caves at Lascaux; I lived a grim life hunting peccary and maize in some godforsaken mudhole in the veldt.
I may squeal from the pointy terrorof a wasp, or shun the breezy rhetoric of a fire; but, whatever your form, gait, or healing, you are no beast to me, I who am less than a heart-flutter from the brute; I who have been beastly so long. Like me, you are the pool of quicksilver in the mist, fluid, shimmery, fleeing, called life.
And life, full of pratfall and poise, life where a bit of frost one morning can turn barbed wire into string of stars, life aromatic with red-hot pizzazz drumming ha-cha-cha through every blurt, nub, sag, pang, twitch, war, bloom of it, life as unlikely as a pelican, or a thunderclap, life's our tour of duty on our far-flung planets, our cage, our dole, our reverie
Have you arts? Do waves dash over your brain like tide rip along a rocky coast? Does your moon slide into the night's back pocket, just full when it begins to wane, so that all joy seems interim? Are you flummoxed by that millpond, deep within the atom, rippling out every star? even if your blood is quarried, I pray you well, and hope my prayer your tonic.
I sit at my desk now like a tiny proprietor, a cottage industry in every cell. Diversity is my middle name. My blood runs laps; I doubt yours does, but we share an abstract fever called thought, a common swelter of a sun. So, Beast, pause a moment, you are welcome here. I am life, and life loves life.
~~~~~ Catatan: Gambar di atas adalah Arecibo Message, pesan digital yang dikirimkan ke gugus bola M13 dari teleskop radio Arecibo di Puerto Rico (kalau pernah nonton film Contact, pasti kebayang kayak gimana heheheh) dan terkenal sebagai usaha umat manusia berkomunikasi dengan makhluk luar angkasa (E.T). Gambar diperoleh dari news.cornell.edu.
Selama satu dekade terakhir telah ditemukan 270 sistem keplanetan di luar Tata Surya (exoplanet). Sebagian besar planet-planet ini berupa planet gas dan bermassa kurang lebih setara dengan Jupiter – bahkan lebih. Belakangan juga ditemukan planet yang lebih kecil. Massanya setidaknya 10 kali massa Bumi yang kemudian disebut sebagai Bumi-super (super-Earth). Istilah super-Bumi sering digunakan untuk menunjuk planet bermassa 2-10 kali massa Bumi. Penggunaan istilah ini agak rancu karena menyiratkan bahwa planet yang demikian berupa batuan dan massa menjadi satu-satunya pembeda dengan Bumi. Namun, planet yang akan menjadi objek pembahasan dalam tulisan ini sangat mungkin berupa icy planet dengan komposisi yang berbeda sama sekali dari komposisi Bumi.
Suatu sore D mengurus tanaman-tanaman pot di teras atas kosnya. R, teman kosnya, kemudian nimbrung. Bukan membantu, melainkan melihat-lihat dan memberi usul ini itu. Perlu diketahui, R ini pernah dititipi menyirami tanaman-tanaman milik D ketika D pulang kampung untuk beberapa waktu. Tak hanya menyiram, R menyempatkan diri untuk menyingkirkan daun-daun yang sudah kering dan menggemburkan tanah.
Ada yang menggelitik benak R soal tanaman-tanaman tadi. Lalu, dia pun bertanya pada D R : Mbak, kenapa sih tanamannya nggak ada yang jenis berbunga-bunga? Kan monoton... hijau melulu. D : Kalau yang bisa berbunga perlu banyak sinar matahari sedangkan di sini kan nggak dapat banyak sinar matahari. R : Oooo.... Yang itu juga nggak berbunga? (menunjuk tanaman merambat berdaun kecil-kecil bergerigi seperti daun strawberry) D : Nggak... R : Tanaman obat ya? D : Bukan. Itu gulma. R : Hah??!! Ngapain dipelihara??? Sial, padahal sudah terlanjur aku sirami dan aku rapihin biar nggak membelit tanaman di dekatnya.... D : Hahahahahahahahahahahahaha. R : (Dalam hati) Kayak Kariage deeeh.... ~~~~~ Catatan: Kariage Kun adalah komik strip karangan Masashi Ueda (pengarang Kobo Chan). Tokoh utama komik ini tentu saja Kariage, seorang pemuda yang bekerja di PT Honnyara. Karakternya jahil, pendendam, dan jorok. Jorok dalam pengertian denotasi dan konotasi. Siapapun bisa menjadi korban kejahilannya, tanpa kecuali direktur perusahaan tempat dia bekerja. Yang sering menjadi korban adalah Pak Kepala Bagian. Walau begitu mereka tetap akrab. Kejahilan Kariage seringkali muncul untuk membalas komentar atau perlakuan orang padanya. Kadang-kadang komik ini juga menyentil perilaku masyarakat.
Setiap hari kampus-kos saya tempuh dengan jalan kaki karena jaraknya tidak lebih dari 1 km. Dekat banget lah pokokna. Kos saya di wilayah simpang Pasar Dago (tapi bukan yang di belakang McD yaaaa hahahahaha). Nah, menyeberangi simpang Dago - dari arah manapun - merupakan tantangan tersendiri. Susah banget. Seakan tidak ada kesempatan yang cukup untuk pejalan kaki menyeberang jalan dengan tenang dan aman. Dulu saya juga takut kalau menyeberang di situ. Lama-lama jadi berani juga.
 Sudah jamak rasanya menemui zebra cross yang semestinya digunakan menyeberang malah "ditongkrongi" kendaraan ketika lampu lalu lintas menyala merah. Tidak memberi ruang yang nyaman dan aman untuk pejalan kaki. Bete kan. Terus pejalan kaki disuruh nyebrang di mana gitu loh. Jadinya berkelit di antara sepeda motor, angkot, mobil.... atau seperti yang tampak pada foto.
Hari ini saya lewat persimpangan yang sama. Ketika hendak menyeberang dari trotoar di depan McD ke trotoar di samping Tsu Chi (?), kendaraan-kendaraan di sisi kanan saya masih berhenti. Zebra cross, lagi-lagi, ditrongkongi satu angkot Cicaheum-Ciroyom dan sekitar tiga atau empat sepeda motor (saya nggak ngitung la ya...). Nah, sesaat sebelum sampai di pembatas jalan saya sudah diklaksoni (dari angkot?). Saya kira lampu sudah berganti hijau. Maka saya buru-buru meneruskan penyeberangan saya dengan sedikit rasa bersalah. Ada kesal juga sih. "Kan masih jalan," gerutu saya dalam hati. Ketika sampai di seberang jalan, saya sempat noleh ke belakang ke arah persimpangan. Angkot tadi sudah melaju melintasi persimpangan! Saya lihat lampu masih menyala merah. Ouh! Gerutu dan sesal berubah menjadi nafsu. Nafsu amarah maksudnya. Rasanya pengen melempar sandal ke supir angot tadi. Tapi apa daya angkotnya sudah jauh dan sandal yang saya kenakan cuma sandal jepit. Kalau buat nyambit kan ga kerasa. Eh, lumayan juga kali ya... Aduuh, pokoknya masih sebal, sebal, sebaaaaaalllll. Enak aja nglaksoni orang yang lagi jalan dan ternyata lampu masih menyala merah! Masih hak pejalan kaki buat menyeberang atuh! ~~~~~ Cat: gambar diambil tanpa permisi dari PR.
***************************** Minal aidzin wal faidzin Mohon maaf lahir dan batin Taqabballaahu minnaa wa minkum *****************************
Setelah mati-matian menyelesaikan draft tesis selama 3 malam, perjuangan belum berhenti. Ada sesuatu yang harus dikerjakan lagi dengan tabel-tabel dan grafik-grafik. Analisis lagi. Ditemani seekor kucing pemalas yang haus dibelai (dasar kucing sombong tapi manja!).
Belum lagi berjuang melawan kemalasan. Baru pertama kali ini menghadapi deadline dengan kemalasan. Opo tumon? Saya sendiri juga heran. Waktu terus melaju dan tahu-tahu hari Rabu menjelang. Hiyeeeeeeee, sehari menjelang sidang. Deg-degan. Ketika latihan sidang banyak yang terlupakan. Siapa suruh nggak belajar kan?
Kamis, jam 9. Ruang seminar 2 masih lengang. Hanya segelintir orang. Beberapa yang telah menghadiri sidang pagi tadi jam 8.
Dengan slide berlatar belakang hijau, pekerjaan saya paparkan. Argumen demi argumen. Bagai memutar pita rekaman. Pun masih belepotan. Satu jam berlalu kemudian. Juri keluar ruangan. Tak berapa lama mereka datang. Boleh lulus saya dinyatakan. Lho, sebenarnya tidak boleh kah? :p Ya sudahlah, pokoknya sudah selesai. Jenjang S2 sudah terlampaui. Lalu entah apalagi nanti. Dengan demikian, saya sudah bisa nonton dengan khusyuk Hanazakari no Kimitachi e malam nanti <LOL> ~~~~~ Kenapa gambarnya Mark Twain? Ya biarin :p
 | Taman | Sep 7, '07 3:05 AM for everyone |
Beberapa bulan lalu taman - kalau boleh disebut begitu - di antara sisi utara dan selatan gedung labtek 3 dirombak. Diganti semua rumput dan tanaman yang ada, termasuk cemara yang tingginya sudah melampaui gedung berlantai 4 ini. Bagi saya tidak ada yang istimewa dengan penataannya. Biasa saja. Kesannya malah asal. Nah, kan, begitu tanaman-tanaman itu bertumbuh semakin subur, barulah terasa bahwa terlalu rapat tanaman-tanaman tadi diletakkan. Yah, sebenarnya lebih mending dibandingkan sebelumnya yang lebih banyak semaknya daripada tanaman hias. Rumput yang tumbuh pun rumput liar.
Akhir-akhir ini, kalau saya lewat dekat taman itu, saya membayangkan ada rusa merumput di sana atau sekedar duduk-duduk dengan kelompoknya. Ya, seperti di Kebun Raya Bogor atau di Nara, Jepang. Saya belum pernah pergi ke Nara, tapi begitu yang pernah saya lihat di foto sebuah majalah tentang Jepang heheh. Terbayang pula kelinci-kelinci yang berlompatan dan bersembunyi di antara kerimbunan tanaman. Komentar dari teman-teman demi mengetahui racauan saya: "Kalau di labtek 3 ada rusa dan kelinci maka isi labtek 5,6 isinya monyet dan kuda nil :))" "Sekalian saja harimau! Heuheuheu... memangnya kebun binatang ya. Tapi, memang "nggak banget" deh saya ini: membayangkan yang tidak-tidak :p Euh, tapi begitu deh. Lihat saja. Foto-foto berikut diambil dari lantai 4 gedung Labtek 3. Enaknya dikasih rusa, kelinci, atau....?
 
Ini salah satu efek nodame, efek setelah mengikuti komik, anime, dan dorama Nodame Cantabile. Apakah itu? Nonton resital piano. Penasaran seperti apa. Yap, malam minggu lalu saya isi dengan nonton resital piano oleh Alpin Limando. Tenang, tenang, belum di hall somename somewhere. Di auditorium CCF Bandung dengan tiket pelajar (Rp 10.000,00). Semula saya pikir, seperti dalam Nodame, ada dress code (baca: pakaian formal) untuk menonton resital. Tapi, ketika saya tanyakan pada teman yang saya anggap lebih tahu, dia cuma komentar, "di CCF ini, nyantai saja. Belum di hall kan?" Ya sudah. Saya setengah nurut. Kenapa saya bilang setengah? Karena masih takut salah kostum, saya tetap berkostum rapi (versi saya) meski belum bisa dikatakan formal: jeans dipadu tunik serta sepatu berhak. Ternyata teman saya benar 100%! Ya sudahlah nggak apa-apa. Nggak ngaruh ini :p
Jadi, Alpin, yang telah memenangi beberapa kompetisi piano dan tampil di sejumlah konser dan berkolaborasi dengan pianis dalam dan luar negeri, mengawali resitalnya dengan Ravael - Le Tombeau de Couperin. Prelude-Forlane-Rigaudon. Kemudian disusul dengan Beethoven - Sonata Op.28 in D Major (allegro, andante, scherzo-trio, rondo). Saya menduga pilihan ini untuk menunjukkan kemampuan teknik demi melihat kecepatan sekaligus gemulai jari Alpin menari di atas tuts piano. Murni dugaan karena saya tidak punya pengetahuan mengenai ini. Sama sekali tidak punya. Pada sesi intermission Alpin mempersembahkan berturut-turut Chopin - Ballade Op.23 in G Minor, Liszt - Lieberstraum, dan Chopin - Scherzo Op.31 in B-flat Minor. Nah, sekali lagi saya menduga mungkin itu favorit dia, terutama yang Chopin. Nggak tahu ya. Namanya juga dugaan. Bisa meleset banget tuh. Soalnya Chopin bikin jantungan. Nggak lagi denger pake kuping tapi juga jantung hikhikhik. Soalnya denyutan jantung serasa naik turun sesuai alunan musik. Sssssaaaaah. Nggak juga kali ya. Karena udah "merasuk" aja kali ya setelah 2 pemanasan di depan. Heuh, sayangnya beberapa saat menjelang Liszt usai terdengar dering telepon. Saya pikir saya salah dengar karena deringnya seperti telepon rumah. Tapi, makin lama makin keras. Orang-orang menggerutu. Untungnya tidak ada sepatu-sepatu berterbangan. Sudah diingatkan untuk me-non-aktifkan nada dering HP kok ya masih ada saja yang lupa. Suara pengumumannya memang nggak begitu jelas sih.
Well, saya nggak bisa berkomentar tentang musiknya sendiri karena, sekali lagi, saya nggak punya pengetahuan musik yang memadai. Apakah 1.5 jam melihat resital cukup berharga? Hmm, paling tidak saya sudah memenuhi rasa penasaran saya.
| |